Calon Penulis dan Penulis

“….nanti pulang dari sini kalo Nikken nulis pasti tulisannya jelek, gue jamin itu. Lalu kapan tulisannya bakal bagus? Kalau dia mau memperbaiki yang kurang bagus, mengedit yang kurang sesuai sehingga menjadi tulisan yang bagus….-RD”

Semangat Berani

"Lebih baik salah dari pada selamanya tidak tahu salah atau benar" -Jomblo

My Inpiration

"Imagine all the wonderful things that will never happen if you do not do them" -Up

Nikken Derek Saputri dan Derek Samtidar

"Akhir sebuah perjalanan merupakan awal dari perjalanan baru" -Wisuda Unnes Periode II tahun 2013

Bersama berbagi tawa canda

"Sahabat adalah keluarga yang kita pilih sendiri"

Kamis, 23 Februari 2012

Sistem Online Bikin Pusing

 
Arus perkembangan teknologi saat ini, mau nggak mau memaksa kita untuk beradaptasi dengan hal-hal yang berkaitan dengan komputer, Internet, sistem online dan lain sebagainya. Dampak positifnya tentu saja mempermudah kegiatan manusia. Untuk menyimpan file yang jumlahnya ribuan tak perlu lagi ruangan khusus dengan rak bertingkat lalu kita susun sesuai dengan abjad –itu sih kuno- cukup dengan sekeping Compact Disk alias CD, atau dengan benda kecil bernama Flasdisk. Lalu untuk mencari data atau file kita tak perlu mengecek atau membolak-balik rak file yang tingginya melebihi kita cukup search aja, ketik judul file yang dicari lalu enter. Tunggu beberapa saat dan voila!!! Ketemu! Mudah bukan.
Tak hanya masalah pembukuan saja, sekarang segala hal udah dikomputerisasi kok. Bahasa kerennya nie online-online gitu. Pesen tiket, dari tiket bis, kereta sampai pesawat bias dipesan online. Daftarin anak sekolah, dari Perguruan Tinggi sampai yang SD bahkan TK ada kok yang lewat online. Sampai masuk parkiran nomer plat kendaraan kita dicatat secara online kok. Keren and canggih tow?
Nah, sekarang masuk ke inti ceritanya –rada berbelit ya? Itulah caraku kalo mw cerita- begini. Aku kuliah di salah satu Universitas Negeri di Semarang –bilang aja Unnes-  kampusku ini sedang gencar-gencarnya meng-onlinekan segala hal. Dari Sistem Akademik Terpadu (Sikadu), simawa –ku lupa kepanjangannya he-, siomon, si-si-si apa lagi ya???
Dan yang paling terbaru adalah Portal Beasiswa. Aku ragu dengan judul situsnya karena hanya sekilas aku membacanya. Situs terbaru itu memfasillitasi mahasiswa yang akan mendaftar beasiswa PPA dan BBM. Kalau nggak salah inget nie, pendaftaran beasiswa secara online kaya gini udah pernah dilakuin tahun lalu. Bedanya kali ini pake situs baru yang memang khusus untuk beasiswa kalau dulukan daftarnya lewat akun Simawa –yang sekarang tampilannya mirip dengan fb- sebenere bagus sie, tapi aku kok ngrasa agak mubazir, soalnya udah ada simawa -yang multifungsi- kemudian muncul sistem baru lagi. Bukannya apa-apa sih, tapi jujur aku sebagai mahasiswa yang mungkin agak culun dan gaptek bingung dengan semua sistem per-online-nan kampus ini. Kunulis kaya gini bukan berarti aku ngrasa sok pinter atau bagamana. Namun ini hanya sekadar curahan hati anak desa yang gaptek dan tak tahu apa-apa yang nekad kuliah di Desa juga –Unnes kan di Desa hehe-
Mungkin masih jam-jam sibuk kali ya? Atau mungkin memang akunya yang kurang beruntung. Situs beasiswa yang baru itu sulit diakses. Pertama kali aku buka bisa, langsung aku masuk dengan menggunakan user sikadu. Nggak nunggu lama ling daftar beasiswa aku klik. Seluruh data yang diperlukan aku isi. Kemudian ketika aku akan mengklik link selanjutnya tiba-tiba yang muncul adalah layar putih dengan tulisan “Server not found”. Berulang kali aku coba lagi memngakses situs baru itu, namun hasilnya nihil. Hemmm….. sampai pada akhirnya oke I’m quit! –dari warnet maksutnya- akan aku coba besok. Semoga aku beruntung…

Base goes to Solo



Solo spirit of Java. Emmmm, slogan kota Solo yang banyak tertulis di kaos-kaos. Serasa kembali ke zaman dulu ketika kami sekeluarga-yang dimaksud kelurga besar Guslat Base- mengunjungi Keraton Surakarta. Eh… Surakarta atau solo ya? Mmmmm… nggak tahu deh biar gampang kita nyebutnya dengan Keraton Surakarta aja ya, biar agak panjangan gitu.
Pertama kali menginjakkan kaki di sana aku Cuma bisa takjup melihat bangunan Istana yang masih terjaga. Mata ini pun tak henti-hentinya menatap semua pemandangan indah, sampai lupa berkedip bahkan mulut agak menganga –udah kayak orang bego aja- untung nggak sampai ngiler. Arsitektur bangunan masih dipertahankan seperti aslinya. Para abdi dalem pada berkeliaran kesana-kemari dengan pakaian tradisional. Di sebrang sana ada kelompok-kelompok wisatawan asing sedang serius mendengarkan Tour Guide-nya yang komat-kamit menjelaskan tentang bangunan Keraton. Bule itupun Cuma manggut-manggut. Entah itu tanda mereka paham atau memang cara mereka untuk menyuruh diam tour guide yang kebanyakan bicara. Namun sayangnya sang tour guide lokal itu tak mengerti tanda yang dilancarkan sang bule, akhirnya terus aja komat-kamit dengan sesekali menunjukkan senyum ala pepsodent. Ting!! Maaf mas Silau….
Sengaja rombongan kami tidak menyewa tour guide. Alasannya ya, biar ngirit. Toh kita juga punya anggota yang asli Solo kok. Jadi suruh aja dia yang nerangin. Tak puas dengan penjelasan teman sendiri. Bukan karena nggak percaya atau kurang lengkap, tapi kita ingin mencari suasana baru and nambah kenalan akhirnya ita berpencar, tersebar keseluruh penjuru ada yang naik ojek, terbang bahkan ada yang naik garuda –bohong banget- maksutnya kita nyebar gtiu terus nyari kenalan baru buat ngobrolin tentang Keraton Surakarta.
Dengan barometer PD paling pol dan bermodal senyum ramah khas Jawa Tengah. Aku mendekati seorang Bapak-bapak tukang sapu. Ngekkk??!!! –kaya nggak ada yang lain-. Pikirku bapak-bapak itukan tiap hari kerjanya di sini, jadi dengan logika x+2y=12 –apa hubungannya?- aku berpendapat Bapak itu tahu segalanya. Di luar perkiraan beliau menceritakan banyak hal, sambil mendengarkan ceritanya sambil menganggukkan kepala, tanganku ikut mengumpulkan sampah-sampah daun yang disapu bapaknya tadi. Hehehe… nggak apalah itung-itung mbantuin bapaknya sambil menimba ilmu.
Tidak hanya itu. Sesaat ada rombingan anak SMA dating lengkap dengan tour guide yang berkomat-kamit dengan megaphone. Aksi selanjutnya dilancarkan. Pura-pura istirahat di dekat rombongan anak-ana Ababil yang pake sukanya pakai rok atao celana di bawah pinggang ditambah dengan sabuk kulit imitasi dengan lebar lebih dari 5 cm, gespernya pun nggak kalah gedhe. Sebenanya mereka itu kawanan pelajar atau pasukan Power Rangers berseragam sekolah? Hehehehhe sambil kipas-kipas, sesekali nengok ketemen sebelah pura-pura ngobrol, padahal kita pasang telinga, mendengarkan penjelasan dari tour guide anak SMA itu.
