Kamis, 12 Maret 2015

Nunggu (Part II)

Jumat tanggal 13. Menurut kebudayaan orang barat hari ini adalah hari yang penuh kesialan. Seperti kamu tahu lah, mereka menganggap hari Jumat adalah hari keramat sedangkan angka 13 adalah angka sial. Makanya di gedung-gedung jarang ada lantai 13, bahkan jika dalam nomor urut mereka enggan mengikutkan angka tersebut. Heran deh apa sih salah tu angka sampai dikucilkan sampai sedemikian hingga.

Perpaduan antara keduanya, yaitu Hari Jumat yang bertepatan dengan tanggal 13, seperti hari ini. Coba cek kalender masing-masing, sekarang hari Jumat 13 Maret 2015. Hari ini adalah hari yang sangat mencekam menurut versi orang barat. Mereka percaya bahwa akan banyak hantu-hantu bergentayangan ke sana ke mari dan kesialan-kesialan akan terjadi hari ini. Makanya dalam sehari ini mereka akan diliputi rasa parno, bagi yang mempercayainya. Kalau nggak percaya ya, santai-santai saja.
Ilustrasi
Udah ah, ngomongin hari Jumatnya.
Topik hari ini masih ada hubungannya dengan postingan yang sebelumnya. Judulnya aja Nunggu (Part II) masih dalam situasi menunggui speserta didik mengikuti Penjajagan Ujian Nasional (PUN) yang ketiga. Mata pelajaran yang dijajakan pagi ini adalah Bahasa Inggris. Termasuk mata pelajaran yang cukup disegani oleh siswa. Tanpa alfa link tanpa kamus entah mereka bisa mengerjakannya dengan benar atau hanya dengan prisnsip kedengarannya enak yang mana itu jawabannya. Hehehehe, itu sih prinsipku dulu waktu ngerjain Tes bahasa Inggris.

Sedikit cerita ya…
Jadi dari dulu aku memang nggak terlalu pandai dalam pelajaran bahasa asing, termasuk bahasa Inggris. Perbendaharaan kosa kata juga jauh di bawah teman-teman. Apa lagi, as you know di bahasa Inggris ada aturan-aturan pembentukan kalimat menurut waktunya bahkan itu ada 16 pola. Semakin sempurna deh membuat pusing pala barby. Nah, dalam soal kadang kita di suruh untuk melengkapi kalimat rumpang entah itu dengan to be-nya, kata kerjanya, atau apalah-apalah yang jelas disesuaikan dengan konteks apakah itu bentuknya present, past atau future. Entah dapat ilham dari mana? Teori ini selalu aku gunain, dan ajaibnya lebih sering bener. Ya, itu tadi kedengarannya enak mana? Jadi di setiap pilihan aku coba masukkan ke titik-titik, aku baca berkali-kali, aku rasakan dengan seksama, kira-kira enak mana ya kedengarannya? Untuk memastikan kadang aku mengulang treatment ini sampai tiga kali. Kalau udah yakin ya asal di silang aja di lembar jawab. Tapi aku nggak nganjurin kalian untuk melakukan ini ya, butuh kemampuan khusus untuk melakukannya.

Oh iya, kemarin kan aku udah janji bakal nulis 3 fase Ujian dari sisi pengawas. Bakal aku beberin nih semuanya. Tapi jangan diketawain ya…. Janji!!!

Fase pertama, terjadi pada saat sepertiga waktu ujian yang pertama.
Masih ingat dong, dalam fase ini siswanya gimana? Yups betul banget kalau siswanya masih tenang dan khusuk dengan pekerjaan masing-masing. Pengawasnya juga nggak kalah sibuknya, sibuk nulis daftar berita acara dan mengedarkan daftar hadir. Setelah itu mereka (karena biasanya lebih dari satu orang) coba memperhatikan peserta ujian di depannya yang tentu saja khusuk mengerjakan ujian. Belum ada pembicaraan antara kedua pengawas tersebut. Hal ini bisa karena memang ingin fokus mengawasi peserta atau memang belum ada bahan untuk membuka obrolan.

Fase kedua, terjadi saat sepertiga waktu ujian yang kedua.
Pada fase ini siswa sudah mulai gelisah, iya kan? mulai mencoba mengirimkan sinyal SOS kepada teman di sekeliling dan sialnya di balas dengan sinyal SOS yang sama. Intinya mulai nggak tenang mereka. Ketidaktenangan ini juga dirasakan oleh pengawas. Pada fase ini biasanya pengawas mulai menguap, mulai mengucek mata, jika satu sama lain antar pengawas tidak sengaja melakukan hal yang sama dan kemudian saling berpandangan… *cieeee……. Biasanya saling tersenyum dan kemudian ngobrol deh. Akhirnya ada juga bahan obrolan. Sedikit banyak bisa mengobati rasa bosan di ruang ujian. Kalau pengawas sudah ngobrol di saat itulah peserta ujian merasa senang.

Fase ketiga, terjadi saat sepertiga waktu ujian yang terakhir.
Kelas semakin lama semakin tidak kondusif. Antar peserta saling melemparkan bahasa isyarat, entah itu dengan bahasa tangan atau bahasa bibir. Jujur saat itu mereka tampak begitu lucu, bahkan ketika isyaratnya tak direspon oleh kawannya mereka kesal dan berteriak, berteriaknya pun hanya dengan bahasa bibir. Hahaha, lucu sekali. Itulah sebetulnya yang menjadi hiburan bagi pengawas. Semakin lama situasi kelas semakin beringas atau tak terkendali. Peserta ujian semakin ramai mendekati waktu ujian yang tinggal beberapa menit lagi. Biasanya pengawas mulai berdiri dari singgasana dan mulai berkeliling untuk menenangkan jika tidak mempan mulai dengan teguran verbal yang pertama, jika mentok tetep rame harus ada tindakan. Gebrak meja dan katakana DIAAAMMM!!! Yang sudah selesai silakan keluar. Jurus terakhir ini biasanya sangat ampuh sehingga ruang ujian hening kembali.  Hingga akhirnya bel tanda selesai waktu mengerjakan ujian berkumandang.

ya, begitulah. Belum terlalu mendetail sih, soalnya aku sendiri juga baru beberapa kali menjadi pengawas ujian. Jadi belum paham betul. Nulis berita acara aja masih sering salah. Ups!!
Oke deh, terimakasih kepada kamu yang udah rela menyempatkan waktu membaca postingan-postingan nggak jelasku ini. Jangan kapok baca ya, inshaa Allah bakal rutin postingannya.
Jangan lupa klik button “Join this Site” dengan begitu kamu nggak akan ketinggalan tulisan-tulisan aku yang lainnya. 

Sampai jumpa di postingan selanjutnya. Caw!!!

0 komentar:

Posting Komentar