| Ilustrasi |
Minggu, 17 Agustus 2014. Pertama kali mengikuti upacara bendera sebagai seorang guru. Iya, guru. Sebuah profesi yang saya idam-idamkan sejak dulu. Profesi yang mulia, sejalan dengan tujuan bangsa Indonesia "mencerdaskan kehidupan bangsa". Dalam hati saya berdoa, semoga bisa ikut mewujudkannya.
Derap langkah pasukan pengibar bendera menggetarkan relung jiwa. Gerakan nan kompak dan mantap seakan ingin menunjukkan "inilah kami putra-putri Indonesia, siap mengisi kemerdekaan dengan ukiran-ukiran prestasi yang indah". Iya betul mereka memang putra-putri Indonesia yang istimewa. Meskipun dalam kondisi sederhana namun tak mengurangi kehidmatan upacara peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia.
"Bendera siaaapp!!!" teriak salah seorang petugas yang langsung disambung dengan penghormatan kepada Sang Dwi Warna. Merah Putih. Lagu Indonesia Raya ciptaan W.R Supratman mengiri naiknya bendera ke puncak tiang tertinggi. Sungguh, itu adalah saat-saat yang sangat mengesankan. 69 tahun sudah Indonesia merdeka. Iya, Indonesia. Dengan segala hiruk pikuknya, segala problematikanya, segala kesemrawutannya. Meskipun demikian saya tetap bangga menjadi Indonesia, karena dibalik itu semua di Indonesia masih ada keindahan, keberagaman, keramahan dan juga cinta. Benar sekali saya cinta Indonesia. Tanpa sadar air mata mengalir begitu saja. Saya terharu.
Entah mengapa pagi tadi saya merasa bendera merah putih begitu cemerlang. Naik perlahan hingga kepuncak. Muncullah kemudian, bayangan-bayangan di masa lalu. Momen yang sama di tahun yang berbeda. 17 Agustus 1997 ketika itu seragamku sama dengan warna bendera. Aku yang saat itu belum mengerti, paling malas dengan penghormatan bendera. Iya karena lama dan melelahkan. Beruntung aku berada di jalan yang benar sehingga bisa merasakan sebuah perasaan dimana saya bangga dengan bangsa ini, sehingga kini momen penghormatan kepada bendera adalah momen yang sangat dirindukan.








0 komentar:
Posting Komentar