Rabu, 11 Maret 2015

Nunggu

Kebanyakan orang setuju bahwa menunggu adalah kegiatan yang membosankan, menjemukan, nge-bete-in, malesi, bikin emosi, dan… dan… apa lagi ya? Pokoknya yang jelek-jelek lah.
Termasuk nunggu postingan terbaru aku. Hihihihihihi… PLAKKKK!!!!!! Aduhhhh!!!!

Iye, iye… aku minta maaf *sambil ngusap-ngusap pipi, pura-puranya sakit padahal enggak. Jadi gini kemarin-kemarin itu emang lagi disibukkan dengan pekerjaan. Tiba-tiba aja tugas tergelontor begitu saja minta untuk diselesein, sampai-sampai nggak sempet bercengkrama dengan kamu melalui postingan nggak jelas maksud dan mutunya. Selain itu gara-gara tugas ini juga proyek buat novelnya juga ikutan mandeg sesaat *baca 1 bulan. Huft… makanya sebisa mungkin aku selesaikan tugasku ini secepat aku bisa supaya bisa curi-curi waktu untuk memposting sesuatu. Seperti di pagi sekarang ini.

Sedikir gambaran aja nih Siswa yang lagi ujian praktik
Pagi yang indah dengan matahari bersinah cerah. Kamis 12 Maret 2015 di sekolahan sedang dilangsungkan Penjajakan Ujian Nasional (PUN) untuk yang ketigakalinya. Kalau jaman-jaman kita sih nyebutnya Try Out (TO). Tray itu mencoba, Out itu keluar jadi Try Out artinya mencoba keluar. Masak mau keluar kok coba-coba, ckckckckckck.

Berkenaan dengan judul yang telah aku pampang nyata di atas “NUNGGU” tugasku pagi ini adalah menunggui peserta didik peserta PUN ke-3 ini, di ruang III juga dengan mata pelajaran yang dijajakan adalah Matematika. Sebuah mata pelajaran yang lebih mengerikan dari penampakan hantu. Karena ini tugas, jadi mau nggak mau harus dilaksanakan sebaik-baiknya kan? meskipun, kembali lagi menunggu merupakan aktivitas yang membosankan, menjemukan dan… dan… dan…. Sebagainya. Tapi kalau boleh jujur sebagai siswa mereka juga mengalami hal yang sama.

Kok bisa?
Keliatan, kali dari raut wajah mereka. Pada lemah, letih, lesu, lunglay tak berdaya hehehehe udah kaya kurang darah aja nih. Tapi betul kok. Wajah mereka seakan kuran formalin jadi tampak nggak seger gitu. Entah ini lantaran mereka belum mandi atau soal matematika yang terlalu tidak bersahabat bagi mereka. Heran apasih yang mereka lakukan slalu aja ada persoalan yang harus diselesaikan antara mereka dan matematika *Lhoh!

Untuk mencapai sebuah kesuksesan latihan memang bagus, perlu malahan. Seperti hari ini sekolah menyelenggarakan PUN, sebelum itu juga ada pemadatan jam pelajaran khusus untuk mata pelajaran yang di Ujikan secara Nasional. Sebuah usaha yang baik, memang. Tapi entah mengapa justru ini menjadikan siswa merasa tertekan dan seolah-olah Ujian Nasioan (UN) menjadi momok menakutkan bagi mereka sehingga untuk menhadapinya perlu adanya persiapan dan bekal yang banyak. Nah, kadang di situ saya merasa sedih.

anak-anak yang butuh F5
Iya, sedih. Ini betulan sedih. Sedih ketika melihat anak-anakku *berasa tua deh, terserahlah! Kehilangan semangatnya untuk belajar demi kelulusan mereka sendiri. Kebosanan mereka sangat kentara sekali ketika mereka bukannya belajar sebelum PUN malah bermain sepak bola di lapangan hanya untuk menyegarkan otak dan pikiran mereka. Kalau PC mungkin cukup dengan menekan tombol F5, tapi kalau manusia perlu aktivitas-aktivitas menyenangkan yang lain dari aktivitas rutin mereka sehari-hari.

Balik lagi ya, ke soal tunggu menunggu. Hehehe ceritanya malah sampai ngalor ngidul nggak jelas gini *emang tulisanku belum pernah jelas kan?

Selama ini, sudah banyak ujian-ujian yang aku lalui. Maksudnya ujian tertulis ya, di mana aku beserta dengan teman-teman sekelas dikumpulkan dalam kelas, tidak boleh membawa apapun kecuali alat tulis dan nomor ujian, lalu menjawab pertanyaan di lembar jawab yang disediakan. Entah itu sebagai peserta didik, maupun sekarang sebagai guru. Dari sekian banyak ujian itu aku menyimpulkan ada 3 fase saat ujian, baik itu di sisi Peserta Ujian, maupun dari sisi pengawas.

