Calon Penulis dan Penulis

“….nanti pulang dari sini kalo Nikken nulis pasti tulisannya jelek, gue jamin itu. Lalu kapan tulisannya bakal bagus? Kalau dia mau memperbaiki yang kurang bagus, mengedit yang kurang sesuai sehingga menjadi tulisan yang bagus….-RD”

Semangat Berani

"Lebih baik salah dari pada selamanya tidak tahu salah atau benar" -Jomblo

My Inpiration

"Imagine all the wonderful things that will never happen if you do not do them" -Up

Nikken Derek Saputri dan Derek Samtidar

"Akhir sebuah perjalanan merupakan awal dari perjalanan baru" -Wisuda Unnes Periode II tahun 2013

Bersama berbagi tawa canda

"Sahabat adalah keluarga yang kita pilih sendiri"

Sabtu, 31 Januari 2015

Biasanya Aku

Beberapa minggu ini memang belum ada sesuatu yang baru di blogku. Yah, itu karena lagi konsen aja sama pekerjaan. Tahu sendiri lah sekarang tuntutan pekerjaan gimana sih? Itu alasannya. Alasan sebenernya adalah memang lagi nggak ada ide aja. Ups!


Bahkan hingga aku menulis postingan satu ini belum ad aide terbelsit dalam benak, yang ada hanyalah “Batagor, mana batagor”. Laper. Huft! 


Jadi daripada blogku keburu ditumbuhi sarang laba-laba, dan ditinggali makhluk-makhluk yang tidak diinginkan aku lanjutin artikel ini. Oke deh, kali ini aku bakal nyeritain rutinitasku sehari-hari. Aku yakin kamu juga nggak bakal tertarik, karena sehari-hari yang aku lakuin sama aja kayak orang pada umumnya. Bisa dibilang sih terlalu biasa. Biasa banget malahan. Nah, biar kamu nggak penasaran seberapa biasanya sih keseharianku? Silakan lanjutin membacanya. 


Aktivitas dimulai ketika aku mendengar teriakan sayang dari ibuku. Kamu tahulah, gimana? Yang masih tinggal dengan orang tua mestinya paham. Aku membuka mata, hal yang pertama kali aku lakukan sama seperti orang-orang lain lakukan yaitu ngecek handphone. Ngecek apakah ada balesan BBM yang sejak semalaman aku tungguin. Ternyata hanya di "R". Agghhhttt!!!! Kalau sudah begitu biasanya aku tidur kembali sampai teriakan sayang dari ibu terdengar lagi. Saat itulah aku sudah benar-benar bangun. tapi tetep nyawanya belum terkumpul seutuhnya.


Dari kamar, beranjak ke kamar mandi. Perlu usaha ekstra tentusaja untuk menemukan handuk dan alat-alat mandi lainnya karena pada kondisi ini mataku masih rabun. Untuk sampai ke kamar mandi pun harus melalui peristiwa kejedod lemari dan kesandung panci terlebih dahulu. Hummmm, begitu malangnya nasibku.


Keluar dari kamar mandi, biasanya udah dalam keadaan batrey full. Selama ini kamar mandi seperti tempat recharging. Sebelum masuk loyonya nggak ketulungan, ketika sudah keluar segar, bugar, dan penuh semangat. Meskipun nggak bisa dibohongin mata masih sayu karena sisa kantuk kadang lupa aku sabun. Loh! 


Membuka lemari melihat koleksi baju, yang sebenarnya masih itu-itu aja sih, kemudian sok-sokan melihat ke atas membayangkan paduan warna baju apa yang pas untuk hari ini ya? Hemmmm… tapi karena biasanya hal ini memakan waktu lama langsung aja deh ambil sedapatnya. Jadi ya untung-untungan gitu. Syukur kalau pas, kalau enggak ya asal pede aja insyaAllah tetep enak dilihat.


Setelah semua beres dan sudah sarapan tentunya, waktunya mengeluarkan Vera Si Matic cantik walau kadang terlihat belepotan. Dia lah, teman setia yang selalu aku curhati sepanjang perjalanan menuju sekolah. Curhatnya bisa tentang apa aja, bisa beban kerjaan, hari ini mau ngapain aja, bahkan sampai ke hal-hal pribadi seperti gebetan yang hanya nge-R pesan BBM. Kami sangat dekat, karena udah lama akhirnya kami memutuskan untuk jadian. Lhoh! Lhoh! Lhoh!


