Jumat, 10 Oktober 2014

Just a Friend

Menunggu
“Hallooo!!! Mel? Kamu di mana?”
“Di rumah, ada apa Jun?”
“Temenin aku pergi ya, ini aku udah di jalan lima menit lagi sampai rumah kamu, kamu siap-siap!!!”
“Tapi…bentar dulu Jun…..”
“Tuuuuuut, tuuutttt, tuuuuutttt…”
Kebiasan deh ini anak, semaunya sendiri. Nggak tahu apa kalau sore ini aku udah ada rencana. Huh!!
Itu tadi Arjuna, sahabatku sejak SMP. Orangnya baik, care sama temen, humoris, gampang bergaul, lumayan cakep juga sih hehehehe, yaaa pokoknya baiklah. Beruntung aku bisa jadi sahabatnya, tapi satu yang sering bikin aku sebel. Ya seperti itu tadi, suka seenaknya. Minta tolong tapi nggak lihat-lihat kondisi orang yang mau dimintai tolong. Cuman, entah mengapa aku selalu nggak bisa nolak apapun ajakan dari dia.
Nah, itu dia sudah nyampe. Jangan ditanya aku tahu dari mana? Aku udah belasan tahun sahabat sama dia, jadi udah hapal banget deh bau-baunya biarpun jaraknya sekilometer jauhnya. Hahahahaha, ngarang!
“Mellaaaa!!!!!” Juna berteriak. Ini adalah kebiasaan setiap kali kita bertemu. Biarpun berisik dan malu-maluin kalo dilihat orang, kadang aku juga kangen dengan teriakan ini.
“Ada apa?”
“Ayo Mel, temenin aku yuk, ada hal penting nih, dan sepertinya Cuma kamu yang bisa nolongin aku” Kebiasaan deh, ini anak kalau ngerayu sambil ngedip-ngedipin mata sok manis. Kalau udah kaya gini apapun yang aku katakan untuk menolak nggak bakal mempan.
“Iya deh, iya… bentar aku ambil tas dulu”
“Yeee, makasih Mela. Kamu memang sahabat aku yang paling baik”
Biarpun kadang seperti anak-anak tapi sejatinya dia dewasa banget. Kalau aku ada masalah apapun itu, dia adalah orang pertama yang pasang badan buat aku dan selalu ngasih solusi-solusi yang bijak, dan terbukti kok solusi dari dia selalu tepat. Sahabatku satu ini memang the best banget, makanya aku sayang banget sama dia.
---
Sekarang aku udah di atas motor, dibonceng Juna. Aku belum tahu bakal bawa kemana dan belum tahu juga bakal dimintai tolong apa sama Juna di sana. Selama perjalanan nggak ada hentinya deh ini orang cerita, dan selalu ceritanya berhasil membuatku tertawa. Apapun ceritanya kalau yang cerita si Juna pasti jadinya lucu. Dia memang paling bisa ngilangin bosenku.
“Jadi mau kemana kita trus mau ngapain?” tanyaku sedikit penasaran.
“Ehmmmm, jadi gini Mel, 3 hari lagi kan Selly ultah” Selly adalah pacarnya Juna. Udah setahun ini mereka pacaran.
Aneh rasanya mendengar nama itu tiba-tiba rasanya beda. Ada sesuatu yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Yahhh, pokoknya gitu deh, senyumpun akhirnya agak berat. Misalnya di transliterasi jadinya paling gini $%$#@(*&*^%jhftdfstyf(*&*&567vfdr......dst ehhehehehe begitulah.