Untuk yang pertama dari sisi Peserta:
Sesi pertama, ini terjadi sepertiga waktu ujian yang pertama. Peserta baru saja mendapatkan soal dan lembar jawab. Mereka terlihat sibuk mengisi identitas dengan lengkap. Mengeceknya kembali sampai benar-benar yakin sudah benar atau tidak. Untuk yang sering lupa dengan identitasnya biasanya membutuhkan waktu yang agak lama. Lanjut! Setelah itu mereka mulai membaca soal demi soal secara sekilas. Ini bertujuan memprediksi seberapa sulitkah soal yang akan dihadapi. Kalau wajah mereka tersenyum penuh keyakinan dan manggut-manggut sendiri berarti anak itu sudah belajar dan apa yang dipelajarinya keluar di soal. Tapi kalau ada peserta didik yang tersenyum cenderung cengengesan sambil manggut-manggut berarti contekan yang telah disiapkan bakal keluar di jawaban. Tapi kalau muka mereka datar-datar aja, berarti ya dia nggak bisa berekspresi. Hanya dia dan Tuhan yang tahu apa yang dia rasakan. Jadi di Sesi Pertama ini rata-rata peserta ujian khusuk dengan lembar jawabnya masing-masing. Belum ada yang coba tolah-toleh, paling ya mendongak ke atas sambil berharap ada jawaban turun dari langit-langit kelas. Intinya suasana hening dan kondusif. Saking sepinya suara detik jam aja bisa terdengar seperti suara sound saat ada acara hajatan di desa-desa. Sssstttttt!!!! Jangan berisik!!!!!

Sesi kedua, ini terjadi saat sepertiga waktu ujian yang kedua. Ketenangan peserta mulai terusik. Ketika mulai menemukan soal yang jawabannya belum dipelajari semalam, atau soal yang jawabannya nggak ikut di catet di kertas contekan. Saat seperti ini, anak yang rajin belajar semakin rajin mendongak keatas dengan sedikit cemas, masih dengan harapan ada jawaban turun dari sana. Kemudian yang membawa contekan mulai toleh kanan, toleh kiri, menjulur ke depan dan menjulur ke kiri. Selain butuh kelenturan tubuh yang maksimal, kegiatan ini juga membutuhkan ketajaman dalam melihat, iya melihat jawaban milik temanya. Jangan pake mata ikan, pakailah mata elang. Satu lagi, kalau ada yang nggak berekspresi berarti dia… ya memang nggak bisa berekspresi dengan kata lain pasrah aja gitu. Hehehe…. Saat-saat seperti ini sering terdengar kasak-kusuk diantara peserta Ujian. Detak jam dinding tersaingi. Mulai ada keributan kecil-kecilan.

Sesi ketiga, terjadi saat sepertiga paruh waktu ujian yang terakhir. Mulai timbul kepanikan nih. Yang tadi mendongak ke atas lehernya jadi keram gara-gara kelamaan ndangak dan tak kunjung membuahkan jawaban. Kemudian dia beralih mulai menjulur-julurkan badan ke depan dan ke belakang, menolehkan kepala ke kanan dan kekiri dengan daya akomodasi mata super maksimum. Berharap jawaban teman terbaca dan mengkopipastekan ke lembar jawabnya. Sedangkan yang tadinya tolah-toleh dan menjulur-julurkan badan, beralih mendongak keatas. Tidak berlangsung lama, karena sama saja tidak mebuahkan hasil akhirnya dia melakukan barter. Barter kertas contekan. Memilih dan memilah sobekan-sobekan kertas nan kusut dengan tulisan yang lebih mirip resep dokter, siapa tau ada jawaban di sana. Kemudian nasib yang tanpa ekspresi gimana? Hahaha, dia tetap saja tak berekspresi. Justru dia menarik diri dari hingar bingar keributan di ruang ujian. Dia malah tidur. Biasanya kondisi akan semakin ramai saat memasuki 15 menit terakhir, di situlah pengawas mulai teratur mengingatkan untuk tenang, tenang dan tenang. Kalau nggak, sepatu bakal melayang. Hihihihihi, serem kali ah kalau di tengah-tengah keributan siswa tiba-tiba sepatu mereka melayang-layang di udara. Huuuuuu, horror.

Semua hiruk pikuk berakhir ketika ditandai dengan suara Bel tiga kali. Itu artinya seluruh peserta ujian harus keluar ruang karena waktu ujian selesai. Jangan lupa resep dokter yang tadi dibawa keluar, jangan sampai ketahuan pengawas dan jadi masalah di meja guru BP.

Yups, begitulah analisisku. Mungkin dari teman-teman ada yang mengalami sama sepertiku atau mungkin juga berbeda. Namuanya juga beda sekolahan pasti ya nggak akan sama pengalamannya. Iya kan????

Karena, waktu ujian yang aku tungguin udah mau habis. Untuk tulisan 3 fase Ujian dari sisi pengawas besok lagi ya….
Ok.ok tetap semangat dan rajin belajar!! Semangat untuk yang Ujian. Bertindaklah jujur dan jangan takut untuk salah, namanya juga lagi belajar iya kan?
Jangan lupa klik button “Join this Site” dengan begitu kamu nggak akan ketinggalan tulisan-tulisan aku yang lainnya.
Sampai ketemu, di postingan selanjutnya. Caw!!!

0 komentar:

Posting Komentar