Sampai di sekolah, markirin motor lalu berjalan menuju bangkuku. Menunggu sebentar sambil sesekali bercengkrama dengan teman. Biasanya tidak lama setelah itu bel berbunyi. Oke, saatnya mengajar. Lho? Kok mengajar? Iya mengajar, aku kan guru. Nggak usah bingung ya? Kok bisa-bisanya seorang guru bisa punya blog aneh kaya gini. Kapan-kapan aku bahas lebih lengkap dalam sebuah postingan tersendiri. Hingar bingar kehidupan di sekolah berakhir ketika pukul 13.00 WIB saat itulah semua anak berusa secepat mungkin meninggalkan sekolah. Kalau dilihat dari atas mungkin seperti kerumunan burung yang kaget mendengar suara tembakan. Sekejap sekolah sepi, saat inilah waktu yang tepat untuk pulang. Bersama Si Vera lagi menyusuri jalanan Kota Semarang menuju Demak. Kurang lebih membutuhkan waktu sejam sampai di rumah. Sepanjang perjalanan nggak banyak yang aku lakuin selain ngegas, ngerem, nglakson dan sesekali marah-marah ke pengendara lain yang ngerem mendadak atau mobil yang seenaknya aja nyalip nggak aturan. 


Di rumah, biasanya sampai jam 3 lebih. Sore hari aku habisin dengan tidur (kalo sempet). Istirahatlah ya, setelah perjalanan yang lumayan jauh. Setelah magrib biasanya akan datang segerombolan anak SD pecandu sinetron ke rumah, tujuannya adalah belajar. Teorinya seperti itu. Praktiknya, iya betul memang mereka belajar, tapi belajar menjadi manusia harimau, manusia srigala, vampire dan jadi Wak Wao, Haaaaa???? Mereka akan semakin sulit diatur ketika salah seorang dari mereka ada yang kesurupan Harimau sehingga dia akan mengaum, kemudian dibalas dengan lolongan Srigala dari anak yang kesurupan srigala, trus Si Vampir yang berduet dengan Wak Wow bernyanyi “Darah Suci, darah suci, di mana….. di mana????” saat itulah aku mengucap salam, ‘Wassalamualaikum!!!’ tiga detik kemudian mereka menghilang. Ajaib!


Rumah kembali kondusif saatnya menyiapkan materi untuk besok. Buka laptop, tancap modem browsing. Biasanya sih nggak lama, yang lama itu kalo udah keasikan chatting, keasikan mention-mentionan, dan keasikan stalking profil mantan. Ehh!!!


Capek berselancar di dunia maya saatnya kembali ke dunia nyata dan beristirahat. Beristirahat untuk mempersiapkan tubuh supaya siap menghadapi tantangan diesok hari.


Ya, begitulah keseharianku. Biasa banget kan? by the way terimakasih buat kamu yang udah baca postinganku kali ini sampai selesai. Aku yakin kamu sekuat tenaga menahan mual dan mohon maaf jika ternyata menimbulkan amnesia dan penurunan tingkat kecerdasan. Hahaha, aku becanda becanda. Oke lah terimakasih dan sampai jumpa di postingan berikutnya. Semoga nggak terlalu lama.

Jumat, 09 Januari 2015

Dari Sekolah Hingga Dapur

Pengalaman-pengalaman yang aku alami tiap harinya pada dasarnya sama seperti dengan orang kebanyakan. Diawali dengan bangun pagi, mandi, siap-siap kekantor, kerja, pulang, istirahat, nonton TV sampai akhirnya tidur. Begitu tiap harinya.

Nah, kan sama. Terus ngapain kamu masih baca blog ini?

PLAAAKKK!!!

Aduhhhh!!! Iya iya, becanda aku Cuma becanda. Makasih banget ya yang udah baca. Yuk lanjut…
Emang sih hal-hal yang aku alami kurang lebih sama seperti yang dialami orang kebanyakan. Tapi bedanya aku tuangkan semua itu pada blog. Hal yang nggak semua orang lakuin. Kamu pengen tahu seberapa biasanya hari-hariku. Let’s check it out!!!

Foto aja masih Alay, mau jadi Wakil Kepala Sekolah
To day….(sok-sokan pake bahasa Inggris) aku awali dengan bangun tidur, mandi, sarapan, terus ke kantor deh. Kantorku adalah sekolahan, jadi sedikit informasi nih bagi kamu yang belum tahu profesiku, aku adalah guru Bahasa Jawa di salah satu SMP dekat dengan rumah. Selain itu aku juga dipercaya untuk menjadi wali kelas. Iya wali kelas. Entah dasarnya apa sehingga ibu kepala memasrahkan 16 siswa tak berdosa kepadaku, yang notabene belum punya pengalaman apa-apa. Secara, ini adalah tahun pertama aku mengajar. Tapi tenang, nggak sampai kok kalo aku menjerumuskan mereka ke jurang. Soalnya nggak ada jurang di sekitar sekolahan.


Minggu ini adalah awal semester baru. Setelah kemarin liburan saatlah kini kembali ke kehidupan nyata (emang kemarin nggak nyata) maksudnya kerutinitas sehari-hari. Awal masuk banyak yang berbeda dari siswa-siswiku. Muka merah cerah dan sumringah. Mungkin karena sudah terlalu kangen dengan wali kelasnya kali ya, jadi pengen ngejorokin dari lantai dua. Haha, enggak… ya, namanya juga habis liburan ya mereka senenglah, kecuali yang nggak pulang dari pondok. Selama dua minggu tetap di pondok, setor hapalan, belajar agama dan paling ya main comberan. Yang terakhir hanya fiktif.

