Mempersiapkan diri
sejak pagi, mengakrabkan diri dengan debu jalanan, berebut jalan dengan
pengendara lain, sampai pada akhirnya sampai di kampus. Hanya untuk satu tujuan
“Bimbingan Skripsi”.
Ya, pola
kehidupan seperti di atas aku jalani hampir tiap hari. Dan hampir tiap hari
pula tujuanku itu tak tercapai. Hemmmm, mau ngajarlah, ada rapatlah, mau
ngujilah dan mau mau mau yang lain.
Itu adalah alasan-alasan yang terdengar. Kalau sudah begitu apa dayaku? Aku hanya mahasiswa biasa yang menunggu belas kasihan dari dosen untuk dibimbing (hehehehe mulai deh).
Itu adalah alasan-alasan yang terdengar. Kalau sudah begitu apa dayaku? Aku hanya mahasiswa biasa yang menunggu belas kasihan dari dosen untuk dibimbing (hehehehe mulai deh).
Bayangkan dari
Maret hingga sekarang Mei masih saja berkutat di Bab II, itu pun masih
dengan catatan di Bab I. Ibuku selalu
berpesan untuk sabar dan tidak terlalu dipikirkan terlalu dalam “ndak malah
lara meneh”. Tapi gimana mau nggak dipikirin kalau melihat teman-teman
seperjuangan yang lain sudah hampir selesai. Huwaaaaaaaaaaaaaa......
Ada yang bilang
skripsi adalah salah proses untuk pendewasaan seorang mahasiswa yang sebentar
lagi akan benar-benar terjun ke masyarakat secara utuh. Meskipun teori tersebut
belum tentu benar, tapi yachhh... anggap saja itu benar. Jadi kekecewaan yang
hampir tiap hari aku alami anggap saja sebagai latihan jadi ketika di luar sana
aku mengalami penolakan, kekecewaan, atau sesuatu yang kurang sesuai jadi sudah
tahu apa yang harus dilakukan.
Tetep kalem
banjur rampungke Skripsimu!!!!!!









0 komentar:
Posting Komentar