Baterai Megaphone-nya mau habis kali ya? Kok suara bapak itu nggak jelas? Lama-lama malah kaya dukun yang baca mantra. Setelah aku pikir-pikir emmmmm…. Bisa juga sie itu sebuah mantra. Mantra untuk membuat orang merasakan rileks dan akhirnya masuk kea lam bawah sadar –tidur maksutnya- soalnya siswa-siswa di depannya udah pada menguap semua. Hehehe..
Uqkay…. Selesai wisata di keraton sekarang saatnya Belanja di Pasar Klewer!!!!!! Nggak begitu antusias sie sebenarnya soalnya ngrasa salah kostum. Yang bener aja masak muter-muter Klewer pakai hight heels? Sakit beb huhuhuhuhu…. Temen-temenku udah pada berkeliran dengan beringasnya memburu batik harga miring sedangkan aku bersama 2 orang sahabatku berjalan lambat di belakang sambil sesekali mereka nengok ke aku dengan tatapan yang berbicara “Nikken cepetan!!!!!” mata mereka pun memerah, kedua taring gigi mereka tumbuh, dua tanduk tumbuh di kepala mereka mirip seperti devil yang ada di TV-TV.  Sebelum mereka menelanku bulat-bulat aku lari menyusul sambil meningalkan suara “cethak, cethok, cethak, cethok” yang keluar dari sepatuku.
Dua jam lamanya kami mengelilingi Klewer. Lantai satu ke lantai dua, lantai dua ke lantai tiga, eh! Salah Klewer Cuma dua lantai doang. Maksutnya dari lantai dua turun lagi ke lantai satu. Bisa di bayangin nggak sie bagaimana menderitanya kakiku. Capek sie enggak, tapi lecet iya. Haduuhhhhh….. hasil dari perburuan kami selama dua jam itu adalah Kaos khas Solo yang tulisannya Spirit of Java masing-masing kami beli sendiri-sendiri dengan warna yang sama namun gambarnya beda.
Lelah jalan-jalan kami mampir di warung Bakso. Gila! Bakso di sana mahal banget satu porsi Rp 10.000 kalau enak sie mending tapi ini bakso hambar banget dibandingin siome Unnes kalah jauh. Ditambah dengan pengamen yang menghambat laju makan kami.
Suapan pertama baru aja masuk mulut. Baru dikunyah tiba-tiba hp ada yang nelpon. Dari temen serombongan katanya yang lain udah ada kumpul mau berangkat makanya suruh cepet balik ke bis atau kalau nggak bakal ditinggal. Ok.ok atas nama mubazir dan katanya mubazir itu temannya setan dan lagi kami nggak mau temenan sama setan. Kami tetap menghabiskan hidangan yang telah di sajikan meskipun dalam prosesnya kami sering merem melek merasakan rasa yang nggak karu-karuan –iuewhh… Wekkk, nggak lagi-lagi makan di situ-
Selesai makan dan bayar. Masih dengan kekagetan karena harga makanan tadi mahal banget tidak sebanding dengan rasanya, kami bergegas menuju parkiran. Masuk bis dengan nafas tidak beraturan kami kompak pasang senyum pepsodent sambil menuju bangku masing-masing.hehehe tak kirain udah yang terakhir aku masuk bis, ternyata masih ada yang lebih telat. Hemmmm, saat yang terakhir naik bis sorakanpun berhambur kepadanya. Tidak ketinggalan aku pun turut menyorakinya –hehehe kyak nggak inget dosa yang barusan-
Semua lengkap! Kita berangkat ke next destination. Yeeee!!!!!! : D Tapi, udah sore banget, kemaleman kalau mau ke Tawangmangu. Yahh……. : ( untuk mengobati kekecewaan kami mampir ke UNS dan muter-muter aja di dalam kampus. Untung nggak jadi pakai bis Unnes, coba jadi kita di sambut deh. Dan pastinya akan bikin penghuni UNS geger….
Udah, habis itu perjalanan kembali menuju kampus tercinta…
Huaaaaemmmmm…. Ngantuks.ngantuks banget…..


