| ilustrasi |
Pun akhirnya air itu
tumpah juga dari langit. Memandanginya dari balik jendela dengan sebuah eskrim
di tangan merupakan sebuah cara tepat (menurutku) untuk menikmati keindahan
yang disuguhkan oleh Yang Maha Kuasa siang ini.
Lalu mengapa eskrim?
Bukankah teh hangat atau kopi lebih pas disruput dalam kondisi hujan seperti
ini? Bagi sebagian orang mungkin iya, namun bagiku tetap eskrim yang nomor
satu. Hahaha, bukan berarti aku mempromokan sebuah produk eskrim lho ya. Hanya
sekadar mengagumi cita rasa dan sensasi dalam sebuah eskrim.
Apa nggak malah tambah
dingin? Iya sih, di luar udaranya dingin. Tapi pernah nggak sih kamu mendengar
tentang orang kutub yang tinggal di iglo (sebuah rumah yang terbuat dari
tumpukan balok es) dan mereka bisa bertahan hidup. Biarpun di luar udaranya
dingin tapi jika berada di dalam ruangan biarpun ruangan itu terbuat dari balok
es, akan terasa lebih hangat. Aku tahu nggak ada hubungannya sih teori orang
kutub dan iglonya tadi dengan pilihanku kepada eskrim untuk menikmati hujan.
Intinya aku menikmati keduanya.
Eskrim bisa menengkan
(sekali lagi ini menurutku), tak bisa tertampikkan hal itu. Bahkan dalam
situasi hujan seperti ini. Mungkin lantaran ada kandungan susu dan coklat di
dalamnya sehingga merangsang diproduksinya semacam hormon-hormon (yang aku
nggak tahu namanya apa) yang dapat mendatangkan sensasi tenang dan tentram.
Teori ngacoku barusan memang belum teruji klinis dari manapun, jadi jangan
begitu saja dipercaya ya.
Sekalipun eskrim dapat
menengakan dan menjadikan hati tentram (walau sesaat) namun, eskrim tak bisa
begitu saja menyelesaikan masalah. Es krim hanya pengalih perhatian sesaat dari
beban masalah yang dihadapi oleh seseorang. Semanis apapun eskrim itu, senikmat
apapun eskrim itu lambat laun akan habis juga. Kecuali kalau kamu punya
persediaan yang begitu banyak. Lagi pula kalau kamu kebanyakan mengkonsumsinya
malah kesehatan mu yang akan terganggu.
Iya, hanya pengalih
perhatian. Dengan cita rasanya yang legit dan sensasi dinginnya, setidaknya dalam
10 menit beban masalah kita sedikit terlupakan. Memang setelah semuanya habis,
setelah manisnya tak terasa lagi, atau setelah dinginnya tak terkecap lagi,
kita akan kembali dihadapkan dengan masalah tadi. Tapi percadeh disaat itu akan
muncul sudut pandang yang berbeda dalam memandang masalah tadi, karena kita
sudah sedikit ditenangkan oleh eskrim.








0 komentar:
Posting Komentar