Pertama kali pelajaran, bakal nggak bijak kalau langsung menyampaikan materi. Cukup dengan cerita-cerita pengalaman pas liburan aja. Ada yang cerita main ke pantai nonton konser. Keren nie anak, biasanya ngaji mulu pas liburan nontonnya konser, music metal pula. TOPlah. Saking antusiasnya konser mulai jam 8 malam dia udah stanbay di pinggir panggung jam 2 siang. Heh tong! Elu mau ngapain? Buka lapak asesoris? Hahahaha, salah satu pengalaman liburan yang fantastis.

Ada lagi nih, menghabiskan masa libur dengan menjelajah alam liar (baca:kali belakang rumah). Bersama teman-temannya Tomi (muridku bukan nama sebenarnya) memustuskan untuk mengadakan kegiatan susur sungai. Tujuannya untuk mencari tantangan sekaligus mencari ikan. Mata dipasang mode awas dengan tingkat kesensitivan tinggi atas pergerakan. Ada pergerakan sedikit dia langsung tahu, apakah itu ikan atau yang lainnya. Beberapa menit mengamati, ternyata sensor menangkap ada sebuah pergerakan. Agak lambat sih, nggak seperti ikan pada umumnya. Bentuknya agak besar. Wah, ini pasti ikan lele yang kekenyangan. Pelan-pelan dia mendekati. Pelaaaannnnn sekali, sampai ketika sudah dekat Haaap!!!! Tertangkaplah sebuah “Celana Dalam Bekas” entah milik siapa.

Aku curiga sensor yang ada di mata mereka sedang rusak. Membedakan ikan dan segumpal celana dalam aja nggak bisa. Hemmmmmm.

Waktu berlalu dan jam pelajaran usai. Ok I have finish.

Lanjut Rapat Dewan Guru. Sementara siswanya ditinggal dulu ya, biarlah mereka berfantasi dengan khayalannya lagi. Sebagai Guru yang masih belia, di dalam rapat tidak banyak yang aku lakukan. Mendengarkan kalau ada yang bicara, ikut tertawa kalau semua pada tertawa, menjawab “Siap” jika ditugaskan sesuatu. Termasuk ketika ditugaskan menjadi Wakil Kepala Sekolah urusan Kurikulum.

Hah!!! Waka Kurikulum? Bentar-bentar nggak seharusnya nih aku bilang siap. Selama enam bulan terakhir menjadi wali kelas saja anak-anak banyak yang terlantar, nggak karuan kena cacar, busung lapar, ada yang congekan daaaannnnnnn yang paling parah nyemplung comberan. Lalu sekarang harus bertanggung jawab dengan system pendidikan mereka. Oh, Tuhan demi apapun aku nggak mau menjerumuskan mereka lebih dalam.

Yang nggak habis pikir, kok ya bisa-bisanya ibu Kepala Sekolah memasrahkan posisi yang begitu pentingnya kepada aku. Jelas pilihan yang salah sih. Mudeng kurikulum aja belum, tahu cara bikin jadwal aja nggak, bahkan untuk ngajar biar keliatan keren di depan murid, semalaman aku latihan. Kalau gini pengen langsung terjun ke lantai satu dan ngibrit ke rumah, masuk kamar, selimutan dan bobok siang.

PLAAAKKK!!!

Nggak ding, Cuma menghela nafas dan meyakinkan diri aku pasti bisa mengemban tugas penting ini. Demi mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut serta membangun masyarakat, menepati Dasa Darma. Lhoh!

Nah, itu kan di sekolah. Udah deh sejenak kita lupakan persoalan di sekolah. Sekarang di rumah.
Entah dari mana inspirasinya aku pengen banget masak sesuatu. Pilihan masakan jatuh pada Fuyunghai sebuah makanan China (katanya) yang bentuk aslinya saja aku belum pernah merasakan. Terus untuk tahu itu rasanya udah bener atau nggak dari mana coba?  What ever lah itu dipikirkan nanti lagi.

Dengan semangat coba-coba yang sangat tinggi aku lancarkan rencana untuk memasak Fuyunghai. Resep aku cari di internet. Ada banyak versi di sana, aku pilih yang paling simpiel dan bahan yang paling mudah aku dapat. Fiks dengan resepnya mulai mengumpulkan bahan-bahan. Mulai dari telur, tepung, kol, daging kornet, saus, kecoa, nyamuk, dan…. Hahaha itu bukan termasuk.

Langkah demi langkah aku ikuti. Ternyata nggak terlalu rumit. Aku rasa ini bakalan menjadi masakan paling enak sepanjang bulu hidung yang baru dicukur. Prose mask masih berlangsung, perlu perjuangan sangat keras karena ternyata minyak nggakbelum baikan sama air, jadi pas lagi menggoreng adonan cipratan-cipratannya luar biasa seperti kembang api yang salah meledak. Heboh banget. Semakin yakin kalo masakan ini rasanya tak akan mengecewakan.