nie ada beberapa jepretan fotografer yang ngaku handal...
cekidot..
 karauke di dalam bis biar nggak terlalu bosenn....

cuma pengen nampang duang.......
pas pertama sampai...
 
di depan Keraton Surakarta...

Kamis, 19 Januari 2012

Dikira Sakit Gigi

"Lho, Ken.. kowe apa lara untu"
"Nggak kok bu"
"Lha kok pipimu aboh?"
??????

Percakapan di atas terjadi ketika aku akan berangkat ke Semarang setelah 3 hari di rumah. awalnya ibu memperhatikan aku. Beberapa saat diperhtikan katanya ada perubahan pipiku tambah berisi katanya. Nah, ibu mengira aku sakit gigi trus pipiku bengkak.
nggak tahu apakah itu memang karena ketidaktahuan ibuku yang anaknya tambah berisi atau ibuku sengaja berkata seperti itu untuk menyindirku yang semakin gendut....
Padahal aku kan ora lemu-lemu banget....

Behind the Scene of "Suminten Edan"


Beberapa Waktu Sebelum Suminten Menggila (Behind the Scene)
 

Cemas, grogi, panik, dilema, galau dan apalah namanya intinya demam panggung pasti dialami semua kelompok kethoprak yang akan tampil. Termasuk juga kelompok kethoprak rombel 2 BSJ’2009 yang akan menampilkan cerita “Suminten Edan”.
Menurut jadwal kelompok Suminten akan tampil pukul 15.30 WIB. Namun para pemain dan kru sudah bersiap sejak pukul 10.00 pagi. Make up mulai ditorehkan ke wajah semua pemain. Dari Suminten sampai dengan Bergal-bergal. Dandanan kami berkiblat ke Jawatimuran, hal ini karena setting dari cerita Suminten Edan adalah daerah Trenggalek. Make up yang paling mencorong adalah make up Warok yang diperankan oleh Selly dan Ibnu. Setelah dimake up kedua pemeran tersebut sudah tak dikenali sebagai Selly dan Ibnu karena wajah mereka penuh dengan coretan merah dan hitam yang menggambarkan bahwa mereka adalah seorang Warok.
Gelak tawa, candaan silih berganti di ruang persiapan 304 gedung B1. Seakan ingin menggila menghilangkan stress sebelum nantinya benar-benar gila di atas panggung. Saling mengomentari tentang tata rias masing-masing dengan sesekali tertawa tak lupa membahas status fb dari beberapa pemain yang menggambarkan kegelisahan sebelum tampil – hehehe, maklum baru kali ini tampil kethoprak –
Waktu seperti berlari, tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 14.00 itu artinya persiapan tinggal sebentar lagi. Kepanikan mulai terlihat dari wajah pemain dan penata kostum. Semua berusaha secepat mungkin mengenakan kostum masing-masing, tapi karena kostum yang dikenakan bukan pakaian seperti sehari-hari, jujur memang sulit jika harus memakai sendiri.
Namun akhirnya Rombongan Suminten Edan Siap!!!!
Seperti biasa sebelum tampil semua pemain dan kru melingkar dan berdoa demi kelancaran penampilan nanti. Dan Sekarang Rombongan Suminten Edan Benar-benar Siap!!!!

Selasa, 10 Januari 2012

Cinta Gila Ala Suminten




Cinta bisa membuat orang gila. Itulah sedikit gambaran dalam pementasan Kethoprak rombel 2 BSJ’09 yang mengusung judul “Suminten Edan”. Gagalnya lamaran dari Subroto membuat Suminten hilang akal sehat dan akhirnya gila. Karena saking cintanya kepada Subroto, tiap laki-laki yang ditemui dikira adalah Subroto. Sungguh malang nasib Suminten.
Bagaimana cerita selanjutnya???? Cekidot!!!!!

Kisah bermula dari keberhasilan Warok Gunaseca (Ibnu Ashari) menumpas brandal (Ana Melisa, Sofi, Berli) yang sering membuat keonaran di Kadipaten Trenggalek. Sebagai hadiah Gunaseca akan diangkat menjadi patih oleh Adipati Dibyongalim (Cipto), namun Gunaseca menolaknya dan sebagai gantinya dia minta supaya putrinya, Suminten (Puput) dijodohkan dengan Subroto (Ryan) putra Adipati Dibyongalim. Sang Adipati menyanggupi, kemudian dia bertanya kepada istrinya (Unik) apakah dia setuju? Istrinya pun menjawab “saya sie, setuju-setuju ajjah” hehehe nggak gitu ding dialognya. Pokoknya pada intinya ibunya Subroto setuju. Subrotopun dipanggil dan ditanyai perihal rencana perjodohannya dengan Suminten. Tanpa perlawanan Ryan, eh maksudnya Subroto langsung setuju-ceritane manut wong tuwa-

