jika memang tidak lagi dapat disatukan mengapa terus saja
memberi harapan? Padahal kamu tahu, aku sulit untuk tegas dengan hal-hal
seperti ini. Karena apa? Sayang.
Nggak hanya satu atau dua orang saja yang menganjurkan
supaya aku tidak bersamamu. Memang berbeda-beda cerita mereka namun satu genre.
Ya, lebih banyak keburukanmu yang mereka ceritakan. Kamu tahu apa yang aku
lakukan? Aku tekan pikiran negatifku dan selalu yakin bahwa kamu tidak seperti
apa yang mereka katakan.
Saat aku putuskan, ya aku bersamamu untuk yang pertama kali
seakan ada resiko besar yang akan aku tanggung. Seandainya mereka benar
terhadapmu, trus gimana ya? Itu yang aku pikirkan setiap saat. Bisa dibilang
saat itu aku meragukanmu, terlalu meragukanmu dan terlalu waspada sampai-sampai
kesalahan kecil bisa membuat kita mennjadi teman lagi (putus). Anggaplah saat
itu aku labil, bisa jadi seperti itu, atau terlalu takut.
Sengaja aku tak beri tahukan mengenai hubungan kita kepada
teman-temanku, bahkan sahabatku saja tidak tahu. Itu lantaran aku tak mau
mendengar cerita buruk tentangmu yang akhirnya akan menggoyahkan keputusanku
saat itu.
Berjalannya waktu, aku sadari. Sayangku terhadapmu masih ada
dan tidak seharusnya aku memperlakukanmu seperti itu. Makanya ketika kau tawarkan
lagi hubungan yang seperti dulu, aku iyakan. Hubungan jarak jauh memang agak
susah dijalani, namun bukan berarti aku nggak bisa. Aku bisa kok, toh teknologi
sekarang canggih. Tapi, mengapa kau ulangi lagi hal itu??? Saat itu justru aku
merasa terancam. Huft... maaf ku lukai hatimu untuk yang kedua kali.
Aku pikir, aku akan cepat melupakanmu. Ternyata nggak. Justru
aku semakin sayang denganmu. Yah, gara-gara gengsi barang kali jadi aku nahan
diri untuk tidak menghubungimu melalui media apapun. Secara tidak sengaja kita
bertemu, itulah awal kita kedekatan kita lagi. Betapa tak menyangkanya hatiku
dan jujur saat itu aku senang. Hehehehe
Singkat cerita kita menjadi dekat, dekat dan semakin dekat. Bahkan
melebihi kedekatan kita saat ada label itu. Di situ aku bimbang, dua kali ku
torehkan luka di hatimu pasti bekasnya masih. Jadi tidak heran kalau kamu jadi
meragukanku. Tapi, kalau kamu ragu mengapa malah sedekat ini? Jadi bingung kan?
Beberapa kali aku pertanyakan jawabannya nggak bisa tetapi, ya itu tadi kamu
tetap mencurahkan perhatian kepada diriku.
Sampai pada akhirnya dengan berat hati, “kalo memang nggak
bisa bareng lagi ya nggak apa-apa, nikken nggak bisa menuhin permintaan mas. Nikken
nggak akan nyesel kok ,kalopun nyesel bakal tak simpen sendiri. Makasih buat
semuanya” -percakapan lewat telepon 22
Oktober 2013-
NB: cerita di atas rada fiktif, kalo kata2nya banyak yang salah atau tidak runtut hehehe maapin...









0 komentar:
Posting Komentar