Setelah setengah jam, aktivitas menggoreng dan membuat saus selesai. Aku menata hasil gorengan di atas piring lalu aku siram dengan sausnya. Jadilah Fuyunghai alakadarnya. Hemmmmm, sepertinya enak. Sekali lagi masih sepertinya. Jadi belum dipastikan nih beneran enak atau hanya sebatas mitos saja.

Fuyunghai bikin fuyeng nih
Saatnya yang paling menegangkan. Mencicipi. Suapan pertama ada yang aneh, tapi aku tetap menguyah dan berhasil menelannya. Suapan kedua, tetap berasa aneh aku nggak menghiraukan masih mengunyah dengan anggunnya. Kunyah, kunyah, kunyah sampai pada akhirnya…. 

Hooooeeeekkkk!!!! Hoooooeeekkkk!!! Aku muntah.

Sepertinya nggak usah diperpanjang lagi kamu paling udah tau. Iya masakannku nggak enak. Sama sekali nggak enak. Jadi mual bahkan sampai muntah. Apa tadi yang aku masukin ke bahan-bahannya sampai seperti ini?

Satu hal yang membuat aku semakin yakin bahwa masakanku itu nggak enak adalah, saat kucing ikut-ikutan nggak mau makan. Oh, Tuhan!!! Seberapa nggak enaknya sih masakanku sampai kucing aja nggak doyan. Aku shock, depresi, nggak kuat dannnnn mau bobok aja.

Udah ah, dari pada sebel-sebel aku bobok aja…. Selamat malam ^_^

Minggu, 04 Januari 2015

Mantra Patronus Versiku

Harry dan Dementor (sumber radityadika.com)
Kalau kamu penggemar buku atau film “Harry Potter” pasti kenal dengan Dementor. Yups, Dementor adalah makhluk penghisap kebahagiaan yang membuat korban mereka berpikir tidak bisa bahagia lagi. Untuk mengusirnya satu-satunya cara adalah, Harry Potter harus mengeluarkan mantra yang bernama Patronus. Nah, untuk mengeluarkan mantra tersebut dengan baik, Harry harus mengingat tentang hal-hal yang ngebuat dia bahagia sambil mengarahkan tongkat sihirnya ke Dementor.

Kamu pasti mikir, kok tiba-tiba aku jadi tahu tentang Harry Potter, malah sok-sokan ngejelasin Dementor dan mantra pemusnahnya. Iya, iya aku memang bukan penggemar Harry Potter. Hanya penikmat pasif filmnya saja. Sebatas menonton nggak lebih dari itu. Kalau aku dites tentang siapa nama sahabat-sahabatnya Harry aku juga nggak hapal.

Jadi, aku baru aja baca arsip lama di radityadika.com. Salah satu artikelnya itu tentang Dementor dan mantraPatronus. Di situ Bang Radit cerita kalau akhir-akhir ini banyak Dementor disekelilingnya yang membuatnya jadi malas dan ogah-ogahan ngelakuin apa aja. Lalu dilist deh hal-hal yang bisa membuatnya bahagia sebagai mantara Patronusnya untuk mengusir Dementornya tadi.

Saat ini aku merasakan hal yang sama. Aku merasa ada banyak Dementor disekelilingku. Mereka dengan lahap menghisap kebahagiaanku. Sumpah jahat banget. So, aku jadi sering nangis hari ini sampe-sampe mataku sembab. Kebanyakan nangis jadi pusing, akhirnya males buat ngapa-ngapain. Seperti bang Radit, rasanya aku perlu deh membuat daftar hal-hal yang menyenangkan untuk memperkuat mantra Patronusku. Biar Dementornya segera lenyap.

Nah, yang dibawah ini adalah mantra Patronus versiku:

  1. Kumpul bareng temen SMA, ngobrolin hal-hal yang nggak penting, dan saling ledek satu sama lain.
  2. Dibeliin es krim, apapun itu terutama Walls
  3. Minum susu coklat
  4. Latihan bareng anak-anak Siaga, yang selalu menyambutku dengan penuh gegap gempita dengan sapaan “Bunda!!!”
  5. Rapat dengan anak-anak DKC Demak, walau kadang juga sering adu argumen
  6. Menjadi pengisi ice breaking dalam suatu kegiatan
  7. Ada yang mengenaliku di tempat-tempat yang aku nggak nyangka bakal ada yang kenal
  8. Berbalas komen dengan orang yang aku suka, entah di FB, Twitter atau media social lainnya
  9. Di kamar sendirian sambil dengerin musik baca novel baru
  10. Tersesat di Gramedia keluar-keluar udah borong buku baru
  11. Bisa selfie sama adik sendiri
  12. Bersama kedua sahabatku, Yenni dan Hida entah apapun yang kami kerjakan
  13. Berangkat sekolah dan bertemu dengan murid-murid yang lucu
  14. Nonton film di youtube dengan memanfaatkan wifi sekolah
  15. Datang di talkshow Raditya Dika dan berkesempatan foto bareng
  16. Terbayang situasi di mana harus dorong motor yang mogok gara-gara banjir, pengalaman sedih sekaligus lucu
  17. Ngomentarin tema di radio lewat twitter, padahal nggak lagi dengerin pas ada kesempatan di On-Airin bingung mau ngomong apa
  18. Dan masih banyak lagi….

