Calon Penulis dan Penulis

“….nanti pulang dari sini kalo Nikken nulis pasti tulisannya jelek, gue jamin itu. Lalu kapan tulisannya bakal bagus? Kalau dia mau memperbaiki yang kurang bagus, mengedit yang kurang sesuai sehingga menjadi tulisan yang bagus….-RD”

Semangat Berani

"Lebih baik salah dari pada selamanya tidak tahu salah atau benar" -Jomblo

My Inpiration

"Imagine all the wonderful things that will never happen if you do not do them" -Up

Nikken Derek Saputri dan Derek Samtidar

"Akhir sebuah perjalanan merupakan awal dari perjalanan baru" -Wisuda Unnes Periode II tahun 2013

Bersama berbagi tawa canda

"Sahabat adalah keluarga yang kita pilih sendiri"

Rabu, 23 Mei 2012

"Maaf" Tak Hanya Sekadar Lips Service

gambar koleksi pribadi
MARAH
Pasti semua orang pernah mengalaminya. Pernahkah ketika kita marah kemudian keita berpikir tak akan memberi maaf sampai kapanpun? jika iya, berarti kita sadar dan normal. Marah merupakan sebuah anugrah dari Tuhan supaya manusia belajar tentang maaf dan memaafkan.

"Maaf, ada yang bisa saya bantu?"
"Sory bro, gue lupa jemput elo!"
"Maaf aku udah nyakitin kamu...."

Berbagai model kalimat maaf di atas sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan kita sendiripun sering menggunakannya. Keseringan semacam ini semakin membuat kabur makna maaf itu sendiri. Berkali-kali kita ucapkan maaf, maaf, maaf dan maaf tanpa mengetahui makna dan esensinya. Maaf bukan hanya sekadar layanan di bibir saja, setelah terucapkan seketika itu dilupakan. Maaf memang kata sederhana yang ringan untuk diucapkan. Begitu ringannya sampai terkadang kita mengabaikan maksudnya. Ringan diucapkan bukan berarti ringan untuk dilakukan.

Sebuah film yang mengajarkan makna sebuah kata maaf. A Moment to Remember, dari sana kita belajar tentang dalamnya makna maaf. Maaf merupakan pemberian ruang atau tempat pada rasa benci yang ada di dalam hati kita. Jadi, memberi maaf merupakan sebuah keikhlasan hati untuk memberikan ruang yang walaupun kecil untuk rasa benci yang ada di dalam hati kita menerimanya. Dan ketika ruang benci ini sudah ditempati “sedikit” maaf, maka tak mustahil hal ini akan merambah dan bertambah luas mengikis tapal batas benci yang ada di dalam hati kita. Sehingga kemudian, ketika ini sudah terjadi maka hati kita tak mustahil bisa kembali bersih dan kembali normal seperti biasa.

Memberi maaf kepada seseorang ketika rasa benci masih tersimpan di hati merupakan hal yang sukar dilakukan. Tidak semudah ketika mengedipkan mata. Tidak semudah ketika menyetater mobil baru. Namun meskipun demikian bukannya tidak mungkin untuk dilakukan. Ketika kita sudah bisa memberi maaf maka hakikatnya merupakan langkah bijak yang mampu membuat tembok China runtuh atau candi Borobodur terangkat. Maksudnya, ketika kita sudah bisa memberi tempat pada hati kita pada orang yang kita benci maka sesungguhnya kita sudah bisa merobohkan tembok China keegoisan kita atau mengangkat candi Borobudur emosi dari dalam hati kita.

Adakalanya maaf menjadi tak berarti ketika tidak disertai dengan perubahan sikap. Percuma jika kita minta maaf namun kesalahan yang sama tetap kita lakkan. Maaf merupakan salah satu media evaluasi diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik bukan malah menjadi pribadi yang hobi minta maaf dan selalu mengulangi kesalahan yang sama. Ketika suatu kesalahan sudah termaafkan yang selanjutnya adalah kesempatan untuk memperbaikinya. Gunakanlah kesempatan itu untuk berbuat sebaik-baiknya karena kesempatan belum tentu datang untuk keduakalinya.

