Sekian lama tak ada kabar, sekalinya muncul membawa berita “gembira”. Aku turut
tersenyum serta mendoakan. Semoga kau bahagia meski akhirnya bukan tangan
Ayahku yang akan kau jabat.
Rasanya tak perlu lagi aku ceritakan dari awal, semuanya sudah pernah aku tulis di sini. Hemmm, masih ingat terakhir kau datang ke rumahku. Ya... lebaran kemarin. Setelah itu pun rasanya kita baik-baik saja meski, entah kamu menyadarinya atau tidak aku menjaga jarak darimu (setelah semua yang terjadi). jarak itu semakin melebar seperti selat yang memisahkan Jawa dan Bali, Jawa dan Sumatera, Jawa Timur dan Madura dan lain sebagainya.
Jika aku perhatikan, sejak saat itu arus komunikasi antara aku dan kau
layaknya seperti operator yang kehilangan signal. Hehe jadi ingat dengan
tulisanku terdahulu Signal Kuat Punya Siapa? kalau signalnya udah hilang ya
mau bagaimana lagi? mengganti operator seluler adalah pilihan yang efektif dari
pada harus berjuang memanjat pohon kelapa demi segaris sinyal atau
memperlakukan HP layaknya obat batuk yang harus dikocok sebelum digunakan.
Iya! berganti seluler...
Ternyata . . . . Rencana Pernikahan
He? Apa? pernikahan?
(menghela nafas panjang) Sebuah
rencana pernikahan merupakan kabar yang menggembirakan. Kali ini aku tak mau
mengingat apa-apa yang terjadi dulu. Ya... itu sebuah kabar yang sangat
menggembirakan. Menggembirakan. Sangat menggembirakan. Aku pun sempat membalas
pesanmu itu dengan sebuah do’a yang sudah biasa disampaikan dalam momen seperti
itu. “Semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawadhah, warahmah”. Aamiin.
Jangan berpikir aku cemburu, patah hati, sedih, apa lagi galau. Dikit sih,
tapi udahlah aku bisa menanggulanginya. Yang aku pikirkan saat ini adalah
dengan siapa aku akan datang di acara setahun seumurhidupmu itu? Aku tak mau
kau mengkhawatirkan aku (meski kemungkinannya kecil) karena melihatku datang
sendirian dan memaksakan terseyum padamu, pasti kau membalas dengan senyum yang
juga sedikit terpaksa tentunya. Atau aku nggak datang aja? Pasti kamu menyangka
kalau aku sakit hati dan bla-bla-bla-bla dst. Pada intinya aku ingin terlihat
kuat seolah tak terjadi apa-apa di hadapanmu. Tapi, lengan siapa yang bisa aku
pegang supaya tidak terjatuh?
Okelah, sudah. Tak usah dipikirkan lagi. Apapun keadaannya aku akan
berusaha datang. Dengan atau tanpa seseorang di sampingku. Yeaaahhh... aku
turut bahagia dengan rencanamu.








0 komentar:
Posting Komentar