Kenapa setelah sejauh ini, setelah sedalam ini dan setelah selama ini kamu baru bilang “ga bisa meneruskan”?
……………… kenapa?
Alasan “karena tak ingin menyakitiku, tak ingin membuatku menangis, tak ingin aku bersedih” selalu itu saja yang keluar. Taukah kamu justru alasan-alasan itulah yang semakin membuatku sakit, membuatku menangis, membuatku bersedih. Ketika aku bertanya apakah karena ada orang lain? Kau tegas menjawab TIDAK. Lalu apa???
Lelah memang menjalani hubungan seperti. Sempat putus asa sebetulnya. Apalagi ketika kamu menyebutkan nama perempuan dalam obrolan kita. Tahukah kamu kalau aku sangat cemburu? Aku sempat menangis saat itu. Kau anggap aku apa? Terpikir juga ingin menghilang dari kehidupanmu. Ya karena aku begitu lelah menunggu kepastian darimu.
Tepatnya aku lupa. Mungkin setahun yang lalu kau menyampaikan perasaanmu terhadapku. Pernahkah kau membayangkan begitu bahagianya aku mengetahui hal itu. Akhirnya orang yang aku suka selama ini menyimpan perasaan yang sama. Namun ketika kedua belah pihak memiliki perasaan yang sama kenapa tidak bisa dilanjutkan? Kembali lagi kamu beralasan tak ingin menyakitiku, tak ingin membuatku menangis, tak ingin membuatku bersedih. Aaaaghhhttt!!!!!!! Klise sekali.
Sampai kamu bilang “komitmen”, iya…. Komitmen untuk tidak pacaran. Entah kamu membuat komitmen itu dengan siapa. Sebagai seorang perempuan biasa tak mungkin aku memaksakan keinginanku sendiri. Baiklah akan aku ikuti alurnya dan tak terasa sudah setahun lebih aku turut mengalir.
Dalam perjalanannya tidak aku pungkiri, ada orang lain yang lebih berani mengajakku membuat komitmen bersamaku. terus terang aku mengiyakan lantaran aku sudah lelah menunggu dirimu. Tapi sebetulnya hati ini slalu ada untuk kamu. Saat itu aku sangat merasa bersalah berpaling darimu, namun disamping itu aku juga merasa jengkel kenapa kamu masih seperti itu. Penyesalan semakin menjadi ketika aku putus dengan pacarku. Seharusnya aku tidak menerimanya dulu dan tetap setia menunggumu. Sungguh aku begitu menyesal.
Aku mulai kebingungan ketika tahu ternyata yang kau panggil dengan sebutan “nok” tidak hanya aku. Beberapa perempuan –barang kali- kau panggil dengan sebutan yang sama. Makanya saat itu aku sempat membuat status “Menawa ana wong liya sing parabane padha karo aku”.
Cemburukah aku??
IYA!!!!
Kadang aku berpikir lebih baik aku tidak tahu bahkan jangan sampai aku tahu. Karena rasanya sakit, benar-benar sakit. Apalagi ketika kau bertanya pendapatku jika kamu bersama cewek itu. aku marah saat itu. sungguh. Pernah membayangkan nggak betapa sakitnya saat itu.
Kekecewaan adalah kekuatan yang seharusnya membuatmu lebih tegas untuk tidak dikecewakan lagi
-Mario Teguh
Kata bijak itu yang seharusnya turuti supaya bisa kembali seperti semula. Dan benar aku mencoba melakukannya. Namun ketika kau muncul kembali, jujur ketegasanku goyah dan akhirnya aku ikuti arus itu lagi. Samapi pada akhirnya kau mengatakan tidak bisa meneruskan….. dan aku kecewa (lagi).
Aku bisa berbuat apa????
Dulu, aku merasa yakin ketika kamu bilang “sama-sama mendo’kan supaya bisa menjaga hati dan yakin bahwa akhirnya bisa bersama” kalimat itulah yang mendasariku aku mau menunggu. Tapi sekarang, apa???
Sudahlah, mungkin memang benar kamu tidak ingin menyakitiku, tidak ingin membuatku menangis, tidak ingin membuatku bersedih. Yang bisa aku sampaikan hanyalah terimakasih njenengan sudah beritikad baik ingin menjaga prasaan saya dan terimakasih juga atas perhatiannya selama ini.
Mungkin inilah yang disebut putus tanpa pacaran.
Hal paling kejam yang dilakukan oleh seseorang kepada orang lain adalah membiarkannya jatuh cinta sementara kita tidak berniat untuk menangkapnya.
