Calon Penulis dan Penulis

“….nanti pulang dari sini kalo Nikken nulis pasti tulisannya jelek, gue jamin itu. Lalu kapan tulisannya bakal bagus? Kalau dia mau memperbaiki yang kurang bagus, mengedit yang kurang sesuai sehingga menjadi tulisan yang bagus….-RD”

Semangat Berani

"Lebih baik salah dari pada selamanya tidak tahu salah atau benar" -Jomblo

My Inpiration

"Imagine all the wonderful things that will never happen if you do not do them" -Up

Nikken Derek Saputri dan Derek Samtidar

"Akhir sebuah perjalanan merupakan awal dari perjalanan baru" -Wisuda Unnes Periode II tahun 2013

Bersama berbagi tawa canda

"Sahabat adalah keluarga yang kita pilih sendiri"

Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 Maret 2015

Nunggu (Part II)

Jumat tanggal 13. Menurut kebudayaan orang barat hari ini adalah hari yang penuh kesialan. Seperti kamu tahu lah, mereka menganggap hari Jumat adalah hari keramat sedangkan angka 13 adalah angka sial. Makanya di gedung-gedung jarang ada lantai 13, bahkan jika dalam nomor urut mereka enggan mengikutkan angka tersebut. Heran deh apa sih salah tu angka sampai dikucilkan sampai sedemikian hingga.

Perpaduan antara keduanya, yaitu Hari Jumat yang bertepatan dengan tanggal 13, seperti hari ini. Coba cek kalender masing-masing, sekarang hari Jumat 13 Maret 2015. Hari ini adalah hari yang sangat mencekam menurut versi orang barat. Mereka percaya bahwa akan banyak hantu-hantu bergentayangan ke sana ke mari dan kesialan-kesialan akan terjadi hari ini. Makanya dalam sehari ini mereka akan diliputi rasa parno, bagi yang mempercayainya. Kalau nggak percaya ya, santai-santai saja.
Ilustrasi
Udah ah, ngomongin hari Jumatnya.
Topik hari ini masih ada hubungannya dengan postingan yang sebelumnya. Judulnya aja Nunggu (Part II) masih dalam situasi menunggui speserta didik mengikuti Penjajagan Ujian Nasional (PUN) yang ketiga. Mata pelajaran yang dijajakan pagi ini adalah Bahasa Inggris. Termasuk mata pelajaran yang cukup disegani oleh siswa. Tanpa alfa link tanpa kamus entah mereka bisa mengerjakannya dengan benar atau hanya dengan prisnsip kedengarannya enak yang mana itu jawabannya. Hehehehe, itu sih prinsipku dulu waktu ngerjain Tes bahasa Inggris.

Sedikit cerita ya…
Jadi dari dulu aku memang nggak terlalu pandai dalam pelajaran bahasa asing, termasuk bahasa Inggris. Perbendaharaan kosa kata juga jauh di bawah teman-teman. Apa lagi, as you know di bahasa Inggris ada aturan-aturan pembentukan kalimat menurut waktunya bahkan itu ada 16 pola. Semakin sempurna deh membuat pusing pala barby. Nah, dalam soal kadang kita di suruh untuk melengkapi kalimat rumpang entah itu dengan to be-nya, kata kerjanya, atau apalah-apalah yang jelas disesuaikan dengan konteks apakah itu bentuknya present, past atau future. Entah dapat ilham dari mana? Teori ini selalu aku gunain, dan ajaibnya lebih sering bener. Ya, itu tadi kedengarannya enak mana? Jadi di setiap pilihan aku coba masukkan ke titik-titik, aku baca berkali-kali, aku rasakan dengan seksama, kira-kira enak mana ya kedengarannya? Untuk memastikan kadang aku mengulang treatment ini sampai tiga kali. Kalau udah yakin ya asal di silang aja di lembar jawab. Tapi aku nggak nganjurin kalian untuk melakukan ini ya, butuh kemampuan khusus untuk melakukannya.

Oh iya, kemarin kan aku udah janji bakal nulis 3 fase Ujian dari sisi pengawas. Bakal aku beberin nih semuanya. Tapi jangan diketawain ya…. Janji!!!

Fase pertama, terjadi pada saat sepertiga waktu ujian yang pertama.
Masih ingat dong, dalam fase ini siswanya gimana? Yups betul banget kalau siswanya masih tenang dan khusuk dengan pekerjaan masing-masing. Pengawasnya juga nggak kalah sibuknya, sibuk nulis daftar berita acara dan mengedarkan daftar hadir. Setelah itu mereka (karena biasanya lebih dari satu orang) coba memperhatikan peserta ujian di depannya yang tentu saja khusuk mengerjakan ujian. Belum ada pembicaraan antara kedua pengawas tersebut. Hal ini bisa karena memang ingin fokus mengawasi peserta atau memang belum ada bahan untuk membuka obrolan.

Fase kedua, terjadi saat sepertiga waktu ujian yang kedua.
Pada fase ini siswa sudah mulai gelisah, iya kan? mulai mencoba mengirimkan sinyal SOS kepada teman di sekeliling dan sialnya di balas dengan sinyal SOS yang sama. Intinya mulai nggak tenang mereka. Ketidaktenangan ini juga dirasakan oleh pengawas. Pada fase ini biasanya pengawas mulai menguap, mulai mengucek mata, jika satu sama lain antar pengawas tidak sengaja melakukan hal yang sama dan kemudian saling berpandangan… *cieeee……. Biasanya saling tersenyum dan kemudian ngobrol deh. Akhirnya ada juga bahan obrolan. Sedikit banyak bisa mengobati rasa bosan di ruang ujian. Kalau pengawas sudah ngobrol di saat itulah peserta ujian merasa senang.

Fase ketiga, terjadi saat sepertiga waktu ujian yang terakhir.
Kelas semakin lama semakin tidak kondusif. Antar peserta saling melemparkan bahasa isyarat, entah itu dengan bahasa tangan atau bahasa bibir. Jujur saat itu mereka tampak begitu lucu, bahkan ketika isyaratnya tak direspon oleh kawannya mereka kesal dan berteriak, berteriaknya pun hanya dengan bahasa bibir. Hahaha, lucu sekali. Itulah sebetulnya yang menjadi hiburan bagi pengawas. Semakin lama situasi kelas semakin beringas atau tak terkendali. Peserta ujian semakin ramai mendekati waktu ujian yang tinggal beberapa menit lagi. Biasanya pengawas mulai berdiri dari singgasana dan mulai berkeliling untuk menenangkan jika tidak mempan mulai dengan teguran verbal yang pertama, jika mentok tetep rame harus ada tindakan. Gebrak meja dan katakana DIAAAMMM!!! Yang sudah selesai silakan keluar. Jurus terakhir ini biasanya sangat ampuh sehingga ruang ujian hening kembali.  Hingga akhirnya bel tanda selesai waktu mengerjakan ujian berkumandang.

ya, begitulah. Belum terlalu mendetail sih, soalnya aku sendiri juga baru beberapa kali menjadi pengawas ujian. Jadi belum paham betul. Nulis berita acara aja masih sering salah. Ups!!
Oke deh, terimakasih kepada kamu yang udah rela menyempatkan waktu membaca postingan-postingan nggak jelasku ini. Jangan kapok baca ya, inshaa Allah bakal rutin postingannya.
Jangan lupa klik button “Join this Site” dengan begitu kamu nggak akan ketinggalan tulisan-tulisan aku yang lainnya. 

Sampai jumpa di postingan selanjutnya. Caw!!!

Rabu, 11 Maret 2015

Nunggu

Kebanyakan orang setuju bahwa menunggu adalah kegiatan yang membosankan, menjemukan, nge-bete-in, malesi, bikin emosi, dan… dan… apa lagi ya? Pokoknya yang jelek-jelek lah.
Termasuk nunggu postingan terbaru aku. Hihihihihihi… PLAKKKK!!!!!! Aduhhhh!!!!

Iye, iye… aku minta maaf *sambil ngusap-ngusap pipi, pura-puranya sakit padahal enggak. Jadi gini kemarin-kemarin itu emang lagi disibukkan dengan pekerjaan. Tiba-tiba aja tugas tergelontor begitu saja minta untuk diselesein, sampai-sampai nggak sempet bercengkrama dengan kamu melalui postingan nggak jelas maksud dan mutunya. Selain itu gara-gara tugas ini juga proyek buat novelnya juga ikutan mandeg sesaat *baca 1 bulan. Huft… makanya sebisa mungkin aku selesaikan tugasku ini secepat aku bisa supaya bisa curi-curi waktu untuk memposting sesuatu. Seperti di pagi sekarang ini.

Sedikir gambaran aja nih Siswa yang lagi ujian praktik
Pagi yang indah dengan matahari bersinah cerah. Kamis 12 Maret 2015 di sekolahan sedang dilangsungkan Penjajakan Ujian Nasional (PUN) untuk yang ketigakalinya. Kalau jaman-jaman kita sih nyebutnya Try Out (TO). Tray itu mencoba, Out itu keluar jadi Try Out artinya mencoba keluar. Masak mau keluar kok coba-coba, ckckckckckck.

Berkenaan dengan judul yang telah aku pampang nyata di atas “NUNGGU” tugasku pagi ini adalah menunggui peserta didik peserta PUN ke-3 ini, di ruang III juga dengan mata pelajaran yang dijajakan adalah Matematika. Sebuah mata pelajaran yang lebih mengerikan dari penampakan hantu. Karena ini tugas, jadi mau nggak mau harus dilaksanakan sebaik-baiknya kan? meskipun, kembali lagi menunggu merupakan aktivitas yang membosankan, menjemukan dan… dan… dan…. Sebagainya. Tapi kalau boleh jujur sebagai siswa mereka juga mengalami hal yang sama.

Kok bisa?
Keliatan, kali dari raut wajah mereka. Pada lemah, letih, lesu, lunglay tak berdaya hehehehe udah kaya kurang darah aja nih. Tapi betul kok. Wajah mereka seakan kuran formalin jadi tampak nggak seger gitu. Entah ini lantaran mereka belum mandi atau soal matematika yang terlalu tidak bersahabat bagi mereka. Heran apasih yang mereka lakukan slalu aja ada persoalan yang harus diselesaikan antara mereka dan matematika *Lhoh!

