Senin, 09 Februari 2015

Tombol Shift dan Capslock dari Pak Budhi

Sebenarnya tulisan yang kali ini udah lama pengen aku buat. Namun entah mengapa virus kemalasan menggelayut di badan dan pikiran sehingga saat ini harus benar-benar memaksa diri supaya benar-benar hilang virusnya dan tulisannya benar-benar jadi.

Jujur stelah paragraph pertama di atas jadi, laptop aku matikan dan aku pulang. Niatnya di rumah akan melanjutkan namun apa daya godaan kasur bantet yang nggak terlalu empuk itu terlalu menggiurkan. Akhirnya aku terlelap hingga magrib. Selamat berbuka puasa!!!

Saat ini, sembari menunggui peserta Penjajakan Ujian Nasional (PUN) aku coba merangkai kata demi kata lagi guna menyelesaikan misi ini. Kebetulan sekali yang aku tunggui ini adalah anak SMP. Jadi teringat 9 tahun yang lalu aku ada di posisi mereka. Kelas 3 SMP (sekarang jadi kelas IX) adalah masa yang penuh perjuangan. tapi, tunggu dulu bukan ini yang akan aku ceritakan. Meskipun Ujian Nasional (UN) selalu menarik untuk diperbincangkan dan diperdebatkan.

Cerita yang akan aku selesaikan hari ini masih ada kaitannya dengan masa-masa SMP. Bukan soal cinta pertama atau soal melewati masa puber dengan selamat, melainkan tentang seorang guru TIK. Beliau bernama Pak Pratomo Budhi Wahono biasa di panggil Pak Budhi. Jika sekarang ini aku begitu lincahnya mengoperasikan computer maupun laptop, salah satunya adalah berkat jasa beliau. Iya, saat itu computer adalah barang teramat mewah yang mungkin bagi keluargaku belum tentu bisa terbeli. Namun, rasa keingintahuanku yang besar tentang teknologi, membuatku selalu bersemangat untuk mengikuti pelajaran tambahan TIK. Waktu itu belum masuk dalam kurikulum pembelajaran hanya sebatas les computer yang dilaksanakan sepulang sekolah.

Guru yang mengampu TIK sebenarnya ada 2. Bentar-bentar aku ingat-ingat dulu namanya…… yang satu Pak Budhi dan yang satunya lagi adalah Pak Sukito (namanya nggak boleh disingkat katanya). Tapi khusus kelasku lebih sering ditemani oleh Pak Budhi.

Program yang pertama kali kami pelajari adalah Ms. Word. Instruksi yang biasanya diberikan adalah seperti ini, “Anak-anak sekarang tekan tombol power pada monitor, lalu tombol Power yang ada di CPU” biasanya setelah ini lampu indikator pada CPU akan berkedip biru dan merah bergantian. Kalau sudah begitu biasanya kami mulai merasa girang dan takjub (wajar anak desa baru lihat computer). Setelah itu instruksi dilanjutkan.
“Tunggu dulu jangan diapa-apain, jangan sentuh apa-apa” peringatan dari Pak Budhi yang seketika membuat kami hanya terpaku pada monitor yang mulai jelas menampkkan beberapa icon. Proses scaning otomatis dari smadav selesai, biasanya saat itulah Pak Budhi melanjutkan instruksinya lagi.
“Setelah tulisan Smadavnya hilang, pegang mouse, arahkan tanda panah kecil ke tulisan start di pojok kiri bawah” harap maklum, pada tahap ini kami seperti bayi yang baru belajar jalan harus dituntun selangkah demi selangkah.
“Kalau sudah…!!!” Pak Budhi melanjutkan “Klik kiri, setelah itu pilih Ms. Word dan klik kiri sekali lagi” kami yang memang berasa seperti bayi dan takut melakukan kesalahan hanya nurut-nurut aja dengan petunjuk beliau. Bahkan kalau harus guling-guling di lantai agar komputernya nyala mungkin kami akan melakukannya.

Satu persatu layar monitor menampakkan lembar kertas putih kosong. Biasanya prosesi dari awal menekan tombol power hingga kertas putih itu Nampak di monitor menghabiskan waktu 30 menit. Huft! Kalau dipikir-pikir perjalanan yang terlalu panjang kalau hanya sekadar Ms. Word tujuannya. Tapi, kembali lagi, namanya juga anak desa yang baru belajar mengoperasikan computer 30 menit sudah sebuah prestasi yang membanggakan. Bisa dibayangin nggak sepulang les, aku bakal bercerita pada Ayah dan Ibuku. “Ayah…Ibu…. Tadi aku bisa nyalain computer dan buka Ms Word hanya dalam waktu setengah Jam lho!!!” Ayah dan Ibu Cuma diam, dalam hati mungkin bertanya Ms. Word itu apa? Biasanya kalau udah begitu mereka hanya berkata “Hebaaatttt!!!!” dan aku berlari sambil lompat-lompat kegirangan menuju kamar emninggalkan Ayah dan Ibu yang masih kebingungan apa itu Ms. Word.