Ternyata banyak juga hal-hal yang dapat membuat aku bahagia. Ada yang bilang kehidupan manusia itu seperti roda, kadang di atas kadang juga di bawah. Yang penting bukan soal di mana posisi kita saat ini, tapi bagaimana kita menyikapinya.

Aku yakin, nggak selamanya aku terjebak di posisi seperti ini. Nggak selamanya juga akan terselimuti dengan kesedihan dan nasib buruk. Dengan tetap memikirkan kesedihan-kesedihan yang dialami malah akan semakin menenggelamkan lebih dalam lagi.

Secepat mungkin harus segera “mentas” dari situasi seperti ini. Bukan dengan mengayunkan tongkat sihir dan mengucapkan mantra Patronus, tapi cukup dengan mengingat hal-hal yang dapat membuat kita bahagia. Kemudian coba tersenyum kepada diri sendiri dan ucapkan “Saya bahagia”

Senin, 29 Desember 2014

Sehari bersama Nissa



29 Desember 2014, masih dalam situasi libur nih makanya butuh alasan kuat untuk sekadar membersihkan diri alias mandi. Mungkin nggak aku aja sih yang ngalamin ini. Entah mengapa jika libur agenda kemana-mana hasrat untuk mandi itu susuah sekali ditimbulkan, apalagi dengan cuaca yang mendung-mendung nggak jelas gitu. Skala keinginan narik handuk dan ke kamar mandi seakan semakin menuju titik nol.
Padahal hari ini aku harus ke Bank, soalnya udah janji sama temen mau transfer uang kurangan blanja online minggu kemarin. Sebetulnya itu udah menjadi salah satu alasan yang kuat sih supaya aku mandi. Tapi setelah aku pikir-pikir kayaknya nggak ada keharusan deh ke Bank harus mandi dulu. Toh disana nggak ada alat yang mendeteksi kita udah mandi atau belum kan? *Plak!!! Jorok lu, cewek mandi kok males. Iya iya aku mandi (sambil narik handuk) huuuuuuu….
Bahkan di kamar mandi pun ketika aku siap untuk mengguyur badan dengan air aku masih berpikir apa iya aku harus mandi sekarang? *MANDDIII!!!!!! tiba-tiba suara itu datang lagi ihhhh horror. Iya-iya aku mandi. Selama prosesku mandi aku berpikir, kalau hanya ke bank aja bakal percuma nih perjuanganku bergumul dengan air dingin pagi ini *pagi? Udah jam 10.00 lu bilang pagi? Iye, pagi cendderung siang deh. Terbelsit rencana untuk jalan-jalan. Awalnya aku udah peritungin nih, habis mandi ke BRI, lalu ke BNI habis itu ke Gramedia, tapi kalau mampir lawang sewu dulu kayaknya seru deh. Hemmmm, berarti harus ngajak temen nih. Kan nggak seru kalau jalan sendirian di Lawang Sewu dikira cewek yang kehilangan arah gara-gara habis putus ntar. Makanya aku putuskan untuk mengajak adik bungsuku. Anissa Pakerti.
Setelah prosesi mandi yang begitu berat berhasil aku lewati, aku utarakan rencanaku tadi ke Nissa. Sontak dia langsung gegap gempita dengan kabar tersebut. Langsung deh nari-nari kegiarangan kaya di film India sambil menuju kamar mandi *lebay deh. Sedikit.
Sembari nunggu Nissa siap-siap aku ke BRI dulu yang deket rumah. Nggak ada 5 menit kok. Sampai sana, wuuuiiihhhh!!! Full capacitas. Dari luar keliatan penuh dan setelah masuk memang benar-benar penuh sampai pak Satpamnya aja nggak keliatan. Tiba-tiba ada yang nyapa “mau ngapain mbak?” lho, ternyata satpamnya di situ, pojokan deket mesin antrean. “mau nabung Pak” jawabku agak ragu antara aku masih kebagian nomor antre atau nggak lolos uji mandi, lhoh? Satpam itu memberiku sebuah nomor antre. Kamu tahu nomor berapa? 107 dengan sisa antrean 53. Gilaaaaa!!!! Mau ke Semarang Jam berapa kalao harus nunggu sebanyak itu????

