Rabu, 26 September 2012

Percayalah Saya Baik-baik Saja

Merasa agak nggak terima, jengkel sekaligus sedih . . .


Semalam, dapat kabar Pakdhe dioprasi lagi. padahal baru seminggu yang lalu keluar dari Rumah Sakit. Aku langsung berinisiatif ingin kesana, soalnya yang menjaga beliau hanya sepupuku. Ingin kesana, setidaknya untuk teman ngobrol masku itu. Tapi kenapa nggak boleh? ini belum terlalu malam kan? aku masih berani kesana, toh besok aku ngajar sore berangkat agak sianganpun tak masalah. Lalu kenapa aku di larang kesana?

Teringat, ketika masih ngekos begitu mudahnya aku pergi keluar semalam apapun kemanapun tanpa harus izin. Dan sekarang ketika sudah kuputuskan untuk kembali ke rumah dengan konsekuensi harus mematuhi aturan rumah, Ok saya terima. Namun dalam situasi seperti ini . . . Aku ingin ke sana . .

Masih ingat Februari kemarin ketika Ayah sakit. Saat itu Pakdhe rutin menjenguk bahkan putranya yang juga ikut nemenin aku menjaga ayah. See, sekarang kondisinya berbalik apakah salah jika sekarang aku nemenin masku menjaga Ayahnya?

Dilarang karena kondisiku sendiri kurang baik. Ya!!! kondisi yang mana? saya sehat, saya bugar, saya kuat! Jangan lantaran dulu saya pernah sakit parah lalu seterusnya menganggap saya sakit-sakitan. Justru pikiran seperti itu yang akan membuatku sakit lagi. Tiap hari saya berusaha untuk mensugesti diri dan pikiran saya supaya selalu merasa sehat dan memang benar-benar sehat. Namun kata-kata itu, merontokkan segalanya. Jadi selama ini aku masih dianggap anak sakit.

Aku memang anak orang tuaku, sampai kapanpun aku akan menjadi anak ibu dan ayahku. Namun tolong percayai saya, saya bisa kok diberi tanggung jawab. Bu, Yah nikken sudah 21 tahun percaya sama nikken, nikken sehat!!!

Maaf Bu, Maaf ayah . . . Nikken memang merasa jengkel semalem . . . namun nikken tahu ada alasan kenapa Ibu dan Ayah melarang Nikken.

2 komentar: