Calon Penulis dan Penulis

“….nanti pulang dari sini kalo Nikken nulis pasti tulisannya jelek, gue jamin itu. Lalu kapan tulisannya bakal bagus? Kalau dia mau memperbaiki yang kurang bagus, mengedit yang kurang sesuai sehingga menjadi tulisan yang bagus….-RD”

Semangat Berani

"Lebih baik salah dari pada selamanya tidak tahu salah atau benar" -Jomblo

My Inpiration

"Imagine all the wonderful things that will never happen if you do not do them" -Up

Nikken Derek Saputri dan Derek Samtidar

"Akhir sebuah perjalanan merupakan awal dari perjalanan baru" -Wisuda Unnes Periode II tahun 2013

Bersama berbagi tawa canda

"Sahabat adalah keluarga yang kita pilih sendiri"

Senin, 09 Februari 2015

Tombol Shift dan Capslock dari Pak Budhi

Sebenarnya tulisan yang kali ini udah lama pengen aku buat. Namun entah mengapa virus kemalasan menggelayut di badan dan pikiran sehingga saat ini harus benar-benar memaksa diri supaya benar-benar hilang virusnya dan tulisannya benar-benar jadi.

Jujur stelah paragraph pertama di atas jadi, laptop aku matikan dan aku pulang. Niatnya di rumah akan melanjutkan namun apa daya godaan kasur bantet yang nggak terlalu empuk itu terlalu menggiurkan. Akhirnya aku terlelap hingga magrib. Selamat berbuka puasa!!!

Saat ini, sembari menunggui peserta Penjajakan Ujian Nasional (PUN) aku coba merangkai kata demi kata lagi guna menyelesaikan misi ini. Kebetulan sekali yang aku tunggui ini adalah anak SMP. Jadi teringat 9 tahun yang lalu aku ada di posisi mereka. Kelas 3 SMP (sekarang jadi kelas IX) adalah masa yang penuh perjuangan. tapi, tunggu dulu bukan ini yang akan aku ceritakan. Meskipun Ujian Nasional (UN) selalu menarik untuk diperbincangkan dan diperdebatkan.

Cerita yang akan aku selesaikan hari ini masih ada kaitannya dengan masa-masa SMP. Bukan soal cinta pertama atau soal melewati masa puber dengan selamat, melainkan tentang seorang guru TIK. Beliau bernama Pak Pratomo Budhi Wahono biasa di panggil Pak Budhi. Jika sekarang ini aku begitu lincahnya mengoperasikan computer maupun laptop, salah satunya adalah berkat jasa beliau. Iya, saat itu computer adalah barang teramat mewah yang mungkin bagi keluargaku belum tentu bisa terbeli. Namun, rasa keingintahuanku yang besar tentang teknologi, membuatku selalu bersemangat untuk mengikuti pelajaran tambahan TIK. Waktu itu belum masuk dalam kurikulum pembelajaran hanya sebatas les computer yang dilaksanakan sepulang sekolah.

Guru yang mengampu TIK sebenarnya ada 2. Bentar-bentar aku ingat-ingat dulu namanya…… yang satu Pak Budhi dan yang satunya lagi adalah Pak Sukito (namanya nggak boleh disingkat katanya). Tapi khusus kelasku lebih sering ditemani oleh Pak Budhi.

