Untuk Kakak yang ada di sana...
Hemmm, mulai dari mana ya, Kak? :)
Hemmm, mulai dari mana ya, Kak? :)
Apapun yang terjadi aku berharap kakak selalu dalam keadaan baik-baik saja dan slalu bisa tersenyum, meskipun kadang bukan buatku senyumnya. :P
Aku tulis surat ini sengaja, karena aku tau kakak tak akan membacanya jadi aku berani mengungkapkannya di sini. Mugkin akan timbul pertanyaan lalu ditulis buat apa? ya setidaknya uneg-uneg ini bisa tersalurkan dan aku menjadi lega. itu saja.
Kakak merasa nggak ada yang aneh dari hubungan kita? kakak nyebutnya apa? hemmm? Bingung kan? apa lagi aku? dan anehnya hubungan seperti ini bertahan hingga tahunan. Selama itupun aku selalu berpikir apakah aku terlalu lugu? terlalu naif? atau terlalu cinta? :)
Kakak, kakak... aku sayang banget sama kamu.
Setiap lihat hpku berdering aku berharap ada telpon atau sms darimu. Setiap buka fb aku berharap ada pesan darimu. Ketika ada kegiatan aku berharap di sana juga ada kamu. Tahu nggak betapa hancurnya hati ini, ketika ternyata ada yang lain? Sakit kak, sakit banget. Dan ketika sebuah pembicaraan serius berlangsung ternyata hanya sebuah bualan tanpa realisasi, saat itu aku kecewa, benar-benar kecewa. Saat itu mungkin aku bisa mengajukan mosi tidak terima atau bisa saja aku berontak. Namun apa? aku hanya diam kan? berucap "Iya udah kalo gitu, nggak apa-apa" seakan tak terjadi apa-apa dan sok-sokan kuat menahan lara yang sebentar lagi akan terasa. Padahal, kakak tahu, Aku rapuh kak, bagai kayu lapuk yang tergilas truk. Hancur, tak berbentuk. Mengenaskan.
Setiap lihat hpku berdering aku berharap ada telpon atau sms darimu. Setiap buka fb aku berharap ada pesan darimu. Ketika ada kegiatan aku berharap di sana juga ada kamu. Tahu nggak betapa hancurnya hati ini, ketika ternyata ada yang lain? Sakit kak, sakit banget. Dan ketika sebuah pembicaraan serius berlangsung ternyata hanya sebuah bualan tanpa realisasi, saat itu aku kecewa, benar-benar kecewa. Saat itu mungkin aku bisa mengajukan mosi tidak terima atau bisa saja aku berontak. Namun apa? aku hanya diam kan? berucap "Iya udah kalo gitu, nggak apa-apa" seakan tak terjadi apa-apa dan sok-sokan kuat menahan lara yang sebentar lagi akan terasa. Padahal, kakak tahu, Aku rapuh kak, bagai kayu lapuk yang tergilas truk. Hancur, tak berbentuk. Mengenaskan.
Sampai sebegitunya, seharusnya kalau cewek normal akan langsung pergi dan membuang segala kenangan tentang orang yang telah menyakitinya. Namun, mungkin aku sudah abnormal. Iya, abnormal karena Cintaku terhadapmu yang membutakan segalanya. Aku tetap setia menunggu dalam ketidakpastian. Menunggu dalam sebuah tanda tanya. Dan menunggu sembari mengobati lukaku sendiri. Kakak tahu bagaimana aku menyembuhkan luka? Dengan berkegiatan, saat itu aku menjadi sangat gila dengan semua kegiatan sampai-sampai aku tak menghiraukan himbauan dari ragaku sendiri kalau aku sudah lelah...lelah dan sangaaaatttt lelah sampai aku tak kuat dan terbaring di Rumah Sakit.
Huft... sampai seperti itu kak.
Aku bukannya ingin menyalahkan kakak. Bukan. Tapi memang begitulah yang aku rasakan.
Sekarang keadaannya sudah berbeda. Sudah jarang ada SMS dari Kakak, sudah jarang ada telpon dari kakak dan sudah jarang ada pesan dari kakak. Apakah kakak mulai mundur teratur?
Masih ingat, kakak pernah mengutarakan sebuah alasan kepadaku "Karena tak ingin menyakitimu, Nok. Tak ingin membuatmu menangis". Tahu sesuatu? cewek manapun jika mendengar alasan seperti itu justru malah akan sakit hati termasuk juga aku.
Sudahlah, hehehe sebenarnya ini surat cinta tapi kok seperti surat somasi ya? Maaf ya Kak... ya inilah yang aku rasakan. Kakak nggak perlu khawatir dengan keadaanku, aku baik-baik saja. Aku masih bisa mendongak dan menatap langit.
Terimakasih atas segala kenangan yang kakak berikan. Sangat berarti dan menjadi salah satu sejarah dalam perjalanan hidupku.
Asal Kakak tahu hingga sekarang rasa sayang itu belum hilang dan mungkin tak akan hilang...









0 komentar:
Posting Komentar