Sore itu seperti biasanya Nina menyapu
halaman. Menggunakan sapu lidi dia menggiring daun-daun kering supaya berkumpul
di tengah halaman. Telinganya sengaja disumbat dengan earphone yang tersambung
dengan handphone di sakunya. Dari sana terdengar lagu-lagu favoritnya, dengan
begitu dia dapat menikmati pekerjaan rumahnya yang kadang-kadang dia malas
mengerjakannya.
Nina terlihat manggut-manggut mengikuti beat
musik, dia terlihat menikmatinya. Samar-samar terdengar suaranya ikut
bernyanyi. Tak terasa hampir seluruh daun sudah terkumpul di tengah. Sudah
saatnya dipindahkan ke bak sampah.
“Brukk!!!!!” Sapu dan pengki yang Nina pegang
terjatuh. Pandangannya lurus ke depan, kosong. Matanya berkaca-kaca.
Berjalan seorang pria muda, dengan jaket lusuh di pundaknya. Di sela bibir tampak mengering, terselip sebatang rumput. Jelas menatap awan berarak, wajah murung semakin terlihat. Dengan langkah gontai tak terarah, keringat bercampur debu jalanan.
Suara Iwan Fals mendendangkan Sarjana Muda
merasuk lurus ke telinga Nina. Seakan dipaksa mengaca, dia tertunduk memandangi
daun-daun di kakinya. Air mata mengalir entah di dari mana sumbernya.
Nina adalah lulusan sebuah perguruan tinggi
terkemuka di kotanya. Sudah 6 bulan dia menyandang gelar sarjana, namun hingga
saat ini belum ada persusahaan yang menerimanya bekerja. Beberapa perusahaan
sudah pernah dia datangi, tapi belum juga memberikan kabar gembira. Sekalinya ada
harus di tempatkan di ibu kota. Jakarta. Itu artinya harus meninggalkan rumah,
dan tentu saja langsung ditentang oleh ibunya. Sudah cukup rasanya dia
meninggalkan rumah izin kuliah, untuk bekerja cari yang deket aja, nggak
kasihan apa sama orang tua udah sepuh semua?
Kondisi inilah yang membuatnya dilema. Satu sisi
dia nggak ingin ninggalin orag tuanya, tapi di sisi lain dia juga ingin
menunjukkan baktinya, membalas budi ke orang tua karena udah menjadikannya
seorang sarjana. Lebih-lebih ingin membuat kedua orangtuanya bangga karena
sukses dalam karier.
“Hufffttt” Nina menghela nafas panjang. Dalam
benaknya teringat percakapannya tadi pagi dengan ayahnya.
“Yah, semalem aku dikabari sama temenku
katanya ada lowongan pekerjaan yang cocok buat aku, tapi di Bandung” Nina
bercerita antusias.
Ayahnya tak bereaksi, masih asik dengan koran
yang dibacanya.
“Ayah...” Suara Nina agak merajuk “Ayah nggak
ndengerin ya?”
Ayah menyeruput kopi yang dari tadi agak
dicuekin “Nin, sabar dulu, yang penting kamu di rumah biar ibumu seneng”
Ayahnya melanjutkan “Tenang aja suatu saat kamu pasti dapet tempat kerja yang
cocok, toh kebutuhan kamu masih bisa dipenuhin sama ayah dan ibu to?”
Setelah menyelesaikan kalimatnya tanpa
melihat Nina sedikitpun. Pandangannya tetap tertuju pada koran yang dia pegang.
Nina berdiri terpaku. Sebetulnya jawaban itu sudah dia prediksi sejak awal,
namun entah mengapa tetap saja hatinya hancur mendengarnya. Tak ingin ketahuan
menangis Nina masuk ke kamarnya. Air mata megalir di pipinya. Dia tak habis
pikir kenapa orang tuanya masih saja tidak memperbolehkannya bekerja di luar
kota. Sama halnya dengan anak lainnya, setelah dia berhasil menamatkan S-1
tujuannya saat ini adalah bekerja. Mengaplikasikan ilmunya ke dunia kerja,
meskipun kadang juga nggak sesuai. Tapi intinya Nina ingin mempunyai karier
seperti teman-temannya yang lain. Suatu beban tersendiri, seorang sarjana tapi
masih menganggur. Berasa seperti internet explorer tapi nggak pernah berguna.
Engkau sarjana muda resah mencari kerja, mengandalkan ijasahmu. Empat tahun lamanya bergelut dengan buku, ‘tuk jaminan masa depan. Langkah kakimu terhenti, di depan halaman sebuah jawaban.
Sepertinya
bang Iwan tak menghiraukan apa isi hati Nina, tetap saja dilanjutkan lagunya
sampai pada refrainnya. Semakin teraduk-aduk hati Nina. Sejenak dia tersadar
dari lamunannya. Di kakinya masih berseraka daun-daun kering yang siap dikeruk
dan dimasukkan ke bak sampah. Diambilnya sapu dan pengki yang sempat lepas dari
genggamannya. Kemudian Nina bergegas menyelesaikan tugasnya sore itu, masih
dengan menyimak suara Iwan Fals yang entah kapan berakhirnya.
Semua daun
sukses dipindahkan di bak sampah. Nina mengedarkan pandangan ke penjuru halaman
rumahnya yang teduh. Dengan tangannya dia mengusap keringat. Di earphone masih
mengalir lagu Sarjana Muda kali ini refrain terakhir.
Engkau sarjana muda resah mencari kerja, tak berguna ijasahmu. Empat tahun lamanya, bergelur dengan buku, sia-sia semuanya. Setengah putus asa dia berucap ‘maaf ibu’.
“Maaf ibu”
katanya lirih. Kembali air matanya mengalir.
Tiba-tiba
handphonenya berbunyi, kali ini bukan lagu-lagu bang Iwan lagi tapi sebuah panggilan
tersangkut. Nomor asing.
“Hallo?”
“Hallo
dengan Mbak Nina?”
“Iya betul,
maaf ini siapa?”
“Saya Rita mbak,
dari Penerbitan Gigih Media” mbak penelpon melanjutkan “begini mbak Nina, jadi
kemarin kami telah menerima aplikasi yang telah mbak Nina kirim, kami sudah
mempelajarinya dan pimpinan kami tertarik. Untuk itu besok Mbak Nina bisa
datang ke kantor ya untuk interview jam 9 pagi”
“I-iya mbak
bisa, bisa” Nina masih nggak percaya info yang baru saja didengarnya.
“Ok, kalau
begitu, sampai bertemu besok di kantor”
“Iya, mbak
terimakasih”
Lagi,
pandangan Nina kosong lurus ke depan. Kali ini sesimpul senyum ada di wajahnya.
“Yeaaaahhhhh!!!!
Terimaksih Tuhan” Nina berteriak dan sujud sukur. Insya Allah kali ini ayah dan
ibu mengizinkan aku terima pekerjaan ini, kan masih di dalam kota.
*sebuah cerita sederhana yang juga jadi harapan ^_^
*sebuah cerita sederhana yang juga jadi harapan ^_^








0 komentar:
Posting Komentar