Sengaja, malam ini kupandangi ibuku yang sedang tertidur pulas. Padahal masih
jam 20.14 WIB, terlalu sore untuk ukuran istirahat malam. Sudah terbayang
betapa lelahnya beliau berjualan sepanjang hari di pasar. Sedangkan Ayah, di
saat orang lain beranjak ke peraduan super heroku itu malah berjuang mencari
nafkah. Menawarkan jasanya di emperan toko yang sudah tutup. Melawan dinginnya
malam padahal usianya sudah tak semuda dulu dan tak jarang aku melihat Ayah
muntah di kamar mandi karena masuk angin.
Seakan tanpa lelah, kedua orang tuaku bekerja tak mengenal hari libur.
Senin sampai dengan Minggu, tujuh hari seminggu. Itu semua demi putra-putrinya.
Ingin sekali aku bisa membantu Ayah dan Ibu, setidaknya memperingan beban
dipundak mereka. Tapi apa?
seringkali justru aku malah menyusahkan. Selain karena
sakitku yang tiap saat bisa kambuh, tagihan SPP tiap semester dari kampusku
menjadi salah satu tanggungan yang lumayan berat. Delapan semester sudah aku
belajar dibangku perguruan tinggi. Seharusnya sudah ada tanda-tanda kelulusan. Semakin
tertekan ketika tahu sahabat-sahabatku sudah melalaui sidang skripsi dan
dinyatakan lulus. Aku? Yah, saat ini masih dalam proses bab III.
Aku ingin segera lulus, membuat Ayah dan Ibuku bangga ketika ada gelar S.Pd
di belakang namaku. Karena itulah yang mereka perjuangkan siang dan malam demi
mewujudkan cita-cita anaknya.
Ayah, Ibu maafkan anakmu ini . . .








0 komentar:
Posting Komentar