Lanjut ya…..
Latihan mengetik adalah latihan utama kami. Tujuannya supaya terampil mengetik 10 jari. Kenyataannya kami beri lebih, 11 jari alias hanya mengggunakan jari telunjuk kanan dan jari telunjuk kiri. Hehehehe. Satu computer biasanya dimanfaatkan oleh dua orang siswa. Ketika mengetik biasanya kita gantian siapa yang mengetik dan siapa yang mendikte.

Ada satu kejadian yang tidak bisa aku lupakan hingga sekarang. Berhubungan dengan tombol capslock dan shift. Kamu pasti tahulah ya, fungsi tombol tersebut? Waktu itu kami harus mengetik persis sama dengan yang dicontohkan. Dari jenis font, ukurannya termasuk huruf besar dan kecilnya. Waktu itu aku nanya ke Pak Budhi
“Pak, biar hurufnya besar gimana Pak?”
“Capslock” jawab beliau singkat padat dan jelas.

Intruksi kami laksanakan. Ajaib! Hurufnya menjadi kapital semua. Yey!! Ngetik lagi, dan temanku membacakan. Semua berjalan begitu menyenangkan. Sampai kemudian Kerajaan Api menyerang dan memporak porandakan lap computer kami. Hehehe… nggak ding!! Sampai pada kebingungan selanjutnya datang. Aku dan partnerku, Ningrum (nama sesungguhnya) bingung kenapa hurufnya gedhe terus. Apa yang harus dipencet, apa yang harus diklik? Kami saling pandang, tanpa suara kami berbincang. Adegan kaya gini kalau di sinetron pasti ada efek suara batin yang seolah-olah hanya mereka yang bisa dengar. Kenyataannya seantero Indonesia tahu.
“Ning!!” panggilku dalam hati “Ini gimana?”
“Iya!!” Dia menoleh, seolah mendengar panggilanku “aku juga nggak tahu”
Kami terus berpandangan mata, tampak serius. Aku menemukan sesuatu, ternyata ada belek di mata kirinya. Hahahahaha…. Plak!!!! Fokus!!! Ok kembali ke jalan yang benar. Setelah hamper lima menitan tatap-tatapan mata kami kompak mengangguk dan berteriak memanggil guru kami.
“PAK BUDHI!!!!”
Teriakan kami yang gegap gempita hanya dibalas dengan santai. Jauh dari harapan kami.
“Iya?”
“Pak, kok hurufnya kok gedhe terus?” Ningrum melontarkan pertanyaan lebih dulu.
“Iya, pak cara ngecilin lagi gimana?” Aku nambahi.
“Tekan shift!!!” lagi. Jawaban yang singkat padat dan tepat sasaran.
 Tekan shift dan mulai mengetik lagi. Tapi kok tetep gedhe hurufnya?
“Pak, hurufnya masih gedhe” aku protes “gimana Pak?”
“Shiftnya ditekan terus” jawab Pak Budhi lagi.

Ok, kami mengikuti petunjuknya. Ngetik Cuma pake dua jari yang satu buat tombol shift dan yang satunya lagi buat tombol-tombol yang lain. Huft! Susah. Akhirnya yang tugas ngebacain, dalam hal ini Ningrum merangkap tugas sebagai penekan Shift permanen. Jadi selama aku mengetik, dia juga bakal ngebacain sekaligus menekan tombol shift. Kalau pengen huruf gedhe lagi ya, shiftnya dilepas lalu tekan lagi. Begitu seterusnya sampai les computer berakhir. Melihat tingkah kami berdua, Pak Budhi hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala.
Belakangan aku abaru ternyata aku dikerjain sama Pak Budhi. Betapa bodohnya aku. Masak iya sih untuk mengetik shift harus di pegangin sama temen? Hahaha, nggak habis pikir kalau metode itu aku pertahanin sampai dengan sekarang. Ckckckck…. Harusnya kan tinggal matiin capslocknya aja kan?
Masih pengen ketawa aja kalau inget kejadian itu. Betapa polosnya diriku. Hingga sekarang aku masih inget dengan jelas kejadian itu dan menjadi kenangan terindah sekaligus dan terjayus bersama Pak Budhi.
In Memoriam
Dan….
Kemarin, tanggal 2 Februari 2015 beliau Pak Pratomo Budhi Wahono telah berpulang ke Rahmatullah. Innalillahi wainna illahirajiun. Aku tahu kabar ini dari seorang teman yang memposting di grup fb alumni SMP. Seketika itu langsung deh teringat kejadian yang udah aku tulis di atas. Hummmm, memang tidak banyak sih kenanganku bersama beliau. Namun yang satu itu cukup mengena bagi saya. Bahkan hingga saat ini pun, ketika berhadapan dengan PC dan melihat tombol shift dan capslock langsung deh ingatanku melayang ke beliau. Terimakasih Pak, dan selamat jalan.

0 komentar:

Posting Komentar