Selasa, 21 Mei 2013

Bukan Tangan Ayahku yang Kau Jabat


Sekian lama tak ada kabar, sekalinya muncul membawa berita “gembira”. Aku turut tersenyum serta mendoakan. Semoga kau bahagia meski akhirnya bukan tangan Ayahku yang akan kau jabat.


Rasanya tak perlu lagi aku ceritakan dari awal, semuanya sudah pernah aku tulis di sini. Hemmm, masih ingat terakhir kau datang ke rumahku. Ya... lebaran kemarin. Setelah itu pun rasanya kita baik-baik saja meski, entah kamu menyadarinya atau tidak aku menjaga jarak darimu (setelah semua yang terjadi). jarak itu semakin melebar seperti selat yang memisahkan Jawa dan Bali, Jawa dan Sumatera, Jawa Timur dan Madura dan lain sebagainya.

Jika aku perhatikan, sejak saat itu arus komunikasi antara aku dan kau layaknya seperti operator yang kehilangan signal. Hehe jadi ingat dengan tulisanku terdahulu Signal Kuat Punya Siapa? kalau signalnya udah hilang ya mau bagaimana lagi? mengganti operator seluler adalah pilihan yang efektif dari pada harus berjuang memanjat pohon kelapa demi segaris sinyal atau memperlakukan HP layaknya obat batuk yang harus dikocok sebelum digunakan.

Iya! berganti seluler...

Pagi itu, sebuah pesan tersangkut di HP-ku. Ku lihat, ternyata darimu. Dalam hati berkata “Tumben? Mau apa lagi nie orang? Memberi ucapan selamat pagi? Atau motivasi supaya semangat beraktivitas? Atau memberi tahu kalau mau berangkat ke tempat kerja?” itukan pesan yang sering kau sangkutkan di HP-ku dulu, dan paling aku balas dengan “ya, pagi juga” atau “nuwun” atau “hati-hati” atau bahkan nggak aku balas.

Ternyata . . . . Rencana Pernikahan
He? Apa? pernikahan?
 (menghela nafas panjang) Sebuah rencana pernikahan merupakan kabar yang menggembirakan. Kali ini aku tak mau mengingat apa-apa yang terjadi dulu. Ya... itu sebuah kabar yang sangat menggembirakan. Menggembirakan. Sangat menggembirakan. Aku pun sempat membalas pesanmu itu dengan sebuah do’a yang sudah biasa disampaikan dalam momen seperti itu. “Semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawadhah, warahmah”. Aamiin.

Jangan berpikir aku cemburu, patah hati, sedih, apa lagi galau. Dikit sih, tapi udahlah aku bisa menanggulanginya. Yang aku pikirkan saat ini adalah dengan siapa aku akan datang di acara setahun seumurhidupmu itu? Aku tak mau kau mengkhawatirkan aku (meski kemungkinannya kecil) karena melihatku datang sendirian dan memaksakan terseyum padamu, pasti kau membalas dengan senyum yang juga sedikit terpaksa tentunya. Atau aku nggak datang aja? Pasti kamu menyangka kalau aku sakit hati dan bla-bla-bla-bla dst. Pada intinya aku ingin terlihat kuat seolah tak terjadi apa-apa di hadapanmu. Tapi, lengan siapa yang bisa aku pegang supaya tidak terjatuh?

Okelah, sudah. Tak usah dipikirkan lagi. Apapun keadaannya aku akan berusaha datang. Dengan atau tanpa seseorang di sampingku. Yeaaahhh... aku turut bahagia dengan rencanamu.

0 komentar:

Posting Komentar