Calon Penulis dan Penulis

“….nanti pulang dari sini kalo Nikken nulis pasti tulisannya jelek, gue jamin itu. Lalu kapan tulisannya bakal bagus? Kalau dia mau memperbaiki yang kurang bagus, mengedit yang kurang sesuai sehingga menjadi tulisan yang bagus….-RD”

Semangat Berani

"Lebih baik salah dari pada selamanya tidak tahu salah atau benar" -Jomblo

My Inpiration

"Imagine all the wonderful things that will never happen if you do not do them" -Up

Nikken Derek Saputri dan Derek Samtidar

"Akhir sebuah perjalanan merupakan awal dari perjalanan baru" -Wisuda Unnes Periode II tahun 2013

Bersama berbagi tawa canda

"Sahabat adalah keluarga yang kita pilih sendiri"

Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 Oktober 2014

Just a Friend

Menunggu
“Hallooo!!! Mel? Kamu di mana?”
“Di rumah, ada apa Jun?”
“Temenin aku pergi ya, ini aku udah di jalan lima menit lagi sampai rumah kamu, kamu siap-siap!!!”
“Tapi…bentar dulu Jun…..”
“Tuuuuuut, tuuutttt, tuuuuutttt…”
Kebiasan deh ini anak, semaunya sendiri. Nggak tahu apa kalau sore ini aku udah ada rencana. Huh!!
Itu tadi Arjuna, sahabatku sejak SMP. Orangnya baik, care sama temen, humoris, gampang bergaul, lumayan cakep juga sih hehehehe, yaaa pokoknya baiklah. Beruntung aku bisa jadi sahabatnya, tapi satu yang sering bikin aku sebel. Ya seperti itu tadi, suka seenaknya. Minta tolong tapi nggak lihat-lihat kondisi orang yang mau dimintai tolong. Cuman, entah mengapa aku selalu nggak bisa nolak apapun ajakan dari dia.
Nah, itu dia sudah nyampe. Jangan ditanya aku tahu dari mana? Aku udah belasan tahun sahabat sama dia, jadi udah hapal banget deh bau-baunya biarpun jaraknya sekilometer jauhnya. Hahahahaha, ngarang!
“Mellaaaa!!!!!” Juna berteriak. Ini adalah kebiasaan setiap kali kita bertemu. Biarpun berisik dan malu-maluin kalo dilihat orang, kadang aku juga kangen dengan teriakan ini.
“Ada apa?”
“Ayo Mel, temenin aku yuk, ada hal penting nih, dan sepertinya Cuma kamu yang bisa nolongin aku” Kebiasaan deh, ini anak kalau ngerayu sambil ngedip-ngedipin mata sok manis. Kalau udah kaya gini apapun yang aku katakan untuk menolak nggak bakal mempan.
“Iya deh, iya… bentar aku ambil tas dulu”
“Yeee, makasih Mela. Kamu memang sahabat aku yang paling baik”
Biarpun kadang seperti anak-anak tapi sejatinya dia dewasa banget. Kalau aku ada masalah apapun itu, dia adalah orang pertama yang pasang badan buat aku dan selalu ngasih solusi-solusi yang bijak, dan terbukti kok solusi dari dia selalu tepat. Sahabatku satu ini memang the best banget, makanya aku sayang banget sama dia.
---
Sekarang aku udah di atas motor, dibonceng Juna. Aku belum tahu bakal bawa kemana dan belum tahu juga bakal dimintai tolong apa sama Juna di sana. Selama perjalanan nggak ada hentinya deh ini orang cerita, dan selalu ceritanya berhasil membuatku tertawa. Apapun ceritanya kalau yang cerita si Juna pasti jadinya lucu. Dia memang paling bisa ngilangin bosenku.
“Jadi mau kemana kita trus mau ngapain?” tanyaku sedikit penasaran.
“Ehmmmm, jadi gini Mel, 3 hari lagi kan Selly ultah” Selly adalah pacarnya Juna. Udah setahun ini mereka pacaran.
Aneh rasanya mendengar nama itu tiba-tiba rasanya beda. Ada sesuatu yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Yahhh, pokoknya gitu deh, senyumpun akhirnya agak berat. Misalnya di transliterasi jadinya paling gini $%$#@(*&*^%jhftdfstyf(*&*&567vfdr......dst ehhehehehe begitulah.

Sabtu, 12 April 2014

Maaf Aku Ingkar Janji

“Waow!!! Keren banget!!!” Fendi memelukku, aku merasa canggung. Tak menyangka reaksinya seperti ini.
“Oh, emmm maaf” Fendi melepaskan pelukannya sekarang dia genggam tanganku. “ Terimakasih ya, gagasan kamu brilian banget. Habis ini langsung aku presentasiin ke bos aku, kalau disetujui ide kamu ini bakal terealisasi di event bulan depan”.