Untuk mencapai sebuah kesuksesan latihan memang bagus, perlu malahan. Seperti hari ini sekolah menyelenggarakan PUN, sebelum itu juga ada pemadatan jam pelajaran khusus untuk mata pelajaran yang di Ujikan secara Nasional. Sebuah usaha yang baik, memang. Tapi entah mengapa justru ini menjadikan siswa merasa tertekan dan seolah-olah Ujian Nasioan (UN) menjadi momok menakutkan bagi mereka sehingga untuk menhadapinya perlu adanya persiapan dan bekal yang banyak. Nah, kadang di situ saya merasa sedih.

anak-anak yang butuh F5
Iya, sedih. Ini betulan sedih. Sedih ketika melihat anak-anakku *berasa tua deh, terserahlah! Kehilangan semangatnya untuk belajar demi kelulusan mereka sendiri. Kebosanan mereka sangat kentara sekali ketika mereka bukannya belajar sebelum PUN malah bermain sepak bola di lapangan hanya untuk menyegarkan otak dan pikiran mereka. Kalau PC mungkin cukup dengan menekan tombol F5, tapi kalau manusia perlu aktivitas-aktivitas menyenangkan yang lain dari aktivitas rutin mereka sehari-hari.

Balik lagi ya, ke soal tunggu menunggu. Hehehe ceritanya malah sampai ngalor ngidul nggak jelas gini *emang tulisanku belum pernah jelas kan?

Selama ini, sudah banyak ujian-ujian yang aku lalui. Maksudnya ujian tertulis ya, di mana aku beserta dengan teman-teman sekelas dikumpulkan dalam kelas, tidak boleh membawa apapun kecuali alat tulis dan nomor ujian, lalu menjawab pertanyaan di lembar jawab yang disediakan. Entah itu sebagai peserta didik, maupun sekarang sebagai guru. Dari sekian banyak ujian itu aku menyimpulkan ada 3 fase saat ujian, baik itu di sisi Peserta Ujian, maupun dari sisi pengawas.

Untuk yang pertama dari sisi Peserta:
Sesi pertama, ini terjadi sepertiga waktu ujian yang pertama. Peserta baru saja mendapatkan soal dan lembar jawab. Mereka terlihat sibuk mengisi identitas dengan lengkap. Mengeceknya kembali sampai benar-benar yakin sudah benar atau tidak. Untuk yang sering lupa dengan identitasnya biasanya membutuhkan waktu yang agak lama. Lanjut! Setelah itu mereka mulai membaca soal demi soal secara sekilas. Ini bertujuan memprediksi seberapa sulitkah soal yang akan dihadapi. Kalau wajah mereka tersenyum penuh keyakinan dan manggut-manggut sendiri berarti anak itu sudah belajar dan apa yang dipelajarinya keluar di soal. Tapi kalau ada peserta didik yang tersenyum cenderung cengengesan sambil manggut-manggut berarti contekan yang telah disiapkan bakal keluar di jawaban. Tapi kalau muka mereka datar-datar aja, berarti ya dia nggak bisa berekspresi. Hanya dia dan Tuhan yang tahu apa yang dia rasakan. Jadi di Sesi Pertama ini rata-rata peserta ujian khusuk dengan lembar jawabnya masing-masing. Belum ada yang coba tolah-toleh, paling ya mendongak ke atas sambil berharap ada jawaban turun dari langit-langit kelas. Intinya suasana hening dan kondusif. Saking sepinya suara detik jam aja bisa terdengar seperti suara sound saat ada acara hajatan di desa-desa. Sssstttttt!!!! Jangan berisik!!!!!

Sesi kedua, ini terjadi saat sepertiga waktu ujian yang kedua. Ketenangan peserta mulai terusik. Ketika mulai menemukan soal yang jawabannya belum dipelajari semalam, atau soal yang jawabannya nggak ikut di catet di kertas contekan. Saat seperti ini, anak yang rajin belajar semakin rajin mendongak keatas dengan sedikit cemas, masih dengan harapan ada jawaban turun dari sana. Kemudian yang membawa contekan mulai toleh kanan, toleh kiri, menjulur ke depan dan menjulur ke kiri. Selain butuh kelenturan tubuh yang maksimal, kegiatan ini juga membutuhkan ketajaman dalam melihat, iya melihat jawaban milik temanya. Jangan pake mata ikan, pakailah mata elang. Satu lagi, kalau ada yang nggak berekspresi berarti dia… ya memang nggak bisa berekspresi dengan kata lain pasrah aja gitu. Hehehe…. Saat-saat seperti ini sering terdengar kasak-kusuk diantara peserta Ujian. Detak jam dinding tersaingi. Mulai ada keributan kecil-kecilan.

Sesi ketiga, terjadi saat sepertiga paruh waktu ujian yang terakhir. Mulai timbul kepanikan nih. Yang tadi mendongak ke atas lehernya jadi keram gara-gara kelamaan ndangak dan tak kunjung membuahkan jawaban. Kemudian dia beralih mulai menjulur-julurkan badan ke depan dan ke belakang, menolehkan kepala ke kanan dan kekiri dengan daya akomodasi mata super maksimum. Berharap jawaban teman terbaca dan mengkopipastekan ke lembar jawabnya. Sedangkan yang tadinya tolah-toleh dan menjulur-julurkan badan, beralih mendongak keatas. Tidak berlangsung lama, karena sama saja tidak mebuahkan hasil akhirnya dia melakukan barter. Barter kertas contekan. Memilih dan memilah sobekan-sobekan kertas nan kusut dengan tulisan yang lebih mirip resep dokter, siapa tau ada jawaban di sana. Kemudian nasib yang tanpa ekspresi gimana? Hahaha, dia tetap saja tak berekspresi. Justru dia menarik diri dari hingar bingar keributan di ruang ujian. Dia malah tidur. Biasanya kondisi akan semakin ramai saat memasuki 15 menit terakhir, di situlah pengawas mulai teratur mengingatkan untuk tenang, tenang dan tenang. Kalau nggak, sepatu bakal melayang. Hihihihihi, serem kali ah kalau di tengah-tengah keributan siswa tiba-tiba sepatu mereka melayang-layang di udara. Huuuuuu, horror.

Semua hiruk pikuk berakhir ketika ditandai dengan suara Bel tiga kali. Itu artinya seluruh peserta ujian harus keluar ruang karena waktu ujian selesai. Jangan lupa resep dokter yang tadi dibawa keluar, jangan sampai ketahuan pengawas dan jadi masalah di meja guru BP.

Yups, begitulah analisisku. Mungkin dari teman-teman ada yang mengalami sama sepertiku atau mungkin juga berbeda. Namuanya juga beda sekolahan pasti ya nggak akan sama pengalamannya. Iya kan????

Karena, waktu ujian yang aku tungguin udah mau habis. Untuk tulisan 3 fase Ujian dari sisi pengawas besok lagi ya….
Ok.ok tetap semangat dan rajin belajar!! Semangat untuk yang Ujian. Bertindaklah jujur dan jangan takut untuk salah, namanya juga lagi belajar iya kan?
Jangan lupa klik button “Join this Site” dengan begitu kamu nggak akan ketinggalan tulisan-tulisan aku yang lainnya.
Sampai ketemu, di postingan selanjutnya. Caw!!!

Senin, 09 Februari 2015

Tombol Shift dan Capslock dari Pak Budhi

Sebenarnya tulisan yang kali ini udah lama pengen aku buat. Namun entah mengapa virus kemalasan menggelayut di badan dan pikiran sehingga saat ini harus benar-benar memaksa diri supaya benar-benar hilang virusnya dan tulisannya benar-benar jadi.

Jujur stelah paragraph pertama di atas jadi, laptop aku matikan dan aku pulang. Niatnya di rumah akan melanjutkan namun apa daya godaan kasur bantet yang nggak terlalu empuk itu terlalu menggiurkan. Akhirnya aku terlelap hingga magrib. Selamat berbuka puasa!!!

Saat ini, sembari menunggui peserta Penjajakan Ujian Nasional (PUN) aku coba merangkai kata demi kata lagi guna menyelesaikan misi ini. Kebetulan sekali yang aku tunggui ini adalah anak SMP. Jadi teringat 9 tahun yang lalu aku ada di posisi mereka. Kelas 3 SMP (sekarang jadi kelas IX) adalah masa yang penuh perjuangan. tapi, tunggu dulu bukan ini yang akan aku ceritakan. Meskipun Ujian Nasional (UN) selalu menarik untuk diperbincangkan dan diperdebatkan.

Cerita yang akan aku selesaikan hari ini masih ada kaitannya dengan masa-masa SMP. Bukan soal cinta pertama atau soal melewati masa puber dengan selamat, melainkan tentang seorang guru TIK. Beliau bernama Pak Pratomo Budhi Wahono biasa di panggil Pak Budhi. Jika sekarang ini aku begitu lincahnya mengoperasikan computer maupun laptop, salah satunya adalah berkat jasa beliau. Iya, saat itu computer adalah barang teramat mewah yang mungkin bagi keluargaku belum tentu bisa terbeli. Namun, rasa keingintahuanku yang besar tentang teknologi, membuatku selalu bersemangat untuk mengikuti pelajaran tambahan TIK. Waktu itu belum masuk dalam kurikulum pembelajaran hanya sebatas les computer yang dilaksanakan sepulang sekolah.

Guru yang mengampu TIK sebenarnya ada 2. Bentar-bentar aku ingat-ingat dulu namanya…… yang satu Pak Budhi dan yang satunya lagi adalah Pak Sukito (namanya nggak boleh disingkat katanya). Tapi khusus kelasku lebih sering ditemani oleh Pak Budhi.

