Sabtu, 12 April 2014

Maaf Aku Ingkar Janji

“Waow!!! Keren banget!!!” Fendi memelukku, aku merasa canggung. Tak menyangka reaksinya seperti ini.
“Oh, emmm maaf” Fendi melepaskan pelukannya sekarang dia genggam tanganku. “ Terimakasih ya, gagasan kamu brilian banget. Habis ini langsung aku presentasiin ke bos aku, kalau disetujui ide kamu ini bakal terealisasi di event bulan depan”.

Mata Fendi berbinar kesenangan. Aku hanya tersenyum, turut bahagia karena sahabat karibku sejak SMA ini merasa senang. Iya Fendi adalah sahabatku bahkan sudah seperti keluarga. Meskipun sekarang kami udah bukan pelajar lagi tapi kami tetap bersahabat. Inget banget waktu pertama kali ketemu dengannya, saat itu MOS SMA ban sepedaku bocor di tengah jalan saat mau ke sekolah, lalu ketemu deh sama Fendi. Dia bantuin aku nyari tambal ban terus ke sekolah bareng. Sampai sekolah telat dong, nah sekali lagi dia bantuin aku. Saat dihukum senior gara-gara telat dia minta biar separuh dari hukumanku dia yang nglaksanain. Salut deh dengan kebaikannya, padahal aku baru kenal.

“Huh!!!!” Fendi meniup mukaku “Ngalamun aja”
“Eh, iya maaf. Tadi kamu bilang apa?” tiupannya membuatku kaget membuatku jadi canggung, cara itu memang sering dilakukannya untuk menyadarkanku dari lamunan.
“aku mau nemuin bos aku dulu, kamu pulang sendiri bisa kan? Aku udah nggak sabar mresentasiin ide kamu ini ke bosku, aku yakin dia pasti setuju”
“Ok, nggak apa-apa”
Fendi beranjak dari duduknya dan.... sebuah kecupan hangat di kening sebelum pergi. Aku terpaku, nggak tahu harus bereaksi seperti apa. Hanya bisa melihatnya berlalu pergi sampai benar-benar tidak terlihat. Apa aku bermimpi? Tadi dia nyium kening aku? Apa artinya?

Aku masih penasaran, kenapa Fendi nglakuin itu ke aku. Sekian tahun bersahabat belum pernah dia seperti itu. Ada apa dengannya?

Kami berteman memang kelewat akrab sejak dulu, bahkan teman-teman kami ngira kalau kami jadian. Padahal nggak, cuma temenan aja. Ketika semakin banyak orang yang ngomongin kami jadian waktu itu, kami sempet ngobrol dan ketawa aja soalnya memang kita nggak ada perasaan apa-apa. Ya just a friend lalu sempet tercetus sebuah janji kalau diantara kami jangan sampai ada cinta, karena cinta bakal ngerusak semua keceriaan, persahabatan, keakraban yang udah terlanjur terjalin erat antara aku dan fendi.

Lima tahun yang lalu, memang janji itu terucap begitu mudahnya. Dan selama lima tahun itu juga belum ada kisah cinta yang diceritain Fendi ke aku ataupun sebaliknya. Ya bisa dibilang selama kami bersahabat belum pernah tu ngomongin cinta. Yang ada ya selalu hahahihi ketawa-ketiwi bahas kami berdua.

Sejujurnya ada perasaan berbeda yang aku rasain ke Fendi. Sejak kapan tepatnya aku lupa. Yang jelas perasaan itu semakin lama semakin kuat. Yaitu perasaan di mana aku merasa nyaman, merasa terlindungi, merasa kehilangan kalau nggak ada kabar, merasa ingin selalu bersamanya. Hemmmm, apa sih itu? Cinta ya? Nggak mungkin ah.

Lalu, kalau dari Fendi sendiri apa yang dirasain ya? Dia sosok sahabat yang baik, pasti nggak mungkin kalau ngingkari janji. Toh, selama ini dia wajar-wajar aja sama aku. Kecuali yang tadi. Mungkin karena dia terlalu seneng kali ya, jadi rada kebablasan. Tapi curhat masalah cinta pun dia nggak pernah, masak iya selama lima tahun temenan nggak pernah cerita tentang cewek ke aku? Apa gara-gara aku juga cewek ya, jadi dia agak sungkan curhat masalah kaya gituan ke aku.
Ahhhhh, sudahlah. Sekali sahabat tetap sahabat. Titik.
***

Malam hari di kamar, seperti biasa ritual sebelum tidur ngecek sosial media. Berjam-jam aku bisa betah mandangin laptop sambil tengkurap di kasur. Kebiasaan yang kurang baik sih, tapi cukup menyenangkan.
“Kriiiiiing!!!” hapeku bunyi, dari Fendi.
“Iya Fen? Gimana?”
“Bos aku setuju dengan ide yang aku presentasiin tadi!!!” Sepertinya dia lagi bahagia banget, kedengeran dari suaranya yang suringah.
“Wahhh, selamat Fendi sayang” Ups!!! Aku keceplosan. Hening, satu detik, dua detik, tiga detik tak ada suara apapun. Bodoh banget sih, kok aku bisa-bisanya keceplosan kaya gini. Aduhhhh, gimana aku jelasinnya?
“Aku juga sayang sama kamu” sebuah kalimat yang tak pernah aku sangka bakal terlontar darinya. Aku kikuk, bingung mau ngomong apa. Yang bisa aku lakuin Cuma berdo tiba-tiba hapenya fendi lowbat.
“Ehem” Fendi berdehem, seakan ingin menghilangkan sesuatu dari tenggorokannya “Emmm, sebetulnya udah sejak lama aku sayang sama kamu”.
Degup jantungku berdebar lebih cepat. Aku tak percaya dengan apa yang aku dengar. Apa tadi? Dia bilang kalau udah lama sayang sama aku?
“Kamu pasti bingung, jujur aku juga bingung dengan perasaan ini. Tiba-tiba muncul gitu aja tanpa aku tahu kapan datangnya. Yang jelas rasa sayang itu dari hari ke hari semakin kuat aja. aku kira ini hanya perasaan sayang ke sahabat tapi ternyata lebih dari itu, aku bener-bener sayang sama kamu, cinta sama kamu”
Kalimat terakhir bergema, kedengarannya seperti berulang-ulang. Aku semakin nggak percaya.
“Hahaha, mungkin kamu nggak percaya dengan omonganku tadi, sama awalnya aku juga nggak percaya dengan perasaanku tapi mau gimana lagi aku udah terlanjur sayang sama kamu. Makany sekarang aku mau minta maaf ke kamu, maaf aku ngelanggar perjanjian kita dulu. Boleh kan? Boleh aku mencintai kamu”
Hening kembali, satu, dua, tiga bahkan sampai sepuluh detik tak ada suara. Sampai akhirnya aku beranikan diri untuk bicara.
“Fendi, aku juga mau minta maaf”
“Minta maaf kenapa?”
“Aku juga udah ngelanggar janji kita, sejak lama aku udah sayang sama kamu, ngrasa nyaman di dekatmu dan ngrasa kehilangan kalu nggak ada kamu. Yahh, aku jatuh cinta sama kamu”
“Emmmm, jadi kita jadian?”
“Iya”

0 komentar:

Posting Komentar