ini nomer antrean dari BRI 107 lumayan kan
Mau nunggu di sana kayaknya nggak memungkinkan couse tempat duduk udah penuh bahkan ada beberapa orang yang berdiri. Selain itu, karena terlalu banyak yang ada di ruangan itu AC-nya jadi nggak berasa. Ah, pulang dulu ntar kesitu lagi kalau udah mau ke Semarang. Akhirnya aku kembali ke rumah.
Beberapa saat setelah aku tiba di rumah, adikku udah siap dengan style khas remaja labil nan alay mau mejeng. Hem merah kotak-kotak dipadukan dengan celana jins yang menyempit di ujungnya dan bersepatu tentunya itulah gaya yang menurut Nissa pas buat jalan-jalan. Awalnya aku berpikir itu nggak banget, tapi berjalannya waktu aku menyadari ternyata style kami sama. Saat itulah aku setuju bahwa gaya kami keren.
Beda generasi tapi style nya sama
“Jangan lupa bawa helm” kataku ke Nissa sebelum berangkat “aku nggak mau ntar ketilang gara-gara kamu nggak bawa helm”
“Kan, aku masih kecil mbak?”
“Kecil apaan? Badan tingginya udah kaya tiang bilang kecil”
“Iya, siappppp!!!”
Drama singkat tentang helm berakhir dan kami berangkat. Tentunya mampir BRI lagi. Liat antrian baramg kali tinggal dikit sekalian nabung dan memenuhi kewajiban. Males turun dari motor Nissa aku utus untuk melongokkan kepala di pintu dan ngintip saat ini udah antrean ke berapa. Ternyata masih nomor 70-an sedangkan antreanku 107 itu artinya masih 30-an lagi. Hufffttttt!!! Udah deh ke BNI aja, keburu tahun baru ntar kalau nungguin.
Perjalanan kami lanjutkan. Sekarang tujuan kami adalah ke BNI cabang Unissula karena itu yang paling deket dan emang disitu biasanya aku nabung. Belum jauh motorku melaju, drama helmpun berlanjut.
“Mbak Nikken nggak pake helm?” Tanya adikku tiba-tiba.
Aku baru sadar ternyata dari tadi aku belum pake helm. Hahahaha bisa-bisanya ngingetin orang lain pake helm akunya sendiri nggak pake helm. Ketawa geli aku. Hahahahha!!!!
“Eh, iya ya? Hahahaha!!! Aku lupa ya udah balik rumah dulu ambil helm. Hahahha!!!” sambil terus ketawa kegelian kami kembali ke rumah.
Helm udah dipake semua, dan udah nggak ada yang ketinggalan lagi, kami pun berangkat lagi. Tujuan kami masih sama ke BNI. Sepanjang perjalanan nggak ada yang aneh, kecuali parnonya adikku ketika aku boncengin. Hehehe, diklaksonin mobil dikit aja udah nepuk-nepuk pinggang suruh minggir takut ditabrak. Hellooooo!!! Jalan Pantura itu lebar lho, kalau mau lewat ya lewat aja!!!
Keparnoan-keparnoan Nissa aku abaikan, aku nyetir seperti biasa aja. Meskipun kata dia cara nyetirku termasuk cara nyetir yang bahaya. Suka nyalip dari kiri, suka deket-deketan sama mobil, dan paling suka nengok kanan kiri memperhatikan ruko-ruko dipinggir jalan. Lalu setengah jam kemudian sampailah di BNI.
Setelah menyerah dengan antrean 107 di BRI aku datang ke BNI dengan penuh harapan bahwa di sana bakal dapat nomor antrean yang nggak begitu besar. Gayung tak bersambut, ternyata hari ini bebarengan dengan jadwal pembayaran semester mahasiswa Unissula. Panteslah rame banget. Huuuuuuu!!!!! Dan kamu tahu aku dapat antrean nomer berapa? 197 yaaassssaaallllaaaammm!!!! udah nggak ada pilihan lain yaudah nunggu aja. Saat itu, bukannya menghibur Nissa tertawa dengan begitu puasnya. Hahahaha, itulah akibatnya dari orang yang nggak sabaran. Sok tau nie anak.