Program yang pertama kali kami pelajari adalah Ms. Word. Instruksi yang biasanya diberikan adalah seperti ini, “Anak-anak sekarang tekan tombol power pada monitor, lalu tombol Power yang ada di CPU” biasanya setelah ini lampu indikator pada CPU akan berkedip biru dan merah bergantian. Kalau sudah begitu biasanya kami mulai merasa girang dan takjub (wajar anak desa baru lihat computer). Setelah itu instruksi dilanjutkan.
“Tunggu dulu jangan diapa-apain, jangan sentuh apa-apa” peringatan dari Pak Budhi yang seketika membuat kami hanya terpaku pada monitor yang mulai jelas menampkkan beberapa icon. Proses scaning otomatis dari smadav selesai, biasanya saat itulah Pak Budhi melanjutkan instruksinya lagi.
“Setelah tulisan Smadavnya hilang, pegang mouse, arahkan tanda panah kecil ke tulisan start di pojok kiri bawah” harap maklum, pada tahap ini kami seperti bayi yang baru belajar jalan harus dituntun selangkah demi selangkah.
“Kalau sudah…!!!” Pak Budhi melanjutkan “Klik kiri, setelah itu pilih Ms. Word dan klik kiri sekali lagi” kami yang memang berasa seperti bayi dan takut melakukan kesalahan hanya nurut-nurut aja dengan petunjuk beliau. Bahkan kalau harus guling-guling di lantai agar komputernya nyala mungkin kami akan melakukannya.

Satu persatu layar monitor menampakkan lembar kertas putih kosong. Biasanya prosesi dari awal menekan tombol power hingga kertas putih itu Nampak di monitor menghabiskan waktu 30 menit. Huft! Kalau dipikir-pikir perjalanan yang terlalu panjang kalau hanya sekadar Ms. Word tujuannya. Tapi, kembali lagi, namanya juga anak desa yang baru belajar mengoperasikan computer 30 menit sudah sebuah prestasi yang membanggakan. Bisa dibayangin nggak sepulang les, aku bakal bercerita pada Ayah dan Ibuku. “Ayah…Ibu…. Tadi aku bisa nyalain computer dan buka Ms Word hanya dalam waktu setengah Jam lho!!!” Ayah dan Ibu Cuma diam, dalam hati mungkin bertanya Ms. Word itu apa? Biasanya kalau udah begitu mereka hanya berkata “Hebaaatttt!!!!” dan aku berlari sambil lompat-lompat kegirangan menuju kamar emninggalkan Ayah dan Ibu yang masih kebingungan apa itu Ms. Word.

Lanjut ya…..
Latihan mengetik adalah latihan utama kami. Tujuannya supaya terampil mengetik 10 jari. Kenyataannya kami beri lebih, 11 jari alias hanya mengggunakan jari telunjuk kanan dan jari telunjuk kiri. Hehehehe. Satu computer biasanya dimanfaatkan oleh dua orang siswa. Ketika mengetik biasanya kita gantian siapa yang mengetik dan siapa yang mendikte.

Ada satu kejadian yang tidak bisa aku lupakan hingga sekarang. Berhubungan dengan tombol capslock dan shift. Kamu pasti tahulah ya, fungsi tombol tersebut? Waktu itu kami harus mengetik persis sama dengan yang dicontohkan. Dari jenis font, ukurannya termasuk huruf besar dan kecilnya. Waktu itu aku nanya ke Pak Budhi
“Pak, biar hurufnya besar gimana Pak?”
“Capslock” jawab beliau singkat padat dan jelas.

Intruksi kami laksanakan. Ajaib! Hurufnya menjadi kapital semua. Yey!! Ngetik lagi, dan temanku membacakan. Semua berjalan begitu menyenangkan. Sampai kemudian Kerajaan Api menyerang dan memporak porandakan lap computer kami. Hehehe… nggak ding!! Sampai pada kebingungan selanjutnya datang. Aku dan partnerku, Ningrum (nama sesungguhnya) bingung kenapa hurufnya gedhe terus. Apa yang harus dipencet, apa yang harus diklik? Kami saling pandang, tanpa suara kami berbincang. Adegan kaya gini kalau di sinetron pasti ada efek suara batin yang seolah-olah hanya mereka yang bisa dengar. Kenyataannya seantero Indonesia tahu.
“Ning!!” panggilku dalam hati “Ini gimana?”
“Iya!!” Dia menoleh, seolah mendengar panggilanku “aku juga nggak tahu”
Kami terus berpandangan mata, tampak serius. Aku menemukan sesuatu, ternyata ada belek di mata kirinya. Hahahahaha…. Plak!!!! Fokus!!! Ok kembali ke jalan yang benar. Setelah hamper lima menitan tatap-tatapan mata kami kompak mengangguk dan berteriak memanggil guru kami.
“PAK BUDHI!!!!”
Teriakan kami yang gegap gempita hanya dibalas dengan santai. Jauh dari harapan kami.
“Iya?”
“Pak, kok hurufnya kok gedhe terus?” Ningrum melontarkan pertanyaan lebih dulu.
“Iya, pak cara ngecilin lagi gimana?” Aku nambahi.
“Tekan shift!!!” lagi. Jawaban yang singkat padat dan tepat sasaran.
 Tekan shift dan mulai mengetik lagi. Tapi kok tetep gedhe hurufnya?
“Pak, hurufnya masih gedhe” aku protes “gimana Pak?”
“Shiftnya ditekan terus” jawab Pak Budhi lagi.

Ok, kami mengikuti petunjuknya. Ngetik Cuma pake dua jari yang satu buat tombol shift dan yang satunya lagi buat tombol-tombol yang lain. Huft! Susah. Akhirnya yang tugas ngebacain, dalam hal ini Ningrum merangkap tugas sebagai penekan Shift permanen. Jadi selama aku mengetik, dia juga bakal ngebacain sekaligus menekan tombol shift. Kalau pengen huruf gedhe lagi ya, shiftnya dilepas lalu tekan lagi. Begitu seterusnya sampai les computer berakhir. Melihat tingkah kami berdua, Pak Budhi hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala.
Belakangan aku abaru ternyata aku dikerjain sama Pak Budhi. Betapa bodohnya aku. Masak iya sih untuk mengetik shift harus di pegangin sama temen? Hahaha, nggak habis pikir kalau metode itu aku pertahanin sampai dengan sekarang. Ckckckck…. Harusnya kan tinggal matiin capslocknya aja kan?
Masih pengen ketawa aja kalau inget kejadian itu. Betapa polosnya diriku. Hingga sekarang aku masih inget dengan jelas kejadian itu dan menjadi kenangan terindah sekaligus dan terjayus bersama Pak Budhi.
In Memoriam
Dan….
Kemarin, tanggal 2 Februari 2015 beliau Pak Pratomo Budhi Wahono telah berpulang ke Rahmatullah. Innalillahi wainna illahirajiun. Aku tahu kabar ini dari seorang teman yang memposting di grup fb alumni SMP. Seketika itu langsung deh teringat kejadian yang udah aku tulis di atas. Hummmm, memang tidak banyak sih kenanganku bersama beliau. Namun yang satu itu cukup mengena bagi saya. Bahkan hingga saat ini pun, ketika berhadapan dengan PC dan melihat tombol shift dan capslock langsung deh ingatanku melayang ke beliau. Terimakasih Pak, dan selamat jalan.

Minggu, 08 Februari 2015

Keributan yang Sama di Tahun Depan

Sekali lagi hari ini aku membuktikan betapa luar biasanya Raditya Dika. Seorang penulis cerdas berwajah rupawan yang kalau ngeliat pasti bawaannya pengen makan aja. Hehehehe, Rupawan (rupa-rupa bakwan) lhoh!!

Radit dan Adik-adiknya
Seperti yang kamu tahu kan, Bang Radit mempunyai fans militant yang jumlahnya berjuta-juta. Ini terlihat dari jumlah followers Twitternya yang hingga saat ini mencapai 9.37 M. Ya…. Meskipun masih di bawah Agnes Monica sih, beda 1 jutaan gitu. Tapi menurutku lebih luar biasa Bang Radit, kenapa? "Karena" kata Bang Radit "8.5 juta followersnya adalah saudara sendiri dan sisanya adalah saudara dari saudaranya itu". Waow!!! Keluarganya banyak banget, nggak kebayang kalau mereka pengen bikin pohon keluarga pasti butuh dinding selebar lapangan sepak bola. Ckckckck….

Kemudian,
Ini masih berhubungan dengan Twitternya. Setiap Bang Radit ngetwit, apapun itu dalam sekejap yang nge-retwit beribu-ribu orang. Padahal twit-twitnya juga biasa aja, tapi entah mengapa memiliki kekuatan retwit yang sangat luar biasa. Aku curiga, jangan-jangan Bang Radit udah ngasih mantra-mantra tertentu sehingga semua twitnya mengandung daya magis yang menarik semua followersnya untuk meng-retwit. Atau memang semua followersnya pengangguran jadi ya kerjaannya meng-retwit doang.
Lihat jumlah followers nya :D
Lagi,
Bukunya yang terbaru tau dong. Koala Kumal. Terbit 17 Januari 2015. Aku udah punya lho :D tapi belum ditandatangani hiks…hiks….hiks… meskipun terbit di tanggal itu, tapi jauh-jauh hari sudah bisa dibeli dengan cara preorder. Kamu pasti udah tau lah, itu lho yang dapat bonus kaos Koala Kumal dan bertanda tangan. Sekali lagi yang ini aku nggak kebagian. Awalnya jumlah buku dan kaos yang disiapkan untuk preorder itu ada 1200 buah (kalo nggak salah inget yeee) lalu ditambah lagi menjadi 2200 buah (sekali lagi kalo nggak salah inget ya). Pembukaan preorder dimulai dari pukul 00.00 WIB,nah kebetulan aku baru bisa buka web site-nya itu jam 5 pagi. Kamu tahu apa yang terjadi? Semuanya sudah habis. Huft!!! Padahal supaya tercatat sebagai pembeli preorder bukan berdasarkan pesanan, melainkan pelunasan. Siapa cepat dia dapat. Yang transfernya cepet ya dia dapet, yang nggak bisa transfer ya harus sabar sampai bukunya terbit tahun depan. Dan aku adalah salah satunya yang harus nunggu.
Preorder yang bikin ATM rame tengah malem
Kali ini,
Masih ada hubungannya dengan Koala Kumal. Hari ini 8 Februari 2015 adalah jadwal acara book signing Raditya Dika di Gramedia Pandanaran Semarang. Aku udah nunggu banget nih acara. Berharap bisa ditandatangani bukunya dan bisa foto bareng. Pas preorder kemarinkan udah nggak kebagian, jadi kesempatan satu ini nggak boleh terlewatkan. 

