Solo spirit of Java. Emmmm, slogan kota Solo yang banyak tertulis di kaos-kaos. Serasa kembali ke zaman dulu ketika kami sekeluarga-yang dimaksud kelurga besar Guslat Base- mengunjungi Keraton Surakarta. Eh… Surakarta atau solo ya? Mmmmm… nggak tahu deh biar gampang kita nyebutnya dengan Keraton Surakarta aja ya, biar agak panjangan gitu.
Pertama kali menginjakkan kaki di sana
aku Cuma bisa takjup melihat bangunan Istana yang masih terjaga. Mata ini pun
tak henti-hentinya menatap semua pemandangan indah, sampai lupa berkedip bahkan
mulut agak menganga –udah kayak orang bego aja- untung nggak sampai ngiler.
Arsitektur bangunan masih dipertahankan seperti aslinya. Para abdi dalem pada
berkeliaran kesana-kemari dengan pakaian tradisional. Di sebrang sana ada
kelompok-kelompok wisatawan asing sedang serius mendengarkan Tour Guide-nya
yang komat-kamit menjelaskan tentang bangunan Keraton. Bule itupun Cuma
manggut-manggut. Entah itu tanda mereka paham atau memang cara mereka untuk
menyuruh diam tour guide yang kebanyakan bicara. Namun sayangnya sang tour
guide lokal itu tak mengerti tanda yang dilancarkan sang bule, akhirnya terus
aja komat-kamit dengan sesekali menunjukkan senyum ala pepsodent. Ting!! Maaf
mas Silau….
Sengaja rombongan kami tidak menyewa
tour guide. Alasannya ya, biar ngirit. Toh kita juga punya anggota yang asli
Solo kok. Jadi suruh aja dia yang nerangin. Tak puas dengan penjelasan teman
sendiri. Bukan karena nggak percaya atau kurang lengkap, tapi kita ingin mencari
suasana baru and nambah kenalan akhirnya ita berpencar, tersebar keseluruh
penjuru ada yang naik ojek, terbang bahkan ada yang naik garuda –bohong banget-
maksutnya kita nyebar gtiu terus nyari kenalan baru buat ngobrolin tentang
Keraton Surakarta.
Dengan barometer PD paling pol dan
bermodal senyum ramah khas Jawa Tengah. Aku mendekati seorang Bapak-bapak
tukang sapu. Ngekkk??!!! –kaya nggak ada yang lain-. Pikirku bapak-bapak itukan
tiap hari kerjanya di sini, jadi dengan logika x+2y=12 –apa hubungannya?- aku
berpendapat Bapak itu tahu segalanya. Di luar perkiraan beliau menceritakan
banyak hal, sambil mendengarkan ceritanya sambil menganggukkan kepala, tanganku
ikut mengumpulkan sampah-sampah daun yang disapu bapaknya tadi. Hehehe… nggak
apalah itung-itung mbantuin bapaknya sambil menimba ilmu.
Tidak hanya itu. Sesaat ada rombingan
anak SMA dating lengkap dengan tour guide yang berkomat-kamit dengan megaphone.
Aksi selanjutnya dilancarkan. Pura-pura istirahat di dekat rombongan anak-ana
Ababil yang pake sukanya pakai rok atao celana di bawah pinggang ditambah
dengan sabuk kulit imitasi dengan lebar lebih dari 5 cm, gespernya pun nggak
kalah gedhe. Sebenanya mereka itu kawanan pelajar atau pasukan Power Rangers
berseragam sekolah? Hehehehhe sambil kipas-kipas, sesekali nengok ketemen
sebelah pura-pura ngobrol, padahal kita pasang telinga, mendengarkan penjelasan
dari tour guide anak SMA itu.
Baterai Megaphone-nya mau habis kali ya?
Kok suara bapak itu nggak jelas? Lama-lama malah kaya dukun yang baca mantra.