dari BNI malah lebih panjang :[ 197
Drama nunggu antrean nggak bisa aku certain terlalu lama nanti. Akhirnya setelah nunggu hamper sejaman antreanku dipanggil. Nggak sampe lima menit transaksiku selesai. Iyalah, Cuma nabung doang. Keluar dari Bank masuk ATM, transfer ke temenku tadi. Sebenernya harus transfer satu kali lagi sih tapi gara-gara udah ditungguin orang banyak diluar yaudah cari ATM lain ajalah sambil nyari bakso buat ngasih makan Nissa yang udah menunjukkan tingkah aneh dengan selfi-selfi di dalam bilik ATM karena lapar.
entah karena kelamaan nunggu ato emang efek kelaparan
Ketemu sebuah Pom Bensin. Ada ATM, ikut antre. Ketika udah giliranku masuk ternyata hp ku mati. Tuhannn!!! Nomor rekening dan jumlah yang harus aku transferkan di hp semua. Aku coba hidupin ternyata tak tertolong. Dari pada pusing, nggak bisa mikir cari makan dulu ahhhh, sapa tahu habis makan dapat inspirasi harus ngapain.
Motor aku tinggal di Pom bensin. Sengaja biar nggak bayar parker di warung baksonya. Toh juga dekat ini Cuma nyebrang aja. Hehehe cerdik! Di warung bakso itu baru ngeh, di twitter pernah ada yang ngetwitpic bukti transferannya. Itu artinya di sana ada nomor rekeningnya. Langsung deh pinjem hp Nissa ngecek twitter, setelah ketemu langsung deh aku catet di kertas seadanya. Hehehe yang penting keliatan. Agak cepet aku ngabisin sisa bakso dan bergegas kembali ke Pom Bensin tadi.
Udah di bilik ATM nih, siap-siap transfer uang. Kartu ATM masuk, masukin pin, pilihan transfer, ngisi rekening tujuan, ngisi nominal, dan berhasil. Yeeeaaaachhhh!!! Aku lihat lampu di atas tempat keluarnya struk ATM berkedip, pertanda bukti transfer lagi dicetak. Tapi, tiba-tiba. Pet! Kartu ATMku keluar sendiri, seakan-akan dimuntahin sama mesin ATM karena pahit. Layar ATM mati, oh Tuhan listriknya padam. Bukti transfernya kan belum keluar?? Kalau harus nunjukkin bukti transfer gimana? Bisa-bisa 2 kaos nyetilku nggak jadi dikirim. Untuk informasi nih, transferan yang ini buat bayar kaos nyetil punyanya Bayu Skak. Huhuhuhuhu!!! Tak lama jenset nyala monitor juga nyala, tapi nggak menunjukkan gejala kenormalan. Struknya juga nggak keluar. Aku harus gimana? Jedodin kepala ke mesin ATM? Cuma bisa keluar dengan muka cemberut. Huft…
Lanjut deh, ke Lawang Sewu, yang itu dipikirin ntar pas sampe sana. T_T
Sampai di Objek tujuan. Lawang Sewu. Udah nyiapin kartu pelajar dan juga KTM. Berharap dapat potongan harga karena masih pelajar (meskipun udah lulus kuliah). Dasar niatnya udah jelek sih ya, yang dapat potongan harga Cuma Nissa yang jelas-jelas masih SMP, sedangkan yang Mahasiswa (apalagi yang Cuma ngaku-ngaku) ikut tarif dewasa. Padahal dulu kalau bisa nunjukkin KTM ikut tarif pelajar. Kan, lumayan bisa ngirit lima ribu buat beli es teh. Tapi nggak apa-apalah.

Niatnya udah jelek, akhirnya ya nggak dapat potongan harga
 Are you ready for Lawang Sewu??? Yes I’am. Kalau ada pertanyaan kaya gitu paling Nissa doang yang lantang jawab “Yes I’am” soalnya aku masih bingung mindah kartu memori ke hp Nissa supaya bisa konfirmasi transferan yang tadi. Dia jalan-jalan aku sibuk sms. Dia sibuk foto-foto aku sibuk nanya udah ada jawaban belum. Ehehehe, kan smsnya pake hpnya dia. Hihihihi, tak lama ada jawaban suruh melengkapi alamat. Itu artinya udah beres. Semoga beres terus sampai kaosnya dikirm ke rumah. Agak tenangan nih, lanjut yuk foto-foto. Haaaaa, ternyata Nissa nggak kalah alaynya. Ini sih lebih tepatnya “Alay teriak alay” Kakak beradik yang setipe.

Nih, hasil karya kami :P
Capek di Lawang Sewu, lanjutlah ke destination yang terakhir. Gramedia. Tempat yang menyenangkan sekaligus menakutkan bagi isi dompet saya. Kebanyang nggak sih ntar tanganku ngambil apa aja. Bismillah jauhkan saya dari kekhilafan.
Masuk Gramed, langsung ke lantai 2. Liat-liat buku entah dari mana ini mata langsung tertuju ke komik Juki yang edisi Lulus UN, salah satu edisi yang belum aku punya. Nggak tahu nih, kaya ada magnet aja nih mata. Langsung deh, ambil satu komiknya. Jalan lagi, lihat-lihat lagi. Dalam hati aku mikir dananya 100 ribu jadi masih bisa buat satu buku lagi. Jalan, jalan sampai di satu rak aku lihat “Babi Ngesot” waaaa!!!! Bukunya Abang tukang Bakso, eh! Maksudnya Bang Raditya Dika yang belum aku punya. Dua tedik kemudian buku itu ada digenggaman bersama komik Juki yang tadi. Ehehehehe!!!!!
Ngomongin Bang Radit ya, aku jadi inget pas seminar kemarin di Undip. Aku kan nanyain gimanansih biar kita bisa mempunyai gaya menulis kita sendiri? jawabnya kita harus lebih banyak baca dari bermacam-macam penulis. Jadi kita bisa meramu gaya menulis dari banyak orang untuk dijadikan sebagai gaya menulis kita sendiri. Ngomongin apa sih? Nah, berangkat dari situ mulai deh iseng nyari novel lain. Kemarin kan udah baca “Gelombang”nya Dee Lestari sekarang aku tertarik nih ke Tere Liye. Harusnya sih ambil satu aja, tapi entah kenapa yang berpindah ke tanganku ada dua buku dan kemudian langsung ke kasir. Dan di sanalah kekhilafanku dihitung. Yang tadinya target Cuma 100ribu, membengkak jadi 149ribu. Singkat cerita, setelah dari lantai dua turun ke lantai satu. Kekhilafanku berlanjut. Aku kepencut sama tas lucu yang sebenernya malah ABG banget modelnya. Harganya 170ribu. Oke, jadi total di Gramedia aku ngabisin duit 220ribu-an beserta parkirnya.
Dan, cukup deh perjalanan hari ini. Terlalu banyak tempat yang dikunjungi akan semakin banyak lagi kekhilafan yang aku buat. Hari ini sungguh mengesankan. Dari BRI ke BNI, dari Pom Bensin hingga Warung Bakso, dan dari Lawang Sewu ke Gramedia. Semua bermuara di rumah. Tempat semua kejadian diolah dan diambil hikmahnya. Semoga semua barokah dan tak ada yang siah-siah. *terakhirnya maksa :P

