Calon Penulis dan Penulis

“….nanti pulang dari sini kalo Nikken nulis pasti tulisannya jelek, gue jamin itu. Lalu kapan tulisannya bakal bagus? Kalau dia mau memperbaiki yang kurang bagus, mengedit yang kurang sesuai sehingga menjadi tulisan yang bagus….-RD”

Semangat Berani

"Lebih baik salah dari pada selamanya tidak tahu salah atau benar" -Jomblo

My Inpiration

"Imagine all the wonderful things that will never happen if you do not do them" -Up

Nikken Derek Saputri dan Derek Samtidar

"Akhir sebuah perjalanan merupakan awal dari perjalanan baru" -Wisuda Unnes Periode II tahun 2013

Bersama berbagi tawa canda

"Sahabat adalah keluarga yang kita pilih sendiri"

Minggu, 27 Oktober 2013

Menikmati Lelah

foto bersama mempelai putri :)
Mensyukuri atas segala karunia yang telah dilimpahkan oleh Allah SWT, ermasuk rasa lelah. Lelah bukan berari kita berhenti bersyukur, karena kita masih diberi kesempatan untuk berlelah-lelah ria.

Kepala masih pusing, badan terasa berat, males ngapa-ngapain. kalau udah kaya gini nie, diajak mikir juga susah. Mau tidur tadi siang udah tidur lama banget, hehehehe semoga tidak berlangsung lama. 

Ceritanya kemarin habis kondangan di Pekalongan. Ke tempatnya salah satu temene temenku yang udah lama jadi temenku juga. hehehe namanya mbak Zullffa, oya Happy Wedding ya mbak. Jadi Begini, tahu kan Pekalongan? untuk menuju ke sana aku harus melewati Kota Semarang, Kendal, Batang barulah sampai di Pekalongan. Meskipun aku duduk di belakang alias mbonceng tapi capeknya uhhhh woooowwww amazing!!! haha lebay. Ditambah lagi dengan laju kendaraan yang berbeda dari biasanya. Seumur-umur belum pernah kayane speedometerku menembus angka 100 km/jam makanya bikin jantung dug-dug-dug-dug, lebih banyak merem saat perjalanan.

Eksis itu kewajiban. #eh
Pas pulangnya, nggak jauh beda dengan pemberangkatan. Laju kendaraan kurang lebih sama, posisi tetap di belakang, tapi rasa kantuk mempermainkan diriku. Pengen merem tapi kok kenceng banget motornya, nggak merem tai berat banget masih jauh pula. Berdoa aja deh semoga yang ngeboncengin aku nggak ngantuk juga. hehehehehe

Setelah sampai di Kampus, aku masih harus melanjutkan perjalanan ke rumah. Di tengah jalan mulai gerimis, ah cuma gerimis lanjut mamen!!! gerimisnya semakin sering, wah tanda-tanda nie!!! dan Waooowww Deres!!! Tarik rem, menepi, matiin mesin, buka jok, pakai jas hujan, tutup lagi joknya, nyalain mesin dan lanjutkan perjalanan. Cukup melaju dengan 20km/jam hehehe kaya siput, ya mau gimana lagi wong hujannya lengkap dengan angin sepoy-sepoy yang alay kok. Pelan-pelan tapi pasti, tetep kalem sambil dengerin Radio. Heran ujan-ujan tetep nekat dengerin radio nggak takut konslet apa ya????

Menggigil sudah pasti tapi Show must go on, kalo nggak gini nggak bakal nyampe rumah sist. Tetap berjuang menarik lembut gas, supaya jalannya tetap stabil. Awaaaassss ada truk mau nyalip!!!! Auuwwww!!! kecipratan air, basah deh. Mang udah basah dari tadi. Finnally, sampailah di rumah. Nggak usah lama-lama, langsung mandi, makan dan bobok. besokkan akan kegiatan lagi. Tetap Semangat.

26 Oktober 2013

Jumat, 25 Oktober 2013

Ngalay sambil ngGalau (rada wagu jane)

Sekalian aja tampang jelek yang dipampang (",)
 jika memang tidak lagi dapat disatukan mengapa terus saja memberi harapan? Padahal kamu tahu, aku sulit untuk tegas dengan hal-hal seperti ini. Karena apa? Sayang.

Nggak hanya satu atau dua orang saja yang menganjurkan supaya aku tidak bersamamu. Memang berbeda-beda cerita mereka namun satu genre. Ya, lebih banyak keburukanmu yang mereka ceritakan. Kamu tahu apa yang aku lakukan? Aku tekan pikiran negatifku dan selalu yakin bahwa kamu tidak seperti apa yang mereka katakan.

Saat aku putuskan, ya aku bersamamu untuk yang pertama kali seakan ada resiko besar yang akan aku tanggung. Seandainya mereka benar terhadapmu, trus gimana ya? Itu yang aku pikirkan setiap saat. Bisa dibilang saat itu aku meragukanmu, terlalu meragukanmu dan terlalu waspada sampai-sampai kesalahan kecil bisa membuat kita mennjadi teman lagi (putus). Anggaplah saat itu aku labil, bisa jadi seperti itu, atau terlalu takut.