Bersama sahabatku sebut saja Yenni, nama sebenarnya aku mendatangi Gramedia Pandanaran. Karena suatu hal kami baru sampai di TKP jam 15.30. Pikirku masih sempet lah ya, wong acaranya sampai jam 5 sore kok. Berbeda dari biasanya toko buku itu ramai luar biasa. Pasti ini kerjaannya Radit nih. Parkiran penuh, petugas parkir kebingungan nyariin space yang masih kosong sedangkan pengunjung udah mau cepet-cepet naroh motornya terus lari ke dalem nubruk-nubruk orang kalo perlu biar langsung bisa ketemu sama Raditya Dika. Hahaha, itu yang ada dalam pikiranku, lagian yang antre kebanyakan abg-abg labil kurang gizi gitu jadi nggak susah lah kalo nubruk badan mereka yang kurus. Sama-sama kurus saling tubruk boleh lah boleh lah. 
dari kiri ke kanan Nikken (nama sebenarnya) dan Yenni (nama sebenarnya juga)
Baru aja bersiap nubruk satu kerumunan, ehhh udah dihadang sama seorang satpam keturunan Arab yang hidungnya mancung. Badannya tinggi, gedhe, mancung pula. Pengen aku tubruk juga sih biar ngasih jalan, tapi mengingat badannya jauh lebih berdaging daripada aku yang hanya tulang belulang dengan sedikit gumpalan lemak di pipi, kayaknya lebih aman satu langkah ke belakang dan tersenyum basa-basi menyelamatkan diri. Seolah udah tahu maksudku Bapak Satpam langsung bilang “Antrenya mulai sebelah sana mbak” sambil nunjuk ke deretan antran yang tak berujung.

Antrean ini bagai tak berujung muter-muter menelusuri deretan orang-orang kok nggak nemu-nemu buntutnya. Sampai pada akhirnya aku temukan barisan terakhir ada di tangga. Barisan yang luar biasa, mengular dari belakang hingga seisi toko di lantai satu. Baru berniat ikut mengantre, tapi ada satu orang yang aku nggak tau namanya tapi berasa sudah pernah lihat saat talkshow Radit di Undip Desember tahun kemarin. Kayaknya sih menejernya, atau siapalah nggak tahu. Orang itu ngomong ke orang-orang yang mau ngantre gini “Udah ya mas, mbak, ini antrean terakhir mohon maaf banget ini udah kebanyakan kasihan Raditya…bla…bla…bla….” Terusannya aku nggak tahu soalnya udah keburu ilfill nggak boleh ngantre. 

Ngantre udah nggak bisa, mau pake jurus nubruk-nubruk membabi buta juga nggak mungkin satpamnya serem sih. Jadi satu-satunya hal yang aku bisa adalah ngefotoin Radit dari pinggiran. Huft!!! Berjalan gontai aku ke belakang lagi. Berjubal dengan abg-abg lain aku berusaha mengambil gambar. Kecil banget hasilnya, wong Cuma pake kamera hp itupun aku pake hp temenku yang lebih bagus kualitas kameranya. 
Bang Radit keliatan kecil banget :P
Di saat itulah, si Yenni sahabat yang setia nganter aku ngubeg-ngubeg Gramedia sore itu berkata “Tenang Nikken” dia mengepalkan tangan dan menatapku tajam “suatu hari nanti kamu yang akan dikerumuni orang seperti itu”
“Emang kalau aku jadi penulis bakal kaya gini juga, Yen?”
“Pasti!!!” mukanya yakin banget “dan aku adalah orang pertama yang akan ngantre”
Yenni tersenyum. Aku tersenyum. Kami berdua tersenyum dan akhirnya kami jadian. Bukkaaaaaaannn!!! Kami hanya berangkulan dan berjalan menjauh dari kerumunan. Hahaha, tahun depan langsung setenar itu? Mungkin nggak sih? Radit aja perjalanannya bertahun-tahun hingga seperti ini. Nah, bisa-bisanya aku nargetin tahun depan?

Tapi, bukankah nggak ada yang nggak mungkin ketika kita mau berusaha. Iya kan? Ayo Nikken semangat!!! Selesaikan tulisanmu, ajukan ke penerbit, dan penuhi janji ini setahun yang akan datang. 

Bikin keributan yang sama seperti keributan yang Raditya Dika bikin hari ini!!!

Jumat, 09 Januari 2015

Dari Sekolah Hingga Dapur

Pengalaman-pengalaman yang aku alami tiap harinya pada dasarnya sama seperti dengan orang kebanyakan. Diawali dengan bangun pagi, mandi, siap-siap kekantor, kerja, pulang, istirahat, nonton TV sampai akhirnya tidur. Begitu tiap harinya.

Nah, kan sama. Terus ngapain kamu masih baca blog ini?

PLAAAKKK!!!

Aduhhhh!!! Iya iya, becanda aku Cuma becanda. Makasih banget ya yang udah baca. Yuk lanjut…
Emang sih hal-hal yang aku alami kurang lebih sama seperti yang dialami orang kebanyakan. Tapi bedanya aku tuangkan semua itu pada blog. Hal yang nggak semua orang lakuin. Kamu pengen tahu seberapa biasanya hari-hariku. Let’s check it out!!!

Foto aja masih Alay, mau jadi Wakil Kepala Sekolah
To day….(sok-sokan pake bahasa Inggris) aku awali dengan bangun tidur, mandi, sarapan, terus ke kantor deh. Kantorku adalah sekolahan, jadi sedikit informasi nih bagi kamu yang belum tahu profesiku, aku adalah guru Bahasa Jawa di salah satu SMP dekat dengan rumah. Selain itu aku juga dipercaya untuk menjadi wali kelas. Iya wali kelas. Entah dasarnya apa sehingga ibu kepala memasrahkan 16 siswa tak berdosa kepadaku, yang notabene belum punya pengalaman apa-apa. Secara, ini adalah tahun pertama aku mengajar. Tapi tenang, nggak sampai kok kalo aku menjerumuskan mereka ke jurang. Soalnya nggak ada jurang di sekitar sekolahan.


Minggu ini adalah awal semester baru. Setelah kemarin liburan saatlah kini kembali ke kehidupan nyata (emang kemarin nggak nyata) maksudnya kerutinitas sehari-hari. Awal masuk banyak yang berbeda dari siswa-siswiku. Muka merah cerah dan sumringah. Mungkin karena sudah terlalu kangen dengan wali kelasnya kali ya, jadi pengen ngejorokin dari lantai dua. Haha, enggak… ya, namanya juga habis liburan ya mereka senenglah, kecuali yang nggak pulang dari pondok. Selama dua minggu tetap di pondok, setor hapalan, belajar agama dan paling ya main comberan. Yang terakhir hanya fiktif.

Pertama kali pelajaran, bakal nggak bijak kalau langsung menyampaikan materi. Cukup dengan cerita-cerita pengalaman pas liburan aja. Ada yang cerita main ke pantai nonton konser. Keren nie anak, biasanya ngaji mulu pas liburan nontonnya konser, music metal pula. TOPlah. Saking antusiasnya konser mulai jam 8 malam dia udah stanbay di pinggir panggung jam 2 siang. Heh tong! Elu mau ngapain? Buka lapak asesoris? Hahahaha, salah satu pengalaman liburan yang fantastis.

Ada lagi nih, menghabiskan masa libur dengan menjelajah alam liar (baca:kali belakang rumah). Bersama teman-temannya Tomi (muridku bukan nama sebenarnya) memustuskan untuk mengadakan kegiatan susur sungai. Tujuannya untuk mencari tantangan sekaligus mencari ikan. Mata dipasang mode awas dengan tingkat kesensitivan tinggi atas pergerakan. Ada pergerakan sedikit dia langsung tahu, apakah itu ikan atau yang lainnya. Beberapa menit mengamati, ternyata sensor menangkap ada sebuah pergerakan. Agak lambat sih, nggak seperti ikan pada umumnya. Bentuknya agak besar. Wah, ini pasti ikan lele yang kekenyangan. Pelan-pelan dia mendekati. Pelaaaannnnn sekali, sampai ketika sudah dekat Haaap!!!! Tertangkaplah sebuah “Celana Dalam Bekas” entah milik siapa.

Aku curiga sensor yang ada di mata mereka sedang rusak. Membedakan ikan dan segumpal celana dalam aja nggak bisa. Hemmmmmm.

Waktu berlalu dan jam pelajaran usai. Ok I have finish.

Lanjut Rapat Dewan Guru. Sementara siswanya ditinggal dulu ya, biarlah mereka berfantasi dengan khayalannya lagi. Sebagai Guru yang masih belia, di dalam rapat tidak banyak yang aku lakukan. Mendengarkan kalau ada yang bicara, ikut tertawa kalau semua pada tertawa, menjawab “Siap” jika ditugaskan sesuatu. Termasuk ketika ditugaskan menjadi Wakil Kepala Sekolah urusan Kurikulum.

Hah!!! Waka Kurikulum? Bentar-bentar nggak seharusnya nih aku bilang siap. Selama enam bulan terakhir menjadi wali kelas saja anak-anak banyak yang terlantar, nggak karuan kena cacar, busung lapar, ada yang congekan daaaannnnnnn yang paling parah nyemplung comberan. Lalu sekarang harus bertanggung jawab dengan system pendidikan mereka. Oh, Tuhan demi apapun aku nggak mau menjerumuskan mereka lebih dalam.

Yang nggak habis pikir, kok ya bisa-bisanya ibu Kepala Sekolah memasrahkan posisi yang begitu pentingnya kepada aku. Jelas pilihan yang salah sih. Mudeng kurikulum aja belum, tahu cara bikin jadwal aja nggak, bahkan untuk ngajar biar keliatan keren di depan murid, semalaman aku latihan. Kalau gini pengen langsung terjun ke lantai satu dan ngibrit ke rumah, masuk kamar, selimutan dan bobok siang.