Minggu, 28 Desember 2014

Sherina Munaf dan Mimpiku

Artis muda berbakat yang aku kagumi sedari dulu. Suara bagus, acting keren, otak encer, cantik pula. Dialah Sherina Munaf. Pertama kali tahu tentangnya adalah ketika film “Petualangan Sherina” mulai dirilis. Aku nggak nonton di bioskop sih? Nonton lewat dvd yang dipinjem dari persewaan dvd. 

Aku melihat Sherina adalah orang yang sangat beruntung. Dengan usia yang terbilang masih muda banget tapi dia sudah bisa terkenal seperti itu. Dan yang bikin aku iri banget adalah dia bisa duet sama westlife, boyband asal Irlandia yang juga lagi buming-bumingnya dikala itu. Saat anak-anak seusianya (termasuk aku) hanya bisa mengagumi melalui layar TV dan mengumpulkan poster, Sherina udah bisa bertemu bahkan duet dalam lagu “I Have a Dream”. Selalu aku bergumam aku bisa nggak ya seperti itu? 

Itulah mimpiku saat itu. Hingga saat ini….ummmm sepertinya masih dalam proses perwujudannya. Kalau patokan yang digunakan adalah Sherina sepertinya terlalu tinggi deh. Bukanya minder sih, cuman ya banyak perbedaan diantara kami. Yang palinh mencolok sih dia bisa nyanyi sedangkan aku baru bisa nembang Jawa dengan suara yang tidak istimewa. Setidaknya itu yang dikatakan dosenku dulu. 

Meskipun demikian aku tetap kok berkeinginan untuk menjadi seseorang yang dikenal seperti Sherina dengan bakat yang berbeda tentunya. Karena untuk dijalur yang sama sepertinya sulit.
Kalau dipikir-pikir, aku itu orangnya pemalu, pemalu banget. Sejak aku kecil. Tapi entah kenapa keinginan untuk menjadi sosok yang dikenal orang banyak itu selalu muncul. Dengan kata lain banci tampil, kalau di luar keluarga. Acara sekolah sejak SMP hingga jadi gurunya anak SMP (sekarang ini) seneng banget kalau tampil di depan. Entah jadi MC, pemateri, karaoke (meski modal suara parau), atau hanya sekadar mengisi kekosongan. Tapi kalau udah ngumpul keluarga besar, 180 derajat berubahnya. Aku jadi sosok yang diem, kalem, dan nggak macem-macem. Entah, padahalkan keluarga orang-orang terdekat harusnya bisa lebih PD tampil dihadapan mereka. Kenyataan berkata lain.

Ok, balik ke Sherina lagi. Selain dia tadi disebutkan bersuara emas, dia juga menjadi sosok siswa yang cerdas panutan seluruh siswa se-Indonesia mungkin. Kemampuan berbahasa Inggrisnya waktu itu bikin aku ngiri. Sampai sekarang aja aku belum begitu mahir bahasa Inggrisnya. Nah, Sherina sejak 5 tahun udah belajar “Hoe are you? What’s Youre name? and bla, bla, bla,,,,,,” keren deh orang itu.
Bisa nggak sih aku menyamainya? Dengan bakat yang berbeda tentunya. Satu-satunya bakat yang sedang aku asah saat ini adalah menulis (sebenernya sih ngetik) terinspirasi juga sih dari Raditya Dika. Pengen terkenal juga seperti dia. Yahhhh, masih dalam proses perwujudan. Eh, eh, eh sebentar Sherina dan Radit kan dulu pernah pacaran ya? Ini bukan berarti lantaran mereka dulu punya hubungan kemudian aku mengidolakan mereka semua lho ya… jauh sebelum aku tahu bakal ada penulis gokil seperti Radit, aku udah kenal sama Sherina. 

Apapun itu, yang jelas mimpiku masih sama. Ingin menjadi seseorang yang dikenal oleh orang banyak dengan bakatku tentunya. Menulis. Mohon doanya ya, semoga di 2015 semuanya bisa terwujud. Amiin.