Sengaja aku tak beri tahukan mengenai hubungan kita kepada teman-temanku, bahkan sahabatku saja tidak tahu. Itu lantaran aku tak mau mendengar cerita buruk tentangmu yang akhirnya akan menggoyahkan keputusanku saat itu.

Berjalannya waktu, aku sadari. Sayangku terhadapmu masih ada dan tidak seharusnya aku memperlakukanmu seperti itu. Makanya ketika kau tawarkan lagi hubungan yang seperti dulu, aku iyakan. Hubungan jarak jauh memang agak susah dijalani, namun bukan berarti aku nggak bisa. Aku bisa kok, toh teknologi sekarang canggih. Tapi, mengapa kau ulangi lagi hal itu??? Saat itu justru aku merasa terancam. Huft... maaf ku lukai hatimu untuk yang kedua kali.

Aku pikir, aku akan cepat melupakanmu. Ternyata nggak. Justru aku semakin sayang denganmu. Yah, gara-gara gengsi barang kali jadi aku nahan diri untuk tidak menghubungimu melalui media apapun. Secara tidak sengaja kita bertemu, itulah awal kita kedekatan kita lagi. Betapa tak menyangkanya hatiku dan jujur saat itu aku senang. Hehehehe

Singkat cerita kita menjadi dekat, dekat dan semakin dekat. Bahkan melebihi kedekatan kita saat ada label itu. Di situ aku bimbang, dua kali ku torehkan luka di hatimu pasti bekasnya masih. Jadi tidak heran kalau kamu jadi meragukanku. Tapi, kalau kamu ragu mengapa malah sedekat ini? Jadi bingung kan? Beberapa kali aku pertanyakan jawabannya nggak bisa tetapi, ya itu tadi kamu tetap mencurahkan perhatian kepada diriku. 

Sampai pada akhirnya dengan berat hati, “kalo memang nggak bisa bareng lagi ya nggak apa-apa, nikken nggak bisa menuhin permintaan mas. Nikken nggak akan nyesel kok ,kalopun nyesel bakal tak simpen sendiri. Makasih buat semuanya”  -percakapan lewat telepon 22 Oktober 2013-

NB: cerita di atas rada fiktif, kalo kata2nya banyak yang salah atau tidak runtut hehehe maapin...

Rabu, 23 Oktober 2013

Cerita Pengantar Tidur

Sedikit cerita sebelum aku terlelap. 


Hemm, aku sudah bukan mahasiswa lagi. Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd) telah berhasil aku raih. Tugas sudah berbeda, tanggung jawab juga berubah. Tidak seperti dulu yang bisa keluar rumah dengan seindahnya tanpa beban. Sekarang aku harus memikirkan bagaimana caranya mempertanggungjawabkan ke-S.Pd-anku tadi. 

Wisuda adalah akhir, akhir dari masa studi, akhir masa main-mainku, dan akhir masa labilku (semoga) tapi juga menjadi awal di mana saat ini sebuah tanggung jawab baru berada di pundakku. Tiap saat bertatap muka dengan ibu dan ayah, meski tak tersuarakan namun aku paham keinginan hatinya. Ya, mereka ingin segera melihat aku menjadi guru, sesuai dengan cita-citaku dan melihat betapa jerih payahnya selama ini untuk menguliahkanku tidak sia-sia. Bukan aku tak paham akan hal itu, paham, sangat paham bahkan teramat paham. Makanya saat ini aku masih berusaha ^_^

Hanya memohon do'a restu saja dari Ayah dan Ibu, semoga anakmu ini dapat mengaplikasikan ilmu yang telah di dapat dari bangku perkuliahan.


Sabtu, 14 September 2013

Intropeksi

Memandang ke depan memang sebuah keharusan, namun ada kalanya kita perlu untuk menundukkan kepala dan mengevaluasi apa yang telah kita lakukan

Bulan malam ini seperti potongan semangka segar, cahaya temaram mengintip dari balik jendela. Manis sekali.
Hemmm (tarik nafas panjang)!!!

Setelah kemarin beberapa bulan bergelut dengan tugas akhir (baca skripsi) sampai-sampai tidak sempat mencorat-coret blog. Nah, mumpung sekarang udah ada waktu luang nieh nggak ada salahnya kan sedikit sharing-sharing perihal apapun.

“gajah di pelupuk mata tidak terlihat, semut diseberang terlihat”

Itulah salah satu peribahasa yang diajarkan guru SD dulu. Aku masih ingat betul peribahasa yang artinya mencari-cari kesalahan orang lain sedangkan kesalahan sendiri tidak dihiraukan. Ya kurang lebih seperti itulah, kalau meleset paling juga sedikit. Hehehehe. Pada dasarnya peribahasa tersebut mengajarkan supaya kita selalu intropeksi diri.

