Senin, 18 November 2013

Memilih Diam karena Aku Cewek


Jika Fatin “Memilih Setia”, aku “Memilih Diam”. Diam dan selalu berharap, ya habis aku cewek sie. Hehehe, emang sie sekarang udah jaman emansipasi wanita tapi untuk hal ini menurutku tetap harus cowok dulu. Hehehe.
Dari awal aku udah bertekad untuk tidak merasa ge-er dengan perhatianmu. Aku anggap semua biasa aja, ya tidak lebih dari sekadar perhatian antar teman saja. Aku berusaha untuk tidak menduga-duga apa yang kamu rasakan kepadaku, meskipun memang pada kenyataan aku tidak tahu apa yang kamu rasakan. Hehehe.
Sebenarnya aku bingung apa tujuan dari tulisanku ini. Menceritakan tentang kegalauan yang tak berunjungkah? Hehehe, kayane iya deh.
Udah berapa tahun ya kita kenal? Setahun? Dua tahunan mungkin lebih tepatnya. Di sebuah kegiatan kita bertemu, dan kemudian berlanjut di kegiatan-kegiatan lainnya. Tak aku sangka teman baikku juga ternyata teman baikmu juga. Wajar kali ya kalo kita smsan, namanya juga teman. Tapi aku merasa ada sebuah ketidakwajaran ketika kamu menyisipkan kata ganti kepemilikan setelah kata sapaan akrabmu terhadapku, ditambah ada kata “sayang” pula. Dengan memperhatikan konteks yang ada aku memakluminya dan mengartikan hanya sebuah bercandaan ringan antar teman. Jujur saat itu aku sudah mulau ge-er, tapi sekuat tenaga aku netralisir itu semua. Hehehehe pake air kelapa.
Lalu, kunjunganmu? Aku harus mengartikan apa? Hummmm, sebenarnya nggak ada yang istimewa, yah kunjungan biasa antar teman lah, di tempat PPL, tempat KKN, rumah, nemenin di rumah sakit, dan nganterin pulang meski pake motor sendiri-sendiri. Wajar kan? Yah wajar menurutku, tapi tidak wajar bagi teman-temanku, mereka seakan menjerumuskanku dalam jurang kege-eran, erat sekali ku pegangan suaya tak terjatuh.

Wajarkan main ke tempat PPL kan udah janjian mau maem mie ayam bareng, toh habis itu langsung pulang masing-masing. Untuk menuju tempat PPL-ku kan juga nggak jauh-jauh amat kan, Tembalang-Indra Prasta masih kehitung deket lah, kan sama-sama di Semarang. Jadi Wajar kalau main kesitu.  Lalu tempat KKN, Wajarlah maen ke tempat KKN, kan tempatnya dilewati pas kamu kebetulan mau pulang ke rumah, meskipun untuk masuk ke desanya lumayan jauh, ya biasalah bagi seorang bickers seperti kamu pasti itu nggak jauh, jadi wajar kalo mampir. Maen ke rumah ya wajarlah namanya juga teman, saling mengunjungi kan nggak apa-apa, dan nemenin di rumah sakit? Wajar bangetkan, temen sakit ya dijenguk, ditemenin, diajak ngobrol. See, semua masih dalam tahap kewajaran bukan? Jadi please, jangan jadikan aku ge-er.
Ketika masa-masa akhir studi, aku disibukkan dengan skripsi. Tau kan bagaimana perjuangannya menulis sebuah skripsi? Mengajukan judul, mencari teori, bimbingan dengan dosen, menunggu dosen, begadang sampai malam, dan hal-hal lain yang menjemukan. Aku bersyukur ada kamu, selalu memberi semangat, selalu memotivasi, mengingatkan untuk beristirahat, dan lain-lain lah sampai pada akhirnya aku lulus. Masih wajarkan kalo seperti itu? Just a friend, wajarkan seperti itu?
Oh, Tuhan.... iya, iya sekarang aku merasakan hal yang berbeda. Baik kita sama-sama dewasa, rasanya hal seperti ini bukan hal yang aneh. Ada sesuatu yang aku rasakan terhadapmu, meski aku tahu akan sulit untuk menjalaninya. Aku tak peduli kamu tahu atau tidak, yang jelas aku sudah cukup lega ketika aku luapkan semua itu dalam tulisan ini. Aku bukan seseorang yang pemberani untuk menyatakan semua langsung, masih ada ketakutan barangkali akan merusak persahabatan selama ini. Ya sudah lah melalui tulisan ini aku sampaikan, aku sayang sama kamu. Hehehe, (sok, sok an kaya ABG) sudah lah, ekspektasiku tidak terlalu tinggi untuk hal ini. Ya, jalani sajalah. Hehehehe....
Maaf, ya.... semoga ini tak mengubah apapun yang sudah terjalin diantara kita. Tetep sahabatan ya meskipun kamu udah baca ini. 
Ya, karena aku cewek beginilah aku menyatakannya.

0 komentar:

Posting Komentar