Setelah aku pikir-pikir emmmmm…. Bisa juga sie itu sebuah mantra. Mantra untuk
membuat orang merasakan rileks dan akhirnya masuk kea lam bawah sadar –tidur
maksutnya- soalnya siswa-siswa di depannya udah pada menguap semua. Hehehe..
Uqkay…. Selesai wisata di keraton
sekarang saatnya Belanja di Pasar Klewer!!!!!! Nggak begitu antusias sie
sebenarnya soalnya ngrasa salah kostum. Yang bener aja masak muter-muter Klewer
pakai hight heels? Sakit beb huhuhuhuhu…. Temen-temenku udah pada berkeliran
dengan beringasnya memburu batik harga miring sedangkan aku bersama 2 orang
sahabatku berjalan lambat di belakang sambil sesekali mereka nengok ke aku
dengan tatapan yang berbicara “Nikken cepetan!!!!!” mata mereka pun memerah,
kedua taring gigi mereka tumbuh, dua tanduk tumbuh di kepala mereka mirip
seperti devil yang ada di TV-TV. Sebelum
mereka menelanku bulat-bulat aku lari menyusul sambil meningalkan suara
“cethak, cethok, cethak, cethok” yang keluar dari sepatuku.
Dua jam lamanya kami mengelilingi
Klewer. Lantai satu ke lantai dua, lantai dua ke lantai tiga, eh! Salah Klewer
Cuma dua lantai doang. Maksutnya dari lantai dua turun lagi ke lantai satu.
Bisa di bayangin nggak sie bagaimana menderitanya kakiku. Capek sie enggak,
tapi lecet iya. Haduuhhhhh….. hasil dari perburuan kami selama dua jam itu
adalah Kaos khas Solo yang tulisannya Spirit of Java masing-masing kami beli
sendiri-sendiri dengan warna yang sama namun gambarnya beda.
Lelah jalan-jalan kami mampir di warung
Bakso. Gila! Bakso di sana mahal banget satu porsi Rp 10.000 kalau enak sie
mending tapi ini bakso hambar banget dibandingin siome Unnes kalah jauh.
Ditambah dengan pengamen yang menghambat laju makan kami.
Suapan pertama baru aja masuk mulut.
Baru dikunyah tiba-tiba hp ada yang nelpon. Dari temen serombongan katanya yang
lain udah ada kumpul mau berangkat makanya suruh cepet balik ke bis atau kalau
nggak bakal ditinggal. Ok.ok atas nama mubazir dan katanya mubazir itu temannya
setan dan lagi kami nggak mau temenan sama setan. Kami tetap menghabiskan
hidangan yang telah di sajikan meskipun dalam prosesnya kami sering merem melek
merasakan rasa yang nggak karu-karuan –iuewhh… Wekkk, nggak lagi-lagi makan di
situ-
Selesai makan dan bayar. Masih dengan
kekagetan karena harga makanan tadi mahal banget tidak sebanding dengan
rasanya, kami bergegas menuju parkiran. Masuk bis dengan nafas tidak beraturan
kami kompak pasang senyum pepsodent sambil menuju bangku masing-masing.hehehe
tak kirain udah yang terakhir aku masuk bis, ternyata masih ada yang lebih
telat. Hemmmm, saat yang terakhir naik bis sorakanpun berhambur kepadanya.
Tidak ketinggalan aku pun turut menyorakinya –hehehe kyak nggak inget dosa yang
barusan-
Semua lengkap! Kita berangkat ke next
destination. Yeeee!!!!!! : D Tapi, udah sore banget, kemaleman kalau mau ke
Tawangmangu. Yahh……. : ( untuk mengobati kekecewaan kami mampir ke UNS dan
muter-muter aja di dalam kampus. Untung nggak jadi pakai bis Unnes, coba jadi
kita di sambut deh. Dan pastinya akan bikin penghuni UNS geger….
Udah, habis itu perjalanan kembali
menuju kampus tercinta…









0 komentar:
Posting Komentar