PLAAAKKK!!!

Nggak ding, Cuma menghela nafas dan meyakinkan diri aku pasti bisa mengemban tugas penting ini. Demi mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut serta membangun masyarakat, menepati Dasa Darma. Lhoh!

Nah, itu kan di sekolah. Udah deh sejenak kita lupakan persoalan di sekolah. Sekarang di rumah.
Entah dari mana inspirasinya aku pengen banget masak sesuatu. Pilihan masakan jatuh pada Fuyunghai sebuah makanan China (katanya) yang bentuk aslinya saja aku belum pernah merasakan. Terus untuk tahu itu rasanya udah bener atau nggak dari mana coba?  What ever lah itu dipikirkan nanti lagi.

Dengan semangat coba-coba yang sangat tinggi aku lancarkan rencana untuk memasak Fuyunghai. Resep aku cari di internet. Ada banyak versi di sana, aku pilih yang paling simpiel dan bahan yang paling mudah aku dapat. Fiks dengan resepnya mulai mengumpulkan bahan-bahan. Mulai dari telur, tepung, kol, daging kornet, saus, kecoa, nyamuk, dan…. Hahaha itu bukan termasuk.

Langkah demi langkah aku ikuti. Ternyata nggak terlalu rumit. Aku rasa ini bakalan menjadi masakan paling enak sepanjang bulu hidung yang baru dicukur. Prose mask masih berlangsung, perlu perjuangan sangat keras karena ternyata minyak nggakbelum baikan sama air, jadi pas lagi menggoreng adonan cipratan-cipratannya luar biasa seperti kembang api yang salah meledak. Heboh banget. Semakin yakin kalo masakan ini rasanya tak akan mengecewakan.

Setelah setengah jam, aktivitas menggoreng dan membuat saus selesai. Aku menata hasil gorengan di atas piring lalu aku siram dengan sausnya. Jadilah Fuyunghai alakadarnya. Hemmmmm, sepertinya enak. Sekali lagi masih sepertinya. Jadi belum dipastikan nih beneran enak atau hanya sebatas mitos saja.

Fuyunghai bikin fuyeng nih
Saatnya yang paling menegangkan. Mencicipi. Suapan pertama ada yang aneh, tapi aku tetap menguyah dan berhasil menelannya. Suapan kedua, tetap berasa aneh aku nggak menghiraukan masih mengunyah dengan anggunnya. Kunyah, kunyah, kunyah sampai pada akhirnya…. 

Hooooeeeekkkk!!!! Hoooooeeekkkk!!! Aku muntah.

Sepertinya nggak usah diperpanjang lagi kamu paling udah tau. Iya masakannku nggak enak. Sama sekali nggak enak. Jadi mual bahkan sampai muntah. Apa tadi yang aku masukin ke bahan-bahannya sampai seperti ini?

Satu hal yang membuat aku semakin yakin bahwa masakanku itu nggak enak adalah, saat kucing ikut-ikutan nggak mau makan. Oh, Tuhan!!! Seberapa nggak enaknya sih masakanku sampai kucing aja nggak doyan. Aku shock, depresi, nggak kuat dannnnn mau bobok aja.

Udah ah, dari pada sebel-sebel aku bobok aja…. Selamat malam ^_^

Minggu, 04 Januari 2015

Mantra Patronus Versiku

Harry dan Dementor (sumber radityadika.com)
Kalau kamu penggemar buku atau film “Harry Potter” pasti kenal dengan Dementor. Yups, Dementor adalah makhluk penghisap kebahagiaan yang membuat korban mereka berpikir tidak bisa bahagia lagi. Untuk mengusirnya satu-satunya cara adalah, Harry Potter harus mengeluarkan mantra yang bernama Patronus. Nah, untuk mengeluarkan mantra tersebut dengan baik, Harry harus mengingat tentang hal-hal yang ngebuat dia bahagia sambil mengarahkan tongkat sihirnya ke Dementor.

Kamu pasti mikir, kok tiba-tiba aku jadi tahu tentang Harry Potter, malah sok-sokan ngejelasin Dementor dan mantra pemusnahnya. Iya, iya aku memang bukan penggemar Harry Potter. Hanya penikmat pasif filmnya saja. Sebatas menonton nggak lebih dari itu. Kalau aku dites tentang siapa nama sahabat-sahabatnya Harry aku juga nggak hapal.

Jadi, aku baru aja baca arsip lama di radityadika.com. Salah satu artikelnya itu tentang Dementor dan mantraPatronus. Di situ Bang Radit cerita kalau akhir-akhir ini banyak Dementor disekelilingnya yang membuatnya jadi malas dan ogah-ogahan ngelakuin apa aja. Lalu dilist deh hal-hal yang bisa membuatnya bahagia sebagai mantara Patronusnya untuk mengusir Dementornya tadi.

Saat ini aku merasakan hal yang sama. Aku merasa ada banyak Dementor disekelilingku. Mereka dengan lahap menghisap kebahagiaanku. Sumpah jahat banget. So, aku jadi sering nangis hari ini sampe-sampe mataku sembab. Kebanyakan nangis jadi pusing, akhirnya males buat ngapa-ngapain. Seperti bang Radit, rasanya aku perlu deh membuat daftar hal-hal yang menyenangkan untuk memperkuat mantra Patronusku. Biar Dementornya segera lenyap.

Nah, yang dibawah ini adalah mantra Patronus versiku:

  1. Kumpul bareng temen SMA, ngobrolin hal-hal yang nggak penting, dan saling ledek satu sama lain.
  2. Dibeliin es krim, apapun itu terutama Walls
  3. Minum susu coklat
  4. Latihan bareng anak-anak Siaga, yang selalu menyambutku dengan penuh gegap gempita dengan sapaan “Bunda!!!”
  5. Rapat dengan anak-anak DKC Demak, walau kadang juga sering adu argumen
  6. Menjadi pengisi ice breaking dalam suatu kegiatan
  7. Ada yang mengenaliku di tempat-tempat yang aku nggak nyangka bakal ada yang kenal
  8. Berbalas komen dengan orang yang aku suka, entah di FB, Twitter atau media social lainnya
  9. Di kamar sendirian sambil dengerin musik baca novel baru
  10. Tersesat di Gramedia keluar-keluar udah borong buku baru
  11. Bisa selfie sama adik sendiri
  12. Bersama kedua sahabatku, Yenni dan Hida entah apapun yang kami kerjakan
  13. Berangkat sekolah dan bertemu dengan murid-murid yang lucu
  14. Nonton film di youtube dengan memanfaatkan wifi sekolah
  15. Datang di talkshow Raditya Dika dan berkesempatan foto bareng
  16. Terbayang situasi di mana harus dorong motor yang mogok gara-gara banjir, pengalaman sedih sekaligus lucu
  17. Ngomentarin tema di radio lewat twitter, padahal nggak lagi dengerin pas ada kesempatan di On-Airin bingung mau ngomong apa
  18. Dan masih banyak lagi….

Ternyata banyak juga hal-hal yang dapat membuat aku bahagia. Ada yang bilang kehidupan manusia itu seperti roda, kadang di atas kadang juga di bawah. Yang penting bukan soal di mana posisi kita saat ini, tapi bagaimana kita menyikapinya.

Aku yakin, nggak selamanya aku terjebak di posisi seperti ini. Nggak selamanya juga akan terselimuti dengan kesedihan dan nasib buruk. Dengan tetap memikirkan kesedihan-kesedihan yang dialami malah akan semakin menenggelamkan lebih dalam lagi.

Secepat mungkin harus segera “mentas” dari situasi seperti ini. Bukan dengan mengayunkan tongkat sihir dan mengucapkan mantra Patronus, tapi cukup dengan mengingat hal-hal yang dapat membuat kita bahagia. Kemudian coba tersenyum kepada diri sendiri dan ucapkan “Saya bahagia”

Senin, 29 Desember 2014

Sehari bersama Nissa



29 Desember 2014, masih dalam situasi libur nih makanya butuh alasan kuat untuk sekadar membersihkan diri alias mandi. Mungkin nggak aku aja sih yang ngalamin ini. Entah mengapa jika libur agenda kemana-mana hasrat untuk mandi itu susuah sekali ditimbulkan, apalagi dengan cuaca yang mendung-mendung nggak jelas gitu. Skala keinginan narik handuk dan ke kamar mandi seakan semakin menuju titik nol.
Padahal hari ini aku harus ke Bank, soalnya udah janji sama temen mau transfer uang kurangan blanja online minggu kemarin. Sebetulnya itu udah menjadi salah satu alasan yang kuat sih supaya aku mandi. Tapi setelah aku pikir-pikir kayaknya nggak ada keharusan deh ke Bank harus mandi dulu. Toh disana nggak ada alat yang mendeteksi kita udah mandi atau belum kan? *Plak!!! Jorok lu, cewek mandi kok males. Iya iya aku mandi (sambil narik handuk) huuuuuuu….
Bahkan di kamar mandi pun ketika aku siap untuk mengguyur badan dengan air aku masih berpikir apa iya aku harus mandi sekarang? *MANDDIII!!!!!! tiba-tiba suara itu datang lagi ihhhh horror. Iya-iya aku mandi. Selama prosesku mandi aku berpikir, kalau hanya ke bank aja bakal percuma nih perjuanganku bergumul dengan air dingin pagi ini *pagi? Udah jam 10.00 lu bilang pagi? Iye, pagi cendderung siang deh. Terbelsit rencana untuk jalan-jalan. Awalnya aku udah peritungin nih, habis mandi ke BRI, lalu ke BNI habis itu ke Gramedia, tapi kalau mampir lawang sewu dulu kayaknya seru deh. Hemmmm, berarti harus ngajak temen nih. Kan nggak seru kalau jalan sendirian di Lawang Sewu dikira cewek yang kehilangan arah gara-gara habis putus ntar. Makanya aku putuskan untuk mengajak adik bungsuku. Anissa Pakerti.
Setelah prosesi mandi yang begitu berat berhasil aku lewati, aku utarakan rencanaku tadi ke Nissa. Sontak dia langsung gegap gempita dengan kabar tersebut. Langsung deh nari-nari kegiarangan kaya di film India sambil menuju kamar mandi *lebay deh. Sedikit.
Sembari nunggu Nissa siap-siap aku ke BRI dulu yang deket rumah. Nggak ada 5 menit kok. Sampai sana, wuuuiiihhhh!!! Full capacitas. Dari luar keliatan penuh dan setelah masuk memang benar-benar penuh sampai pak Satpamnya aja nggak keliatan. Tiba-tiba ada yang nyapa “mau ngapain mbak?” lho, ternyata satpamnya di situ, pojokan deket mesin antrean. “mau nabung Pak” jawabku agak ragu antara aku masih kebagian nomor antre atau nggak lolos uji mandi, lhoh? Satpam itu memberiku sebuah nomor antre. Kamu tahu nomor berapa? 107 dengan sisa antrean 53. Gilaaaaa!!!! Mau ke Semarang Jam berapa kalao harus nunggu sebanyak itu????