Minggu, 20 Mei 2012

Pentingnya menjaga perasaan



Luka di badan bisa terlihat. Luka di hati siapa yang tahu?

Dalam keseharian, mau tidak mau kita akan selalu berinteraksi dengan orang lain. Sejatinya memang manusia tercipta sebagai makhluk sosial jadi ia tidak bisa melangsungkan hidup tanpa bantuan dari manusia lain. Oleh karena itu penting sekali bagi kita untuk menjalin hubungan yang harmonis antar sesame manusia. Mulai dari keluarga, teman, sahabat, pokoknya orang-orang yang ada disekitar kita.

Pernah mendengar pribahasa “Mulutmu, Harimaumu”?
Tidak asing kan? Yups,. Karena pribahasa ini pernah dipakai iklan salah satu provider terkemuka sehingga kata-kata tersebut rasanya sudah sering terdengar.

Kira-kira udah tahu maksud dari pribahasa di atas??? Hehehehe, ini memang bukan pelajaran Bahasa Indonesia. So, nggak usah terlalu detail dalam mengejawantahkan. Cukup tahu maksudnya saja dan mengplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Simple kan??
Pada intinya, pribahasa ini memberi pelajaran untuk kita supaya dapat menjaga perkataannya sendiri. Karena bisa saja kata-kata itu juga yang aka menerkam diri kita bagaikan harimau yang kelaparan....
Nggak percaya???
Coba aja..

Kamis, 03 Mei 2012

Putus tanpa pacaran

Kenapa setelah sejauh ini, setelah sedalam ini dan setelah selama ini kamu baru bilang “ga bisa meneruskan”?
……………… kenapa?

Alasan “karena tak ingin menyakitiku, tak ingin membuatku menangis, tak ingin aku bersedih” selalu itu saja yang keluar. Taukah kamu justru alasan-alasan itulah yang semakin membuatku sakit, membuatku menangis, membuatku bersedih. Ketika aku bertanya apakah karena ada orang lain? Kau tegas menjawab TIDAK. Lalu apa???

Lelah memang menjalani hubungan seperti. Sempat putus asa sebetulnya. Apalagi ketika kamu menyebutkan nama perempuan dalam obrolan kita. Tahukah kamu kalau aku sangat cemburu? Aku sempat menangis saat itu. Kau anggap aku apa? Terpikir juga ingin menghilang dari kehidupanmu. Ya karena aku begitu lelah menunggu kepastian darimu.
Tepatnya aku lupa. Mungkin setahun yang lalu kau menyampaikan perasaanmu terhadapku. Pernahkah kau membayangkan begitu bahagianya aku mengetahui hal itu. Akhirnya orang yang aku suka selama ini menyimpan perasaan yang sama. Namun ketika kedua belah pihak memiliki perasaan yang sama kenapa tidak bisa dilanjutkan? Kembali lagi kamu beralasan tak ingin menyakitiku, tak ingin membuatku menangis, tak ingin membuatku bersedih. Aaaaghhhttt!!!!!!! Klise sekali.

Sampai kamu bilang “komitmen”, iya…. Komitmen untuk tidak pacaran. Entah kamu membuat komitmen itu dengan siapa. Sebagai seorang perempuan biasa tak mungkin aku memaksakan keinginanku sendiri. Baiklah akan aku ikuti alurnya dan tak terasa sudah setahun lebih aku turut mengalir.

Dalam perjalanannya tidak aku pungkiri, ada orang lain yang lebih berani mengajakku membuat komitmen bersamaku. terus terang aku mengiyakan lantaran aku sudah lelah menunggu dirimu. Tapi sebetulnya hati ini slalu ada untuk kamu. Saat itu aku sangat merasa bersalah berpaling darimu, namun disamping itu aku juga merasa jengkel kenapa kamu masih seperti itu. Penyesalan semakin menjadi ketika aku putus dengan pacarku. Seharusnya aku tidak menerimanya dulu dan tetap setia menunggumu. Sungguh aku begitu menyesal.