“Mel!!, kok ngelamun??? Kita sudah sampai”
Kami berhenti di sebuah toko tas dan sepatu ternama khusus untuk cewek. Aku masih bingung, apa yang harus aku lakuin di sini? Seumur-umur baru ini masuk toko yang kaya ginian.
“Heh, malah bengong. Ayo turun”
“Eh, iya” aku turun dengan ragu, masih kepikiran mau ngapain di sini.
“Jadi gini, aku mau ngebeliin tas buat Selly. Lhah, aku kan nggak tahu tas cewek yang bagus yang kaya gimana, makanya aku ngajak kamu biar bisa milihin, kan kamu juga cewek”
Sepertinya Juna sadar akan kebingunganku, makanya dia menjelaskan secara panjang lebar tanpa aku minta. Tapi sepertinya dengan tujuan seperti itu dan yang dimintai tolong adalah aku, seorang Mela. Aduh ini orang salah orang kayaknya.
“Jun, kayaknya kamu salah orang deh”
“Kok bisa?”
“Ok, sini perhatikan aku dari atas sampai bawah” Juna mulai merhatiin aku “Tiap hari aku pake tas punggung sporty, lebih suka pake jins dan kaos yang casual, ditambah lagi kalau nggak sandal gunung ya sepatu kets”
“Lalu?” sekarang jani Juna yang bingung.
“Helloooo, Arjuna Anggara!!! Temen kamu yang namanya Mela ini sejak lahir tomboy dan nggak ada feminim-feminimnya, kamu yakin mempercayakan kado buat Selly pacar kamu super feminism itu, aku yang milihin? Mana aku tahu seleranya?”
Juna ketawa geli. “Hello Juga, Melati Puspita Anggraini!!! Aku tahu kamu memang tomboy, tapi biar bagaimanapun juga kamu kan cewek. Aku yakin banget kamu bisa milihin kado kok buat Selly” statemennya ini ditutup dengan senyum khasnya dia yang manis.
“Ayolah masuk!!!” Juna menarik tanganku dan mengajakku masuk toko. Nurut aja deh, belum ada sejarahnya aku debat dengan Juna bisa menang.
Di dalam toko aku diajak keliling melihat tas satu persatu. Sesekali dia menanyakan pendapatku.
“Tas ini bagus, nggak?”
“Kalau yang ini, gimana?”
“Selly cocok nggak ya, pake yang warna ini?”
Bla bla blab la bla…..dst
Semua pertanyaan itu aku jawab dengan geleng kepala atau mengangkat bahu pertanda aku nggak tahu. Juna begitu semangatnya mempersiapkan sebuah hadiah untuk Selly. Beruntung banget Selly bisa jadi pacarnya.
“Mel!! Sini deh!!!” aku mendekat kea arah Juna
“Coba, tas ini pake” aku pegang tas warna merah pilihannya
“Pakenya yang bener!” Juna membetulkan caraku memegang tas cewek. Kayaknya ini kali pernama aku pegang tas cewek.
“Gimana menurut kamu? Bagus nggak?”
“Bagus sih…cuman apa nggak kebesaran buat Selly?”
“Iya, ya….agak gede juga sih…yang mana lagi ya Mel?”
Mau nggak mau aku ikut mencari. Satu persatu tas aku perhatikan. Meskipun semua tas ini di mataku sama setidaknya aku berusaha untuk membantu sahabatku ini.
“Nah!!! Yang itu Jun” aku menunjuk sebuah tas berwrna krem.
“Beneran yang itu?”
“Iya bagus kan?” tas yang kumaksud aku ambil dan aku coba “lihat bagus kan? nggak terlalu gede dan nggak terlalu kesil juga, warnanya juga nggak mencolok, desainnya simple bagus”
“Iya juga ya? Wah bener, ini bagus. Selly pasti cocok make ini” tanpa piker panjang Juna langsung memanggil penjaga toko supaya dibuatkan nota yang kemudian harus dibayarkan di Kasir.
Antrian kasir lumayan panjang, ada 8 antrin di depan kami. Tapi tak apa, Juna sabar kok nunggunya, karena udah lega udah ketemu kadonya. Keliatan banget dimukanya kalau dia seneng.
“Tu kan, Mel…kamu bisa milihin aku tas yang bagus, Makasih ya?”
“Hehehe, iya sama-sama”
“Kamu emang sahabat aku yang paling baik, aku sayang ma kamu Mel!! Ayo pulang!!!”
Mendengar kalimat itu, hatiku bergetar, langkahku melambat. Kini aku berjalan di belakang Juna. Andai saja rasa sayang itu tidak hanya sebatas rasa sayang ke sahabat? Iya, memang sudah sejak lama diam-diam aku memendam perasaan ke Juna. Mungkin karena sangking dekatnya aku dan Juna kadang aju juga bingung membedakan ini cinta atau hanya sekadar sayang ke sahabat. Namun berjalannya dengan waktu kini aku sadar bahwa…iya aku mencintai Juna. Namun, tak secuil keberanianku untuk mengungkapnya. Takut jika nantinya persahabatan kami malah rusak, itu alasannya.
Saat perjalanan pulang, aku lebih banyak diam. Juna terus saja cerita, entah cerita apa kali ini yang jelas tentang Selly. Selly yang lucu, Selly yang suka makan, Selly yang suka ke salon, Selly yang suka Pimpong, dan Selly, Selly seterusnya……
“Mel, tahu nggak sesuatu?”
“Eh, iya…apa?”
“Kadang aku juga sering lho ngrasa sebel sama Selly”
“lho, kok bisa?”
“Iya, kalau nungguin ke salon kelamaan, kalo tiba-tiba dia jadi super sensitive, kalo dia keasikan ngobrol dengan temannya sampai lupa aku dan masih banyak lagi”
“lalu?”
“aku tetep sayang sama dia”
Kalimat terakhirnya membuatku terperangah. Betapa besar cintanya ke Selly, semoga Selly juga memiliki cinta yang sama besarnya untuk Juna.
Saat ini mungkin lebih baik aku menetralisir perasaanku ke Juna, supaya hubunganku dengan Juna dan hubungan Juna dengan Selly semua baik-baik saja. Juna dan Mela just a friend.

0 komentar:

Posting Komentar