Pagi-pagi sekali Suminten sudah bersiap untuk menyambut lamaran Subroto ditemani ibunya (Nikken Derek) dan Ayahnya, Gunaseca. Suminten merasa gundah, kalau bahasa trennya Galau soalnya orang yang ditunggu-tunggu belum datang. Lalu datanglah seorang Patih (Trias Puput) utusan dari Kadipaten Trenggalek membawa kabar buruk. Ketika Suminten masuk membuatkan minuman, Patih membeberkan semua kepada Gunaseca dan Istri bahwa lamaran Suminten DIBATALKAN karena Subroto terlanjur minggat. Memang pada awalnya Subroto menerima rencana perjodohannya, namun menjelang hari lamaran dia melihat Suminten manjat pohon kelapa. Nah, itulah yang membuat Subroto illfeel sama Suminten akhirnya pergi dari kadipaten nggak bilang-bilang.
Gunaseca dan istrinya bingung bagaimana caranya memberi tahu Suminten perihal lamarannya yang gagal. Ditengah kebingungan mereka berdua suminten muncul tiba-tiba dan mengetahui  bahwa larannya batal. Seketika terdengar suara “Grompyang!!!!!” nampan yang dibawanya terjatuh. Tangispun pecah sampai pada akhirnya Suminten pingsan dan hilang akal sehat.

Beberapa hari berikutnya suminten ditemukan oleh teman-temannya (Diah, Afa, Luna) sudah dalam keadaan gila. Dandanannya pun sudah tidak karu-karuan. Tiap laki-laki yang ditemuinya dikira Subroto. Sungguh malang nasibnya. Karena merasa kasihan Suminten diantarkan pulang oleh teman-temannya.
Terus,Subroto apa kabar ya?  kira-kira minggat kemana dia???? Apa dia nggak tahu kalau udah bikin anak orang jadi gila??

Disisi lain, di sebuah pasar Cempluk (Via) dan Ibunya (Dru) sedang memilih sayuran yang dijajakan oleh para pedagang (Eka, Ima). Tiba-tiba muncul preman pasar bernama Sura Gentho (Adip). Dengan mabuk dia  mengganggu Cempluk dan ibunya. tepat ketika Suragentho menarik paksa tangan Cempluk datanglah Pahlawan Bertopeng Hahahaha!!! Ups, salah lagi maksutnya datanglah Subroto yang siap menolong. Perkelahian sengit terjadi diantara mereka. Beberapa kali Subroto jatuh begitu pula dengan Suragentho. Akhirnya, sesuai dengan naskah perkelahian tersebut dimenangkan oleh Subroto. Beri tepuk tangan yang meriah…. Hore!!!! Dipihak lain Suragentho yang tak trima akan kekalahannya mengancam akan melaporkan Subroto kepada Ayahnya –ceritane aep wadul bapake-.
Merasa telah diselamatkan oleh Subroto, Cempluk dan ibunya mengucapkan terimaksih kepada Subroto. Diluar dugaan Subroto menawarkan diri untuk mengantarkan Cempluk dan ibunya sampai rumah karena dia khawatir kalau-kalau ada penjahat lain mengganggu mereka lagi –panah asmara mulai tumbuh nie antara Cempluk dan Subroto, ehem.ehem-
Di rumah Cempluk. Seperti biasa tiap sore ayahnya Warok Suramenggala (Selly) sedang asik menikmati menikmati rokok ditemani dengan secangkir kopi. Mantaps! Kemudian sampailah Cempluk, ibunya beserta Subroto. Melihat sosok asing di rumahnya Suramenggala bertanya siapa gerangan yang ikut anak dan istrinya sampai di rumah ini. Subrotopun menjelaskan jati dirinya bahwa dia adalah putra Adipati Dibyongalim dan sekarang dalam keadaan minggat karena tidak sanggup dijodohkan dengan Suminten, tak lupa Subroto juga menjelaskan peristiwa yang baru saja dialami oleh Cempluk dan ibunya. sebagai tanda terimakasih suramenggala menyuruhnya beristirahat sejenak di rumahnya.
Bapak dan ibu sudah masuk. Tinggal Cempluk dan Subroto berdua. Asik.asik!