……………… kenapa?
Alasan “karena tak ingin menyakitiku, tak ingin membuatku menangis, tak ingin aku bersedih” selalu itu saja yang keluar. Taukah kamu justru alasan-alasan itulah yang semakin membuatku sakit, membuatku menangis, membuatku bersedih. Ketika aku bertanya apakah karena ada orang lain? Kau tegas menjawab TIDAK. Lalu apa???
Lelah memang menjalani hubungan seperti. Sempat putus asa sebetulnya. Apalagi ketika kamu menyebutkan nama perempuan dalam obrolan kita. Tahukah kamu kalau aku sangat cemburu? Aku sempat menangis saat itu. Kau anggap aku apa? Terpikir juga ingin menghilang dari kehidupanmu. Ya karena aku begitu lelah menunggu kepastian darimu.
Tepatnya aku lupa. Mungkin setahun yang lalu kau menyampaikan perasaanmu terhadapku. Pernahkah kau membayangkan begitu bahagianya aku mengetahui hal itu. Akhirnya orang yang aku suka selama ini menyimpan perasaan yang sama. Namun ketika kedua belah pihak memiliki perasaan yang sama kenapa tidak bisa dilanjutkan? Kembali lagi kamu beralasan tak ingin menyakitiku, tak ingin membuatku menangis, tak ingin membuatku bersedih. Aaaaghhhttt!!!!!!! Klise sekali.
Sampai kamu bilang “komitmen”, iya…. Komitmen untuk tidak pacaran. Entah kamu membuat komitmen itu dengan siapa. Sebagai seorang perempuan biasa tak mungkin aku memaksakan keinginanku sendiri. Baiklah akan aku ikuti alurnya dan tak terasa sudah setahun lebih aku turut mengalir.
Dalam perjalanannya tidak aku pungkiri, ada orang lain yang lebih berani mengajakku membuat komitmen bersamaku. terus terang aku mengiyakan lantaran aku sudah lelah menunggu dirimu. Tapi sebetulnya hati ini slalu ada untuk kamu. Saat itu aku sangat merasa bersalah berpaling darimu, namun disamping itu aku juga merasa jengkel kenapa kamu masih seperti itu. Penyesalan semakin menjadi ketika aku putus dengan pacarku. Seharusnya aku tidak menerimanya dulu dan tetap setia menunggumu. Sungguh aku begitu menyesal.
Aku mulai kebingungan ketika tahu ternyata yang kau panggil dengan sebutan “nok” tidak hanya aku. Beberapa perempuan –barang kali- kau panggil dengan sebutan yang sama. Makanya saat itu aku sempat membuat status “Menawa ana wong liya sing parabane padha karo aku”.
Cemburukah aku??
IYA!!!!
Kadang aku berpikir lebih baik aku tidak tahu bahkan jangan sampai aku tahu. Karena rasanya sakit, benar-benar sakit. Apalagi ketika kau bertanya pendapatku jika kamu bersama cewek itu. aku marah saat itu. sungguh. Pernah membayangkan nggak betapa sakitnya saat itu.
Kekecewaan adalah kekuatan yang seharusnya membuatmu lebih tegas untuk tidak dikecewakan lagi
-Mario Teguh
Kata bijak itu yang seharusnya turuti supaya bisa kembali seperti semula. Dan benar aku mencoba melakukannya. Namun ketika kau muncul kembali, jujur ketegasanku goyah dan akhirnya aku ikuti arus itu lagi. Samapi pada akhirnya kau mengatakan tidak bisa meneruskan….. dan aku kecewa (lagi).
Aku bisa berbuat apa????
Dulu, aku merasa yakin ketika kamu bilang “sama-sama mendo’kan supaya bisa menjaga hati dan yakin bahwa akhirnya bisa bersama” kalimat itulah yang mendasariku aku mau menunggu. Tapi sekarang, apa???
Sudahlah, mungkin memang benar kamu tidak ingin menyakitiku, tidak ingin membuatku menangis, tidak ingin membuatku bersedih. Yang bisa aku sampaikan hanyalah terimakasih njenengan sudah beritikad baik ingin menjaga prasaan saya dan terimakasih juga atas perhatiannya selama ini.
Mungkin inilah yang disebut putus tanpa pacaran.
Hal paling kejam yang dilakukan oleh seseorang kepada orang lain adalah membiarkannya jatuh cinta sementara kita tidak berniat untuk menangkapnya.








0 komentar:
Posting Komentar