ini nomer antrean dari BRI 107 lumayan kan
Mau nunggu di sana kayaknya nggak memungkinkan couse tempat duduk udah penuh bahkan ada beberapa orang yang berdiri. Selain itu, karena terlalu banyak yang ada di ruangan itu AC-nya jadi nggak berasa. Ah, pulang dulu ntar kesitu lagi kalau udah mau ke Semarang. Akhirnya aku kembali ke rumah.
Beberapa saat setelah aku tiba di rumah, adikku udah siap dengan style khas remaja labil nan alay mau mejeng. Hem merah kotak-kotak dipadukan dengan celana jins yang menyempit di ujungnya dan bersepatu tentunya itulah gaya yang menurut Nissa pas buat jalan-jalan. Awalnya aku berpikir itu nggak banget, tapi berjalannya waktu aku menyadari ternyata style kami sama. Saat itulah aku setuju bahwa gaya kami keren.
Beda generasi tapi style nya sama
“Jangan lupa bawa helm” kataku ke Nissa sebelum berangkat “aku nggak mau ntar ketilang gara-gara kamu nggak bawa helm”
“Kan, aku masih kecil mbak?”
“Kecil apaan? Badan tingginya udah kaya tiang bilang kecil”
“Iya, siappppp!!!”
Drama singkat tentang helm berakhir dan kami berangkat. Tentunya mampir BRI lagi. Liat antrian baramg kali tinggal dikit sekalian nabung dan memenuhi kewajiban. Males turun dari motor Nissa aku utus untuk melongokkan kepala di pintu dan ngintip saat ini udah antrean ke berapa. Ternyata masih nomor 70-an sedangkan antreanku 107 itu artinya masih 30-an lagi. Hufffttttt!!! Udah deh ke BNI aja, keburu tahun baru ntar kalau nungguin.
Perjalanan kami lanjutkan. Sekarang tujuan kami adalah ke BNI cabang Unissula karena itu yang paling deket dan emang disitu biasanya aku nabung. Belum jauh motorku melaju, drama helmpun berlanjut.
“Mbak Nikken nggak pake helm?” Tanya adikku tiba-tiba.
Aku baru sadar ternyata dari tadi aku belum pake helm. Hahahaha bisa-bisanya ngingetin orang lain pake helm akunya sendiri nggak pake helm. Ketawa geli aku. Hahahahha!!!!
“Eh, iya ya? Hahahaha!!! Aku lupa ya udah balik rumah dulu ambil helm. Hahahha!!!” sambil terus ketawa kegelian kami kembali ke rumah.
Helm udah dipake semua, dan udah nggak ada yang ketinggalan lagi, kami pun berangkat lagi. Tujuan kami masih sama ke BNI. Sepanjang perjalanan nggak ada yang aneh, kecuali parnonya adikku ketika aku boncengin. Hehehe, diklaksonin mobil dikit aja udah nepuk-nepuk pinggang suruh minggir takut ditabrak. Hellooooo!!! Jalan Pantura itu lebar lho, kalau mau lewat ya lewat aja!!!
Keparnoan-keparnoan Nissa aku abaikan, aku nyetir seperti biasa aja. Meskipun kata dia cara nyetirku termasuk cara nyetir yang bahaya. Suka nyalip dari kiri, suka deket-deketan sama mobil, dan paling suka nengok kanan kiri memperhatikan ruko-ruko dipinggir jalan. Lalu setengah jam kemudian sampailah di BNI.
Setelah menyerah dengan antrean 107 di BRI aku datang ke BNI dengan penuh harapan bahwa di sana bakal dapat nomor antrean yang nggak begitu besar. Gayung tak bersambut, ternyata hari ini bebarengan dengan jadwal pembayaran semester mahasiswa Unissula. Panteslah rame banget. Huuuuuuu!!!!! Dan kamu tahu aku dapat antrean nomer berapa? 197 yaaassssaaallllaaaammm!!!! udah nggak ada pilihan lain yaudah nunggu aja. Saat itu, bukannya menghibur Nissa tertawa dengan begitu puasnya. Hahahaha, itulah akibatnya dari orang yang nggak sabaran. Sok tau nie anak.

dari BNI malah lebih panjang :[ 197
Drama nunggu antrean nggak bisa aku certain terlalu lama nanti. Akhirnya setelah nunggu hamper sejaman antreanku dipanggil. Nggak sampe lima menit transaksiku selesai. Iyalah, Cuma nabung doang. Keluar dari Bank masuk ATM, transfer ke temenku tadi. Sebenernya harus transfer satu kali lagi sih tapi gara-gara udah ditungguin orang banyak diluar yaudah cari ATM lain ajalah sambil nyari bakso buat ngasih makan Nissa yang udah menunjukkan tingkah aneh dengan selfi-selfi di dalam bilik ATM karena lapar.
entah karena kelamaan nunggu ato emang efek kelaparan
Ketemu sebuah Pom Bensin. Ada ATM, ikut antre. Ketika udah giliranku masuk ternyata hp ku mati. Tuhannn!!! Nomor rekening dan jumlah yang harus aku transferkan di hp semua. Aku coba hidupin ternyata tak tertolong. Dari pada pusing, nggak bisa mikir cari makan dulu ahhhh, sapa tahu habis makan dapat inspirasi harus ngapain.
Motor aku tinggal di Pom bensin. Sengaja biar nggak bayar parker di warung baksonya. Toh juga dekat ini Cuma nyebrang aja. Hehehe cerdik! Di warung bakso itu baru ngeh, di twitter pernah ada yang ngetwitpic bukti transferannya. Itu artinya di sana ada nomor rekeningnya. Langsung deh pinjem hp Nissa ngecek twitter, setelah ketemu langsung deh aku catet di kertas seadanya. Hehehe yang penting keliatan. Agak cepet aku ngabisin sisa bakso dan bergegas kembali ke Pom Bensin tadi.
Udah di bilik ATM nih, siap-siap transfer uang. Kartu ATM masuk, masukin pin, pilihan transfer, ngisi rekening tujuan, ngisi nominal, dan berhasil. Yeeeaaaachhhh!!! Aku lihat lampu di atas tempat keluarnya struk ATM berkedip, pertanda bukti transfer lagi dicetak. Tapi, tiba-tiba. Pet! Kartu ATMku keluar sendiri, seakan-akan dimuntahin sama mesin ATM karena pahit. Layar ATM mati, oh Tuhan listriknya padam. Bukti transfernya kan belum keluar?? Kalau harus nunjukkin bukti transfer gimana? Bisa-bisa 2 kaos nyetilku nggak jadi dikirim. Untuk informasi nih, transferan yang ini buat bayar kaos nyetil punyanya Bayu Skak. Huhuhuhuhu!!! Tak lama jenset nyala monitor juga nyala, tapi nggak menunjukkan gejala kenormalan. Struknya juga nggak keluar. Aku harus gimana? Jedodin kepala ke mesin ATM? Cuma bisa keluar dengan muka cemberut. Huft…
Lanjut deh, ke Lawang Sewu, yang itu dipikirin ntar pas sampe sana. T_T
Sampai di Objek tujuan. Lawang Sewu. Udah nyiapin kartu pelajar dan juga KTM. Berharap dapat potongan harga karena masih pelajar (meskipun udah lulus kuliah). Dasar niatnya udah jelek sih ya, yang dapat potongan harga Cuma Nissa yang jelas-jelas masih SMP, sedangkan yang Mahasiswa (apalagi yang Cuma ngaku-ngaku) ikut tarif dewasa. Padahal dulu kalau bisa nunjukkin KTM ikut tarif pelajar. Kan, lumayan bisa ngirit lima ribu buat beli es teh. Tapi nggak apa-apalah.

Niatnya udah jelek, akhirnya ya nggak dapat potongan harga
 Are you ready for Lawang Sewu??? Yes I’am. Kalau ada pertanyaan kaya gitu paling Nissa doang yang lantang jawab “Yes I’am” soalnya aku masih bingung mindah kartu memori ke hp Nissa supaya bisa konfirmasi transferan yang tadi. Dia jalan-jalan aku sibuk sms. Dia sibuk foto-foto aku sibuk nanya udah ada jawaban belum. Ehehehe, kan smsnya pake hpnya dia. Hihihihi, tak lama ada jawaban suruh melengkapi alamat. Itu artinya udah beres. Semoga beres terus sampai kaosnya dikirm ke rumah. Agak tenangan nih, lanjut yuk foto-foto. Haaaaa, ternyata Nissa nggak kalah alaynya. Ini sih lebih tepatnya “Alay teriak alay” Kakak beradik yang setipe.