Aku mulai kebingungan ketika tahu ternyata yang kau panggil dengan sebutan “nok” tidak hanya aku. Beberapa perempuan –barang kali- kau panggil dengan sebutan yang sama. Makanya saat itu aku sempat membuat status “Menawa ana wong liya sing parabane padha karo aku”.

Cemburukah aku??
IYA!!!!

Kadang aku berpikir lebih baik aku tidak tahu bahkan jangan sampai aku tahu. Karena rasanya sakit, benar-benar sakit. Apalagi ketika kau bertanya pendapatku jika kamu bersama cewek itu. aku marah saat itu. sungguh. Pernah membayangkan nggak betapa sakitnya saat itu.


Kekecewaan adalah kekuatan yang seharusnya membuatmu lebih tegas untuk tidak dikecewakan lagi
-Mario Teguh
Kata bijak itu yang seharusnya turuti supaya bisa kembali seperti semula. Dan benar aku mencoba melakukannya. Namun ketika kau muncul kembali, jujur ketegasanku goyah dan akhirnya aku ikuti arus itu lagi. Samapi pada akhirnya kau mengatakan tidak bisa meneruskan….. dan aku kecewa (lagi).
Aku bisa berbuat apa????

Dulu, aku merasa yakin ketika kamu bilang “sama-sama mendo’kan supaya bisa menjaga hati dan yakin bahwa akhirnya bisa bersama” kalimat itulah yang mendasariku aku mau menunggu. Tapi sekarang, apa???
Sudahlah, mungkin memang benar kamu tidak ingin menyakitiku, tidak ingin membuatku menangis, tidak ingin membuatku bersedih. Yang bisa aku sampaikan hanyalah terimakasih njenengan sudah beritikad baik ingin menjaga prasaan saya dan terimakasih juga atas perhatiannya selama ini.
Mungkin inilah yang disebut putus tanpa pacaran.


Hal paling kejam yang dilakukan oleh seseorang kepada orang lain adalah membiarkannya jatuh cinta sementara kita tidak berniat untuk menangkapnya.

Rabu, 02 Mei 2012

Temu Pramuka Pandega se-Jawa Tengah


“Saya tidak peduli, entah itu masih Penegak ataupun sudah Pandega yang penting anak Pramuka.”
Pendapat tersebut dikemukakan oleh Ita perwakilan Dewan Kerja Cabang (DKC) Wonogiri ditengah-tengah diskusi batasan usia Pandega. Sontak pendapat tersebut disambut dengan tepuk tangan dari peserta yang lain.
Temu Pandega Daerah 11 Jawa Tengah berlangsung selama 3 hari, mulai tanggal 13-15 April 2012 bertempat di Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) Candra Birawa, Karanggeneng, Kota Semarang. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Dewan Kerja Daerah (DKD) Jawa Tengah. Ketua Panitia, Ratih, dalam sambutannya menyampaikan tujuan dari diselenggarakan Temu Pandega adalah menyamakan visi Pramuka Pandega se-Jawa Tengah supaya dapat bersinergi guna mewujudkan tujuan Gerakan Pramuka.
Kegiatan yang diikuti oleh 96 Pramuka Pandega perwakilan dari DKC dan Pramuka dari Perguruan Tinggi (Perti) se-Jawa Tengah ini menghasilkan 5 kesepakatan, yaitu berkenaan dengan pola pembinaan Pramuka Pandega, pencapaian Syarat Kecakapan Umum (SKU), rintisan satuan Ambalan di Gugus Depan Perti, struktur organisasi, dan masa bakti dewan Pandega.

