Rabu, 16 Januari 2013. Sebuah perjalanan yang tragis, fantastis,
sistematis, eh! Kok sistematis? Ehmmm... melankolis dan bombastis tentunya, aku
alami demi sebuah misi rahasia, apa itu? Mau tahu ya? Ihhhh, kepo....!! hahahha
becanda kawan. Misi rahasia itu adalah mengajukan topik skripsi. Hedeh dari
dulu belum acc-acc, itulah hidup harus slalu berjuang.
Kemarin aku nggak ngampus, gara-gara seharian hujan. Pasti Semarang banjir
gedhe, kasihan jupe dong diakan kaya aku nggak bisa renang. Hehehehe. Dan hari
ini aku bertekad mengibarkan bendera perjuangan mahasiswa semester akhir yang
berjuang demi disetujuinya topik skripsi. Sok-sokan mau perang aja, padahal ya
iya, perang batin maksudnya.
Pagi-pagi udah berangkat nie bareng Momo, lho kok nggak sama Jupe? Tadi kan
aku udah bilang Jupe nggak bisa renang makanya Papa Derek nyuruh putrinya yang
cantik jelita ini supaya berangkat sama Momo, Matic kesayangannya itu. Ok!
Bermodal uang saku dari Mama Derek, sekotak bekal nasi dan sayur, serta laptop
dan kawan-kawannya yang tersimpan rapi di tas ajaibku, aku berangkat.
Bismillah!!!
Di tengah jalan, eittt!!! Eittt!!!! Aku ngerem mendadak. Wahhhhh!!! Banjir. Posisi baru menuju Kaligawe. Teringat pesan Papa Derek “Nok, mengko Kaligawe banjir. Banjire rada jeru, mulane mengko lewate nganan terus. Aja ngiri, nek ngiri mengko kelep montormu. Lha nek wis arep tekan rel sepur mengko nengah sithik soale ana jeglongan ning kono....dst...dst...dst” sebenere sie masih panjang, kalau aku tulis semua ntar malah keisi pesan Bapakku semua deh. Any way karena Bapakku udah pesen kayak gitu, ya sebagai anak yang baik hati dan patuh terhadap orang tua ya manutlah. Aku di lajur kanan terus, hehehhe ya memang sebe;ah kiri itu banjirnya lebih dalem. Hampir sejam aku tertahan di kaligawe, nggak cuman gara-gara banjir tapi juga gara-gara macet. Ampun deh, kalau nggak banjir sie, aku bisa asal lewat aja di sela-sela kendaraan yang lain. Lha ini spesial dengan banjir. Sabar-sabar. Alas kaki udah tak lepas. Sekarang kakiku bugil merakan air banjir yang nggak jauh dari kata bening en’ bersih. Pelan-pelan jalan berhenti lagi. Maju semeter, berhenti lagi. asik bisa dua meter, eh! Berhenti lagi. bisa jalan lancar tapi pelan, alhamdulillah. Tapi, crrruuuuaaaatttt!!!!! Aduh!!! Kecipratan air dari ruas jalan sebelah. Satu kata SABAR. Lant jalan, udah mulai masuk kawasan Kaligawe nie. Lancar sie tapi jalannya mesti pelaaaaannnn banget. Banjirnya udah lebih dari setengah bannya Momo. Pelannnn, pelaaaannnn sambil jaga keseimbangan soalnya gelombang yang dihasilin oleh kendaraan yang lebih gedhe banyak jadinya ya, naik motor kaya di laut, gelombangnya banyak.
Akhirnya dengan penuh kelegaan, aku bisa melewati itu semua. Alhamdulillah.
Tapi-tapi-tapi, hah?! Banjir lagi? di kota lama. Kudu pelan-pelan lagi.
sabar-sabar dan sabar. Aku suka kesabaran. Untung nggak kayak di Kaligawe jadi
kecil ngelewati ini.
Semuanya udah berakhir, dan sampailah aku di Kampus tercinta. Bertemu
dengan kawan-kawan seperjuangan. Bersendau gurau, cekakak-cekikik khas anak
muda. Ketika aku bertanya mengenai bapak ini, mereka semakin tertawa lebar.
Lho? Emangnya ada apa sih? Salah seorang dari sahabatku itu menjelaskan “Pak
ini dan Pak yang satunya lagi nggak mau menerima bimbingan atau konsultasi sampai
tanggal 1 Februari 2013”. Emangnya kenapa? “Karena sibuk”. Dalam hati aku
mikir, iya ya, ini kan musim-musim mau yudisium pasti ribet banget tu ngurusin
nilai mahasiswa. Hemmm... ya sudah.
Kalau nggak bisa konsultasi hari ini, itu artinya perjuanganku hari ini
yang nerjang lautan (banjir2an) dan ngantri masuk pelabuhan (macet2an
maksudnya) sia-sia dong. Ow.ow.ow.ow.................
Pulang ahhhhh....!!!!








0 komentar:
Posting Komentar