Kadang untuk melihat kesalahan sendiri susahnya luar biasa, atau bukan susah sieh, Cuma nggak ada aja kemauan untuk mengevaluasi diri sendiri. Tapi, kalau sudah ngomongin kesalahan orang lain lancarnya luar biasa, kaya batang pinang berlumur oli. Ya barangkali udah menjadi kebiasaan kali ya ngomongin orang, mending kalau yang diomongin tentang prestasinya. Sayangnya yang lebih sering dipakai untuk bahan pergunjingan adalah kesalahan dan kejelekan orang lain. Bisa dilihat sie dari acara TV, hampir semua stasiun TV punya acara gosip tiap harinya. Bahkan ada yang menanyangkan sampai 3 kali sehari, pagi, siang dan sore. Tayangan-tanyangan tersebut seakan kalau sah-sah saja membicarakan kesalahan orang lain.

Yach, begitu juga dengan aku saat ini. Kalau dipikir-pikir selama ini aku belum bertindak dewasa. Childist kalau kata orang. Hemmm, padahal ya kalau umur udah nggak bisa dibilang remaja lagi. Tapi belum tua ya.... dari lubuk hati yang paling dalam pengen banget bisa berubah menjadi sosok yang lebih tenang, lebih ramah, ya pokoknya lebih berpikir panjang lah. Nggak seperti sekarang yang “grusa-grusu”, kekanak-kanakan, dan beberapa sifat jelek lainnya. 

Untuk mengubah sifat seseorang, bukan perkara yang mudah, semudah mengedipkan mata. Perlu proses dan waktu serta niat sekokoh baja. Meskipun sulit tapi bukan berarti tidak mungkinkan? Asal ada niat dan konsisten untuk berubah nggak ada yang mustahil kita bisa menjadi sosok yang lebih baik.
Ayo, mulai sekarang kita sering-sering intropeksi diri, supaya menjadi manusia yang baik dan bermanfaat bagi orang lain.

See? Let’s do it!!!

Jumat, 05 Juli 2013

Berjambore Bersama Angkasa Pura


Suatu kebanggaan tersendiri berkesempatan bergabung dalam Jambore ke 8 Pramuka Angkasa Pura, 29 Juni s.d 3 Juli 2013. Wah, baru pertama kali ini aku menyaksikan kebinekaannya Indonesia secara nyata. Yup benar sekali kegiatan jambore ini skalanya Nasional dan ontingen terjauh datang dari Biak Papua.

Satu hal yang hingga saat ini masih terngiang di benakku adalah penampilan kontingen Biak. Mereka hanya membacaan sebuah surat kecil yang ditujukan kepada petinggi PT Angkasa Pura. Meskipun surat kecil namun sarat makna, sampai--sampai membuat terharu yang mendengarnya.

berikut adalah isi suratnya:



Surat Kecil untuk Ka.Markotan

Kakak Ka markotan
Yag kami kagui dan kami banggakan
Tak terkirakan bahagianya hati kami saat mendengar kabar bahwa bandara Frans Kaisepo- Biak akan kembali mengirimkan kontingen dalam jambore ke 8 ini, setelah sekan kali jambore hanya dapat mengirimkan peninjau yang diwakili kakak-kakak pembina kami

Berlimpah terimakasih kami sampaikan kepada ka.markotan yang telah memberi kesempatan kepada kami yang berada jauh di ujung timur Indonesia ini, untuk mewujudkan angan-angan kami dapat melihat keindahan dan kemegahan kota-kota di pulau Jawa

Tentu, akan banyak sekali kenangan indah tentang jambore ini yang tak akan pernah habis kami ceritakan ke adik-adik kami
Tentang kemeriahnya,
Tentang hangatnya persahabatan yang terjalin,
Tentang keramaian kota-kota besar yang kami lalui,
Serta tentang indahnya gunung-bukit dan persawahan yang terhampar luas
Yang hapir tidak kami temui di biak, ambon dan kupang

Ka markotan dan kakak-kakak  pembina yang budiman
Jauh di dalam lubuk hati kami, sesungguhnya ingin sekali kami ini dapat berkemah di bumi perkemahan cibubur yang menjadi simbol kebanggaan para pramuka, sambil melihat ibu kota negara, monumen nasional, istana merdeka, taman mini Indonesia Indah, dan lain-lain

Kami pun tentu akan sangat gembira bila suatu saat nanti dapat merasakan pengalaman naik kereta ataupun bus malam, yang barangkali tak akan pernah ada di daerah kami.
Kami akan selalu berdoa, semoga kakak-kakak makortan selalu dikaruniai keberkata, kesehatan dan kemuliaan.
Agar kakak-kaka dapat menjadi jembatan bagi katunia Tuhan kepada kami.
Agar kami dapat mewujudkan impian kami atau adik-adik kami melihat ibu kota negara
Agar semakin tebal rasa cinta dan bangga kami kepada negeri ini

Kakak ka. Markotan yang sangat kami hormati
Sebagai ungkapan terimakasih kami, pada kesempatan teramat berharga ini ijinkanlah kemi persembahkan tanda mata sederhana karya teman-teman kami, berupa bunga kertas, sebagai simbol betapa berbunganya hati kami mengikuti jambore ini
Semoga kakak berkenan menerimanya.