Mata Fendi berbinar kesenangan. Aku hanya tersenyum, turut bahagia karena sahabat karibku sejak SMA ini merasa senang. Iya Fendi adalah sahabatku bahkan sudah seperti keluarga. Meskipun sekarang kami udah bukan pelajar lagi tapi kami tetap bersahabat. Inget banget waktu pertama kali ketemu dengannya, saat itu MOS SMA ban sepedaku bocor di tengah jalan saat mau ke sekolah, lalu ketemu deh sama Fendi. Dia bantuin aku nyari tambal ban terus ke sekolah bareng. Sampai sekolah telat dong, nah sekali lagi dia bantuin aku. Saat dihukum senior gara-gara telat dia minta biar separuh dari hukumanku dia yang nglaksanain. Salut deh dengan kebaikannya, padahal aku baru kenal.

“Huh!!!!” Fendi meniup mukaku “Ngalamun aja”
“Eh, iya maaf. Tadi kamu bilang apa?” tiupannya membuatku kaget membuatku jadi canggung, cara itu memang sering dilakukannya untuk menyadarkanku dari lamunan.
“aku mau nemuin bos aku dulu, kamu pulang sendiri bisa kan? Aku udah nggak sabar mresentasiin ide kamu ini ke bosku, aku yakin dia pasti setuju”

Kamis, 10 April 2014

Titik Fokus

Fokus pada satu titik. Kamu. Ketika tawa lepas terlontar ikhlas, saat itu rasa lega menyeruak di dada. Hemmmm, kamu baik-baik saja.
Di tengah sebuah pusat perbelanjaan. Tejadi hiruk pikuk beberapa orang berseragam sama, sepertinya itu panitianya. Iya betul mereka adalah panitia sebuah event bulanan di Mal itu. Kali ini yang akan diselenggarakan adalah Pameran Buku Nasional. Stand-stand buku dari berbagai penerbit sudah siap. Beberapa pengunjung juga sudah ada yang iseng melihat-lihat koleksi buku yang dipajang, meskipun belum dibuka acaranya.
Di sudut yang lain, ada sebuah panggung kecil sederhana bertuliskan nama evennya. Di depan panggung itu seduah siap deretan kursi yang sebagian sudah terisi oleh anak-anak berbaju adat nusantara. Mereka adalah model cilik yang siap menunjukkan kebolehannya setelah acara pembukaan nanti.
Dari lantai dua ini aku memperhatikan semuanya. Ekspresi-ekspresi mereka, baik itu panitia, penjaga stand, pengunjung, lebih-lebih peserta fashion show cilik itu, mereka semua lucu-lucu. Iya aku memang hobi memperhatikan ekspresi orang lain. Ada satu keunikan tersendiri di balik ekspresi mereka yang kemudian akan membuatku tersenyum-senyum sendiri.
“krrrriiiiiinnnnngggg!!!! Kriiiingggggg!!!!”
“Halo?”
“Kenapa nggak turun?”

Rabu, 19 Februari 2014

Sarjana Muda

Sore itu seperti biasanya Nina menyapu halaman. Menggunakan sapu lidi dia menggiring daun-daun kering supaya berkumpul di tengah halaman. Telinganya sengaja disumbat dengan earphone yang tersambung dengan handphone di sakunya. Dari sana terdengar lagu-lagu favoritnya, dengan begitu dia dapat menikmati pekerjaan rumahnya yang kadang-kadang dia malas mengerjakannya.
Nina terlihat manggut-manggut mengikuti beat musik, dia terlihat menikmatinya. Samar-samar terdengar suaranya ikut bernyanyi. Tak terasa hampir seluruh daun sudah terkumpul di tengah. Sudah saatnya dipindahkan ke bak sampah.
“Brukk!!!!!” Sapu dan pengki yang Nina pegang terjatuh. Pandangannya lurus ke depan, kosong. Matanya berkaca-kaca.
Berjalan seorang pria muda, dengan jaket lusuh di pundaknya. Di sela bibir tampak mengering, terselip sebatang rumput. Jelas menatap awan berarak, wajah murung semakin terlihat. Dengan langkah gontai tak terarah, keringat bercampur debu jalanan.
Suara Iwan Fals mendendangkan Sarjana Muda merasuk lurus ke telinga Nina. Seakan dipaksa mengaca, dia tertunduk memandangi daun-daun di kakinya. Air mata mengalir entah di dari mana sumbernya.