Kamis, 05 April 2012

Kisah Wortel, Telur, dan Kopi

Seorang anak mengeluh pada ayahnya mengenai kehidupannya dan menanyakan mengapa hidup ini terasa begitu berat baginya. Ia tidak tahu bagaimana menghadapinya dan hampir menyerah. Ia sudah lelah untuk berjuang. Sepertinya setiap kali satu masalah selesai, timbul masalah baru.
Ayahnya, seorang koki, membawanya ke dapur. Ia mengisi 3 panci dengan air dan menaruhnya di atas api.
Setelah air di panci-panci tersebut mendidih. Ia menaruh wortel di dalam panci pertama, telur di panci kedua dan ia menaruh kopi bubuk di panci terakhir. Ia membiarkannya mendidih tanpa berkata-kata. Si anak membungkam dan menunggu dengan tidak sabar, memikirkan apa yang sedang dikerjakan sang ayah. Setelah 20 menit, sang ayah mematikan api.
Ia menyisihkan wortel dan menaruhnya di mangkuk, mengangkat telur dan meletakkannya di mangkuk yang lain, dan menuangkan kopi di mangkuk lainnya.
Lalu ia bertanya kepada anaknya, “Apa yang kau lihat, nak?”"Wortel, telur, dan kopi” jawab si anak. Ayahnya mengajaknya mendekat dan memintanya merasakan wortel itu. Ia melakukannya dan merasakan bahwa wortel itu terasa lunak. Ayahnya lalu memintanya mengambil telur dan memecahkannya. Setelah membuang kulitnya, ia mendapati sebuah telur rebus yang mengeras.
Terakhir, ayahnya memintanya untuk mencicipi kopi. Ia tersenyum ketika mencicipi kopi dengan aromanya yang khas. Setelah itu, si anak bertanya, “Apa arti semua ini, Ayah?”
Ayahnya menerangkan bahwa ketiganya telah menghadapi ‘kesulitan’ yang sama, melalui proses perebusan, tetapi masing-masing menunjukkan reaksi yang berbeda.
Wortel sebelum direbus kuat, keras dan sukar dipatahkan. Tetapi setelah direbus, wortel menjadi lembut dan lunak. Telur sebelumnya mudah pecah. Cangkang tipisnya melindungi isinya yang berupa cairan. Tetapi setelah direbus, isinya menjadi keras. Bubuk kopi mengalami perubahan yang unik. Setelah berada di dalam rebusan air, bubuk kopi merubah air tersebut.
“Kamu termasuk yang mana?,” tanya ayahnya. “Ketika kesulitan mendatangimu, bagaimana kau menghadapinya? Apakah kamu wortel, telur atau kopi?” Bagaimana dengan kamu? Apakah kamu adalah wortel yang kelihatannya keras, tapi dengan adanya penderitaan dan kesulitan, kamu menyerah, menjadi lunak dan kehilangan kekuatanmu.”
“Apakah kamu adalah telur, yang awalnya memiliki hati lembut? Dengan jiwa yang dinamis, namun setelah adanya kematian, patah hati, perceraian atau pemecatan maka hatimu menjadi keras dan kaku. Dari luar kelihatan sama, tetapi apakah kamu menjadi pahit dan keras dengan jiwa dan hati yang kaku?.”
“Ataukah kamu adalah bubuk kopi? Bubuk kopi merubah air panas, sesuatu yang menimbulkan kesakitan, untuk mencapai rasanya yang maksimal pada suhu 100 derajat Celcius. Ketika air mencapai suhu terpanas, kopi terasa semakin nikmat.”
“Jika kamu seperti bubuk kopi, ketika keadaan menjadi semakin buruk, kamu akan menjadi semakin baik dan membuat keadaan di sekitarmu juga membaik.”
“Ada raksasa dalam setiap orang dan tidak ada sesuatupun yang mampu menahan raksasa itu kecuali raksasa itu menahan dirinya sendiri” 

http://ekojuli.wordpress.com/2009/04/16/cerita-motivasi-kisah-wortel-telur-dan-kopi/