Nih, hasil karya kami :P
Capek di Lawang Sewu, lanjutlah ke destination yang terakhir. Gramedia. Tempat yang menyenangkan sekaligus menakutkan bagi isi dompet saya. Kebanyang nggak sih ntar tanganku ngambil apa aja. Bismillah jauhkan saya dari kekhilafan.
Masuk Gramed, langsung ke lantai 2. Liat-liat buku entah dari mana ini mata langsung tertuju ke komik Juki yang edisi Lulus UN, salah satu edisi yang belum aku punya. Nggak tahu nih, kaya ada magnet aja nih mata. Langsung deh, ambil satu komiknya. Jalan lagi, lihat-lihat lagi. Dalam hati aku mikir dananya 100 ribu jadi masih bisa buat satu buku lagi. Jalan, jalan sampai di satu rak aku lihat “Babi Ngesot” waaaa!!!! Bukunya Abang tukang Bakso, eh! Maksudnya Bang Raditya Dika yang belum aku punya. Dua tedik kemudian buku itu ada digenggaman bersama komik Juki yang tadi. Ehehehehe!!!!!
Ngomongin Bang Radit ya, aku jadi inget pas seminar kemarin di Undip. Aku kan nanyain gimanansih biar kita bisa mempunyai gaya menulis kita sendiri? jawabnya kita harus lebih banyak baca dari bermacam-macam penulis. Jadi kita bisa meramu gaya menulis dari banyak orang untuk dijadikan sebagai gaya menulis kita sendiri. Ngomongin apa sih? Nah, berangkat dari situ mulai deh iseng nyari novel lain. Kemarin kan udah baca “Gelombang”nya Dee Lestari sekarang aku tertarik nih ke Tere Liye. Harusnya sih ambil satu aja, tapi entah kenapa yang berpindah ke tanganku ada dua buku dan kemudian langsung ke kasir. Dan di sanalah kekhilafanku dihitung. Yang tadinya target Cuma 100ribu, membengkak jadi 149ribu. Singkat cerita, setelah dari lantai dua turun ke lantai satu. Kekhilafanku berlanjut. Aku kepencut sama tas lucu yang sebenernya malah ABG banget modelnya. Harganya 170ribu. Oke, jadi total di Gramedia aku ngabisin duit 220ribu-an beserta parkirnya.
Dan, cukup deh perjalanan hari ini. Terlalu banyak tempat yang dikunjungi akan semakin banyak lagi kekhilafan yang aku buat. Hari ini sungguh mengesankan. Dari BRI ke BNI, dari Pom Bensin hingga Warung Bakso, dan dari Lawang Sewu ke Gramedia. Semua bermuara di rumah. Tempat semua kejadian diolah dan diambil hikmahnya. Semoga semua barokah dan tak ada yang siah-siah. *terakhirnya maksa :P

Minggu, 28 Desember 2014

Sherina Munaf dan Mimpiku

Artis muda berbakat yang aku kagumi sedari dulu. Suara bagus, acting keren, otak encer, cantik pula. Dialah Sherina Munaf. Pertama kali tahu tentangnya adalah ketika film “Petualangan Sherina” mulai dirilis. Aku nggak nonton di bioskop sih? Nonton lewat dvd yang dipinjem dari persewaan dvd. 

Aku melihat Sherina adalah orang yang sangat beruntung. Dengan usia yang terbilang masih muda banget tapi dia sudah bisa terkenal seperti itu. Dan yang bikin aku iri banget adalah dia bisa duet sama westlife, boyband asal Irlandia yang juga lagi buming-bumingnya dikala itu. Saat anak-anak seusianya (termasuk aku) hanya bisa mengagumi melalui layar TV dan mengumpulkan poster, Sherina udah bisa bertemu bahkan duet dalam lagu “I Have a Dream”. Selalu aku bergumam aku bisa nggak ya seperti itu? 

Itulah mimpiku saat itu. Hingga saat ini….ummmm sepertinya masih dalam proses perwujudannya. Kalau patokan yang digunakan adalah Sherina sepertinya terlalu tinggi deh. Bukanya minder sih, cuman ya banyak perbedaan diantara kami. Yang palinh mencolok sih dia bisa nyanyi sedangkan aku baru bisa nembang Jawa dengan suara yang tidak istimewa. Setidaknya itu yang dikatakan dosenku dulu. 

Meskipun demikian aku tetap kok berkeinginan untuk menjadi seseorang yang dikenal seperti Sherina dengan bakat yang berbeda tentunya. Karena untuk dijalur yang sama sepertinya sulit.
Kalau dipikir-pikir, aku itu orangnya pemalu, pemalu banget. Sejak aku kecil. Tapi entah kenapa keinginan untuk menjadi sosok yang dikenal orang banyak itu selalu muncul. Dengan kata lain banci tampil, kalau di luar keluarga. Acara sekolah sejak SMP hingga jadi gurunya anak SMP (sekarang ini) seneng banget kalau tampil di depan. Entah jadi MC, pemateri, karaoke (meski modal suara parau), atau hanya sekadar mengisi kekosongan. Tapi kalau udah ngumpul keluarga besar, 180 derajat berubahnya. Aku jadi sosok yang diem, kalem, dan nggak macem-macem. Entah, padahalkan keluarga orang-orang terdekat harusnya bisa lebih PD tampil dihadapan mereka. Kenyataan berkata lain.

Ok, balik ke Sherina lagi. Selain dia tadi disebutkan bersuara emas, dia juga menjadi sosok siswa yang cerdas panutan seluruh siswa se-Indonesia mungkin. Kemampuan berbahasa Inggrisnya waktu itu bikin aku ngiri. Sampai sekarang aja aku belum begitu mahir bahasa Inggrisnya. Nah, Sherina sejak 5 tahun udah belajar “Hoe are you? What’s Youre name? and bla, bla, bla,,,,,,” keren deh orang itu.
Bisa nggak sih aku menyamainya? Dengan bakat yang berbeda tentunya. Satu-satunya bakat yang sedang aku asah saat ini adalah menulis (sebenernya sih ngetik) terinspirasi juga sih dari Raditya Dika. Pengen terkenal juga seperti dia. Yahhhh, masih dalam proses perwujudan. Eh, eh, eh sebentar Sherina dan Radit kan dulu pernah pacaran ya? Ini bukan berarti lantaran mereka dulu punya hubungan kemudian aku mengidolakan mereka semua lho ya… jauh sebelum aku tahu bakal ada penulis gokil seperti Radit, aku udah kenal sama Sherina. 

Apapun itu, yang jelas mimpiku masih sama. Ingin menjadi seseorang yang dikenal oleh orang banyak dengan bakatku tentunya. Menulis. Mohon doanya ya, semoga di 2015 semuanya bisa terwujud. Amiin.

Sabtu, 27 Desember 2014

Tentang Eskrim

ilustrasi
Pun akhirnya air itu tumpah juga dari langit. Memandanginya dari balik jendela dengan sebuah eskrim di tangan merupakan sebuah cara tepat (menurutku) untuk menikmati keindahan yang disuguhkan oleh Yang Maha Kuasa siang ini.

Lalu mengapa eskrim? Bukankah teh hangat atau kopi lebih pas disruput dalam kondisi hujan seperti ini? Bagi sebagian orang mungkin iya, namun bagiku tetap eskrim yang nomor satu. Hahaha, bukan berarti aku mempromokan sebuah produk eskrim lho ya. Hanya sekadar mengagumi cita rasa dan sensasi dalam sebuah eskrim.

Apa nggak malah tambah dingin? Iya sih, di luar udaranya dingin. Tapi pernah nggak sih kamu mendengar tentang orang kutub yang tinggal di iglo (sebuah rumah yang terbuat dari tumpukan balok es) dan mereka bisa bertahan hidup. Biarpun di luar udaranya dingin tapi jika berada di dalam ruangan biarpun ruangan itu terbuat dari balok es, akan terasa lebih hangat. Aku tahu nggak ada hubungannya sih teori orang kutub dan iglonya tadi dengan pilihanku kepada eskrim untuk menikmati hujan. Intinya aku menikmati keduanya.

Eskrim bisa menengkan (sekali lagi ini menurutku), tak bisa tertampikkan hal itu. Bahkan dalam situasi hujan seperti ini. Mungkin lantaran ada kandungan susu dan coklat di dalamnya sehingga merangsang diproduksinya semacam hormon-hormon (yang aku nggak tahu namanya apa) yang dapat mendatangkan sensasi tenang dan tentram. Teori ngacoku barusan memang belum teruji klinis dari manapun, jadi jangan begitu saja dipercaya ya.  

Sekalipun eskrim dapat menengakan dan menjadikan hati tentram (walau sesaat) namun, eskrim tak bisa begitu saja menyelesaikan masalah. Es krim hanya pengalih perhatian sesaat dari beban masalah yang dihadapi oleh seseorang. Semanis apapun eskrim itu, senikmat apapun eskrim itu lambat laun akan habis juga. Kecuali kalau kamu punya persediaan yang begitu banyak. Lagi pula kalau kamu kebanyakan mengkonsumsinya malah kesehatan mu yang akan terganggu.

Iya, hanya pengalih perhatian. Dengan cita rasanya yang legit dan sensasi dinginnya, setidaknya dalam 10 menit beban masalah kita sedikit terlupakan. Memang setelah semuanya habis, setelah manisnya tak terasa lagi, atau setelah dinginnya tak terkecap lagi, kita akan kembali dihadapkan dengan masalah tadi. Tapi percadeh disaat itu akan muncul sudut pandang yang berbeda dalam memandang masalah tadi, karena kita sudah sedikit ditenangkan oleh eskrim.

