Jumat, 02 November 2012

Gamelan yang Terdiam


Terlalu lama meninggalkanmu ternyata kau sudah berbeda. Aku di sini dan kau di sana, entah apa yang kau kerjakan tiap hari, sesibuk apakah dirimu, seberapa tidak sempatkah dirimu meluangkan waktu, semenit saja untuk menanyakan kabar. Sederhanakan? namun mengapa tak pernah kau lakukan? Sudah lupakah denganku?

: )
Tak habis pikir, sebelum kuberangkat kau berpesan untuk menjaga hati. Sebetulnya sampai saat ini aku masih bertanya-tanya hati siapa yang yang harus aku jaga? Untuk siapa aku menjaga hati? Kalau aku sudah menjaga hati apa kau melakukan hal yang sama?

Lebih banyak diam, itulah dirimu. Lebih sering aku yang memulai duluan namun tanggapanu seolah sekenanya saja. Bagaikan gamelan yang sudah lelah berdengung, berkali-kali aku coba menabuhnya namun sama sekali tak menghasilkan suara. Kau kenapa? Ingin melupakanku kah? Gamelan yang sudah usangpun jika ditabuh tetap akan menghasilkan suara meskipun tak seindah gamelan yang cemerlang.

Setidaknya sapalah aku, karena itu sudah lebih dari cukup untuk mengisi ulang semangatku. Ucapan selamat pagi itu yang aku tunggu tiap hari. Pertanyaan mengenai keadaan hari ini itu yang aku rindu. Dan senyummu itu yang aku dambakan. Terlalu muluk-mulukkan diriku?

Seandainya kau tetap seperti ini akupun tak dapat berbuat apa-apa. Tetaplah jadi gamelan yang diam sampai aku lelah berusaha menabuhmu, kalau itu pilihanmu aku tak bisa berbuat apa-apa.

0 komentar:

Posting Komentar