Selasa, 11 Juni 2013

Bu, Yah Terimakasih Ya . . .

Sengaja, malam ini kupandangi ibuku yang sedang tertidur pulas. Padahal masih jam 20.14 WIB, terlalu sore untuk ukuran istirahat malam. Sudah terbayang betapa lelahnya beliau berjualan sepanjang hari di pasar. Sedangkan Ayah, di saat orang lain beranjak ke peraduan super heroku itu malah berjuang mencari nafkah. Menawarkan jasanya di emperan toko yang sudah tutup. Melawan dinginnya malam padahal usianya sudah tak semuda dulu dan tak jarang aku melihat Ayah muntah di kamar mandi karena masuk angin.

Seakan tanpa lelah, kedua orang tuaku bekerja tak mengenal hari libur. Senin sampai dengan Minggu, tujuh hari seminggu. Itu semua demi putra-putrinya. Ingin sekali aku bisa membantu Ayah dan Ibu, setidaknya memperingan beban dipundak mereka. Tapi apa?
seringkali justru aku malah menyusahkan. Selain karena sakitku yang tiap saat bisa kambuh, tagihan SPP tiap semester dari kampusku menjadi salah satu tanggungan yang lumayan berat. Delapan semester sudah aku belajar dibangku perguruan tinggi. Seharusnya sudah ada tanda-tanda kelulusan. Semakin tertekan ketika tahu sahabat-sahabatku sudah melalaui sidang skripsi dan dinyatakan lulus. Aku? Yah, saat ini masih dalam proses bab III.

Aku ingin segera lulus, membuat Ayah dan Ibuku bangga ketika ada gelar S.Pd di belakang namaku. Karena itulah yang mereka perjuangkan siang dan malam demi mewujudkan cita-cita anaknya.

Ayah, Ibu maafkan anakmu ini . . .

0 komentar:

Posting Komentar