Senin, 08 Desember 2014

Unforgettable

Calon Penulis dan Penulis
Hari ulang tahun adalah hari yang membahagiakan –Kalau pada inget. Begitu juga dengan 7 Desember 2014 kemarin. Seneng sih dapet kado dari murid sehari sebelum hari H, alasannya karena tanggal 7 itu hari minggu jadi bakalan nggak sempet ngasih. Trus pas hari H, pagi-pagi di sodorin sekardus es krim Magnum mini sama ponakanku. Huhuhuhu, gendut-gendut deh. Tapi nggak apa-apa seneng kok.
Selain seneng karena orang-orang disekitarku pada inget hari ulang tahunku, ada satu kenyataan yang sebetulnya agak berat tapi mau nggak mau ya harus diterima. Apa itu? Umurku sekarang 24 tahun. Wihhhh, udah 24 aja nih tuh angka.
Waktu masih anak-anak atau pas abg hari ulang tahun adalah hari yang sangat ditunggu. Hari merasakan ge-er sepanjang hari. Bakal disurpresin nggak ya? Bakal disurpresin nggak ya? Hehehehe dan pastinya juga ingin dirayain. Namun, akan tiba masanya di mana kita tak lagi ingin merayakan uang tahun. Nah, kayaknya aku udah mulai nih masuk ke masa itu. Sengaja sehari sebelum ultahku, tanggal kelahiran di fb aku sembunyiin. Tujuannya simpel sih biar nggak ngrepotin orang buat nulis ucapan di kronologiku. Atau biar nggak pada malak PU (Pajak Ultah). Hahaha, biarlah yang benar-benar tahu aja yang ngucapin.
Sebuah kado terindah adalah di hari itu aku bisa mengikuti seminar talk show bersama idolaku. Raditya Dika. Sebuah pengalaman tak terlupakan aku bisa melihat Bang Radit secara nyata dengan mata kepalaku sendiri. Satu fakta yang aku yakini saat itu, Bang Radit beneran pendek. Ups!!! Aku kira itu Cuma mitos tapi ternyata beneran. Tingginya sama kaya aku 160 cm. Tapi bukan itu intinya, melainkan ilmu yang berbalut keceriaan yang beliau bagi hari itu sungguh mengesankan.
Apalagi ketika aku bisa berinteraksi dengannya, wawwww sungguh momen yang tak terlupakan bagiku. Kalau bagi Bang Radit mah, selesai acara pasti juga udah lupa. Bayangin aja, aku adalah 1 dari 8 juta lebih followernya di Twitter. Sesering apapun mention aku, seaneh apapun mention aku, bahkan secepat apapun mention aku belum pernah dibalas sama sekali. Jadi mikir jangan-jangan ada kriteria khusus supaya mentionnya dibales. Tapi saat itu aku berkesempatan bertanya kepadanya pertanyaanku seperti ini “Bang bagaimana sih supaya kita dapat menemukan gaya kita sendiri dalam menulis? Maksudnya biar nggak mirip dengan penulis idola kita” bersyukur Bang Radit bersedia menjawab pertanyaanku dengan gambling tentunya dengan diselipi humor-humor segar yang nggak bikin ngantuk. Keren deh pokoknya. Dia bilang begini “Tulisan adalah perjalanan panjang dari pembaca, intinya kamu harus lebih banyak membaca buku dari penulis-penulis yang berbeda sehingga kamu bisa mengolah gaya-gaya mereka menjadi satu yang akhirnya itulah gaya tulisan kamu”
Nggak cuman Tanya jawab doang lho, aku sempet kok ngecengin Bang Radit. Waktu aku nyebutin nama Bang Radit langsung motong “Nikken ya? Nikken itu kaya nama gebetan gue waktu SMP, kalau cantiknya jauh lah” semua orang ketawa denger itu, nggak usah nunggu lama langsung aja aku bales “Pas itu Bang Radit SMP ya, wah berarti saya baru masuk SD itu Bang” ketawa peserta seminar semakin keras, di tambah lagi Bang Radit bilang “Oh, makasih ya udah ngingetin umur gue” Hahahahahaha pengalaman tak terlupakan deh, idola yang hanya bisa aku lihat di TV (itu pun jarang sebetulnya), yang hanya bisa aku baca bukunya, atau yang hanya bisa di tonton di You tube, hari itu aku bisa becandaan sama dia waaawwww… amazing.
Merasa bangga juga saat itu aku disebutnya “Calon Penulis” di depan ratusan peserta seminar.
“….nanti pulang dari sini kalo Nikken nulis pasti tulisannya jelek, gue jamin itu. Lalu kapan tulisannya bakal bagus? Kalau dia mau memperbaiki yang kurang bagus, mengedit yang kurang sesuai sehingga menjadi tulisan yang bagus….”
“….ini juga berlaku ya untuk Nikken sebagai calon penulis. Jadi materi stand up atau tulisan kamu harus berasal dari kegelisahan-kegelisahan kamu yang orang lain juga sebetulnya ngerasain juga tapi kamu bawakan dengan fersi kamu….”
Itu beberapa kutipannya, sebenere ada lagi sih, tapi redaksionalnya aku lupa. Intinya sangat membangun dan menjadikanku ingin terus terus dan terus menulis. Hingga suatu hari nanti Bang Radit menyebutku sebagi Penulis.
Sehabis talk show-nya selesai ada sesi foto bareng. Aku termasuk yang berkesempatan berfoto bersama sekaligus minta tanda tangan. Seneng banget dweeeehhhhh…. Sambil nunggu antrian aku perhatiin Bang Radit, kayane dia lagi capek deh senyumnya dari tadi kaya gitu mulu trus beberapa kali dia memijat pangkal hidungnya, pasti lagi pusing. Hemmm, biarpun lagi nggak fit gitu tetep bisa ngehibur orang dan berbagi ilmu. Orang keren. Selesai berfoto kami berjabat tangan. Dalam jabat tangan Bang Radit hanya menyodorkan tangannya saja tanpa mencoba menggenggam tanganku. Ummm, mungkin karena dia lagi pusing kali ya, jadi sebenere pengen segera cepet-cepet selesai. Tap tak apalah, kelak 2 tahun lagi justru Bang Radit lah yang akan menggenggam tanganku dengan mantap karena saat itu kami ada dalam sebuah kerja sama, apapun itu. InsyaAllah.
Tunggu gue Bang 2 tahun lagi.

Jumat, 14 November 2014

Rindu Siaga


“Bunda Nikken!!!”
Seruan dari beberapa anak Pramuka Siaga, sesaat setelah mereka menyadari kehadiranku disekolah mereka. Sudah lama sekali aku meninggalkan mereka tapi masih saja ingat denganku, bahagianya.
Dulu, sebelum aku disibukkan dengan tanggung jawab di tempat lain, setiap hari Jumat sore selalu aku mengunjungi mereka, iya berpramuka bersama. Saat itu juga, seruan yang sama selalu aku dengarkan setiap sepeda montorku mulai memasuki lapangan mereka. Belum juga sarung tangan dan helm aku lepas mereka sudah bergrombol saja mereka berebut ingin bersalaman.  Hal ini juga lah, yang sering membuatku rindu dengan anak-anak Siaga ini.

Sore ini pun begitu. Kebetulan ada waktu, ah coba mampir. Sempat aku ragu apakah mereka masih ingat dengan Bundanya yang dulu sering  nitip jajan, Bundanya yang kadang uring-uringan kalau nggak bisa nangani anak-anaknya, dan Bundanya yang paling suka nyuruh mereka untuk main dan jajan. Hahahaha, bunda yang aneh.

Jumat, 10 Oktober 2014

Just a Friend

Menunggu
“Hallooo!!! Mel? Kamu di mana?”
“Di rumah, ada apa Jun?”
“Temenin aku pergi ya, ini aku udah di jalan lima menit lagi sampai rumah kamu, kamu siap-siap!!!”
“Tapi…bentar dulu Jun…..”
“Tuuuuuut, tuuutttt, tuuuuutttt…”
Kebiasan deh ini anak, semaunya sendiri. Nggak tahu apa kalau sore ini aku udah ada rencana. Huh!!
Itu tadi Arjuna, sahabatku sejak SMP. Orangnya baik, care sama temen, humoris, gampang bergaul, lumayan cakep juga sih hehehehe, yaaa pokoknya baiklah. Beruntung aku bisa jadi sahabatnya, tapi satu yang sering bikin aku sebel. Ya seperti itu tadi, suka seenaknya. Minta tolong tapi nggak lihat-lihat kondisi orang yang mau dimintai tolong. Cuman, entah mengapa aku selalu nggak bisa nolak apapun ajakan dari dia.
Nah, itu dia sudah nyampe. Jangan ditanya aku tahu dari mana? Aku udah belasan tahun sahabat sama dia, jadi udah hapal banget deh bau-baunya biarpun jaraknya sekilometer jauhnya. Hahahahaha, ngarang!
“Mellaaaa!!!!!” Juna berteriak. Ini adalah kebiasaan setiap kali kita bertemu. Biarpun berisik dan malu-maluin kalo dilihat orang, kadang aku juga kangen dengan teriakan ini.
“Ada apa?”
“Ayo Mel, temenin aku yuk, ada hal penting nih, dan sepertinya Cuma kamu yang bisa nolongin aku” Kebiasaan deh, ini anak kalau ngerayu sambil ngedip-ngedipin mata sok manis. Kalau udah kaya gini apapun yang aku katakan untuk menolak nggak bakal mempan.
“Iya deh, iya… bentar aku ambil tas dulu”
“Yeee, makasih Mela. Kamu memang sahabat aku yang paling baik”
Biarpun kadang seperti anak-anak tapi sejatinya dia dewasa banget. Kalau aku ada masalah apapun itu, dia adalah orang pertama yang pasang badan buat aku dan selalu ngasih solusi-solusi yang bijak, dan terbukti kok solusi dari dia selalu tepat. Sahabatku satu ini memang the best banget, makanya aku sayang banget sama dia.
---
Sekarang aku udah di atas motor, dibonceng Juna. Aku belum tahu bakal bawa kemana dan belum tahu juga bakal dimintai tolong apa sama Juna di sana. Selama perjalanan nggak ada hentinya deh ini orang cerita, dan selalu ceritanya berhasil membuatku tertawa. Apapun ceritanya kalau yang cerita si Juna pasti jadinya lucu. Dia memang paling bisa ngilangin bosenku.
“Jadi mau kemana kita trus mau ngapain?” tanyaku sedikit penasaran.
“Ehmmmm, jadi gini Mel, 3 hari lagi kan Selly ultah” Selly adalah pacarnya Juna. Udah setahun ini mereka pacaran.
Aneh rasanya mendengar nama itu tiba-tiba rasanya beda. Ada sesuatu yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Yahhh, pokoknya gitu deh, senyumpun akhirnya agak berat. Misalnya di transliterasi jadinya paling gini $%$#@(*&*^%jhftdfstyf(*&*&567vfdr......dst ehhehehehe begitulah.