Kamis, 28 Juni 2012

Sampai Kapanpun Kamu tetap Sahabatku


Kaku bagaikan kayu
Dingin bagaikan lapisan es abadi
Sepi seperti sendiri di hutan...


Kondisi yang menurutku berkebalikan dari beberapa bulan yang lalu sebelum semua terjadi. Terjadi? Memang apa yang terjadi? Adakah masalah di antara kita? Apakah aku melakukan hal yang salah?

Aku lebih memilih banyak diam memang, karena memang tak ada yang harus aku katakan. Dalam diamku aku menunggu, menunggumu bicara. Bukan hal basa-basi yang aku harap namun.... kelanjutan yang kemarin. Bukankah itu alasan kita bertemu kembali sore ini?

Sahabatku, tahukah kamu kalau aku merindukan kebersamaan kita seperti dulu. Susah, senang kita lalui bersama. Masih ingat ketika kita makan nasi rames dua untuk bertiga? Masih ingat kebiasaan kita, saat mengikuti kegiatan supaya dapat makan gratis untuk beberapa hari? Masih ingat tentang hari Rabu curhat? Masih ingat saat kau sesak nafas karena tidur bertiga? Masih ingat.... masih ingat...???


Terlalu banyak kenangan kawan. Jika kamu bilang inilah dirimu yang baru, oke!!! Aku terima, aku menerima apapun keadaanmu. Apapun kondisimu. Tapi jangan sekali-kali bilang kalau kamu jahat dan kami tak pantas berkawan denganmu lagi. Sungguh, sakit rasanya, saat membaca pesanmu itu. Kecewa, memang aku kecewa, namun tidak lantas aku mebencimu. Tak pernah sedikitpun aku membencimu. Aku hanya ingin melihatmu tersenyum seperti dulu, itu saja tidak lebih.

Aku tahu kamu sosok yang tegas, hebat dan tegar. Dengan atau tanpa aku disampingmu barangkali tak berpengaruh apapun dikehidupanmu. Apakah tak ada keinginan untuk mengembalikan suasana seperti dulu? Kawanku, aku tak nyaman dengan kondisi seperti ini. Apa kau juga merasakan hal yang sama??? 

Sejahat apapun kamu, seburuk apapun kamu Kamu tetap Sahabatku. Sampai kapanpun.......

0 komentar:

Posting Komentar