Letupan-letupan cinta tergambar jelas di muka mereka. Rayuan gombal dari Subroto membuat Cempluk semakin jatuh hati. Tak mau kalah Cempluk pun melancarkan rayuan mautnya kepada Subroto. Intinya pada saling merayu. Capek rayu-rayuan Cempluk tertidur dipangkuan Subroto, kemudian Subroto juga ikut tertidur. Saking pulasnya, Subroto tidak tahu kalau Cempluk telah diculik oleh Gunaseca. Gunaseca merasa dendam dengan Cempluk karena dia menganggap kegialaan Suminten adalah karena Cempluk menjadi kekasihnya Subroto. Bangun dari tidurnya, Subroto bingung, karena Cempluk sudah tidak ada disampingnya. Segera subroto mencari dimana keberadaan Cempluk.
Cempluk sudah dibawa oleh Gunaseca menuju suatu alas. Di sanalah Gunaseca akan menghabisi nyawanya Cempluk. Sebelum itu terjadi, sekali lagi subroto muncul disaat yang tepat. Dia menghentikan Gunaseca yang akan membunuh Cempluk. Terjadi perkelahian antara mereka berdua. Namun karena kalah jam terbang Subroto tidak dapat menaklukkan Gunaseca. Subroto jatuh tersungkur kemudian ditolong oleh Cempluk.
Gunaseca pun menyombongkan kesaktian dirinya dihadapan Subroto dan cempluk. Lalu muncullah Suramenggolo, Ayah Cempluk yang tak lain adalah teman seperguruan Gunaseca. Melihat Cempluk dan Subroto tak berdaya dipojokkan –ceritane Subroto luka parah dan Cempluk berusaha ngasih pertolongan pertama, hehehe- Suramenggala naik pitam. Pertempuran antara dua Warok hebat nan sakti terjadi begitu hebat. Suramenggala sempat berhasil menjatuhkan Gunaseca, namun Gunaseca berhasil bangkit dan member perlawanan yang tak kalah kuat. Gunaseca juga sempat akan menusukkan pedangnya ke arah Suramenggala, namun sebelum itu terjadi kaki kanan Sura menggolo menendang perut Gunaseca sampai jatuh tersungkur. Ketika dalam keadaan tidak berdaya, Suramenggal menancapkan sebilah keris ke dada kiri Gunaseca. Gunaseca pun tewas.
Suminten datang lagi, melihat mayat Ayahnya dia mengira itu adalah Subroto. Maka dipanggil-panggilnya nama Subroto namun yang dipanggil tidak bereaksi karena nyawanya sudah tak bersatu dengan raganya. Merasa kasihan Suramenggala ingin mengobati Suminten. Namun Suminten berontak tidak mau karena dia masih asik dengan mayat ayahnya yang dikiranya Subroto. Setelah Suramenggala menarik dan berteriak kepada Suminten, Suminten diam dan pasrah akan diobati. Merasa lemas, Suminten jatuh pingsan dipelukan Subroto.

Subroto berusaha membangunkan Suminten dengan menepuk-nepuk pipinya. Setelah Suminten sadar, tangis pecah seketika dia menghambur ke jasat ayahnya. Dipeluknya Gunaseca yang sudah tidak bernyawa lagi. Cempluk berusaha menghibur Suminten namun Suminten tetap meronta-ronta.
Paham tentang apa yang terjadi, Suramenggala menjodohkan Suminten dengan Subroto kembali untuk menepati janji Ayahnya Subroto. Tanpa disangka Subroto juga mencintai Cempluk begitu juga Cempluk juga mencintai Subroto. Akhirnya mereka berdua dijodohkan dengan Subroto.
Ok… tamat!!!

Begitulah, Cerita Suminten Edan. Cinta memang bisa membuat seseorang hilang akal sehat, jadi jangan main-main dengan yang namanya cinta.
Ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya untuk seluruh Kru, Pemain sekaligus Sutradara (Angga Kurniawan) Rombel 2 BSJ’09 yang telah berjuang keras demi kesuksesan lakon Suminten Edan ini. Tak lupa terimakasih kepada Pak Yusro dan Mas Ranu uyang meberikan arahan kepada kami. Serta ucapan terimakasih yang amat besar sekali untuk seluruh penonton yang hadir….
Maturnuwun sanget!!!!