Program yang pertama kali kami pelajari adalah Ms. Word. Instruksi yang biasanya diberikan adalah seperti ini, “Anak-anak sekarang tekan tombol power pada monitor, lalu tombol Power yang ada di CPU” biasanya setelah ini lampu indikator pada CPU akan berkedip biru dan merah bergantian. Kalau sudah begitu biasanya kami mulai merasa girang dan takjub (wajar anak desa baru lihat computer). Setelah itu instruksi dilanjutkan.
“Tunggu dulu jangan diapa-apain, jangan sentuh apa-apa” peringatan dari Pak Budhi yang seketika membuat kami hanya terpaku pada monitor yang mulai jelas menampkkan beberapa icon. Proses scaning otomatis dari smadav selesai, biasanya saat itulah Pak Budhi melanjutkan instruksinya lagi.
“Setelah tulisan Smadavnya hilang, pegang mouse, arahkan tanda panah kecil ke tulisan start di pojok kiri bawah” harap maklum, pada tahap ini kami seperti bayi yang baru belajar jalan harus dituntun selangkah demi selangkah.
“Kalau sudah…!!!” Pak Budhi melanjutkan “Klik kiri, setelah itu pilih Ms. Word dan klik kiri sekali lagi” kami yang memang berasa seperti bayi dan takut melakukan kesalahan hanya nurut-nurut aja dengan petunjuk beliau. Bahkan kalau harus guling-guling di lantai agar komputernya nyala mungkin kami akan melakukannya.

Satu persatu layar monitor menampakkan lembar kertas putih kosong. Biasanya prosesi dari awal menekan tombol power hingga kertas putih itu Nampak di monitor menghabiskan waktu 30 menit. Huft! Kalau dipikir-pikir perjalanan yang terlalu panjang kalau hanya sekadar Ms. Word tujuannya. Tapi, kembali lagi, namanya juga anak desa yang baru belajar mengoperasikan computer 30 menit sudah sebuah prestasi yang membanggakan. Bisa dibayangin nggak sepulang les, aku bakal bercerita pada Ayah dan Ibuku. “Ayah…Ibu…. Tadi aku bisa nyalain computer dan buka Ms Word hanya dalam waktu setengah Jam lho!!!” Ayah dan Ibu Cuma diam, dalam hati mungkin bertanya Ms. Word itu apa? Biasanya kalau udah begitu mereka hanya berkata “Hebaaatttt!!!!” dan aku berlari sambil lompat-lompat kegirangan menuju kamar emninggalkan Ayah dan Ibu yang masih kebingungan apa itu Ms. Word.

Lanjut ya…..
Latihan mengetik adalah latihan utama kami. Tujuannya supaya terampil mengetik 10 jari. Kenyataannya kami beri lebih, 11 jari alias hanya mengggunakan jari telunjuk kanan dan jari telunjuk kiri. Hehehehe. Satu computer biasanya dimanfaatkan oleh dua orang siswa. Ketika mengetik biasanya kita gantian siapa yang mengetik dan siapa yang mendikte.

Ada satu kejadian yang tidak bisa aku lupakan hingga sekarang. Berhubungan dengan tombol capslock dan shift. Kamu pasti tahulah ya, fungsi tombol tersebut? Waktu itu kami harus mengetik persis sama dengan yang dicontohkan. Dari jenis font, ukurannya termasuk huruf besar dan kecilnya. Waktu itu aku nanya ke Pak Budhi
“Pak, biar hurufnya besar gimana Pak?”
“Capslock” jawab beliau singkat padat dan jelas.

Intruksi kami laksanakan. Ajaib! Hurufnya menjadi kapital semua. Yey!! Ngetik lagi, dan temanku membacakan. Semua berjalan begitu menyenangkan. Sampai kemudian Kerajaan Api menyerang dan memporak porandakan lap computer kami. Hehehe… nggak ding!! Sampai pada kebingungan selanjutnya datang. Aku dan partnerku, Ningrum (nama sesungguhnya) bingung kenapa hurufnya gedhe terus. Apa yang harus dipencet, apa yang harus diklik? Kami saling pandang, tanpa suara kami berbincang. Adegan kaya gini kalau di sinetron pasti ada efek suara batin yang seolah-olah hanya mereka yang bisa dengar. Kenyataannya seantero Indonesia tahu.
“Ning!!” panggilku dalam hati “Ini gimana?”
“Iya!!” Dia menoleh, seolah mendengar panggilanku “aku juga nggak tahu”
Kami terus berpandangan mata, tampak serius. Aku menemukan sesuatu, ternyata ada belek di mata kirinya. Hahahahaha…. Plak!!!! Fokus!!! Ok kembali ke jalan yang benar. Setelah hamper lima menitan tatap-tatapan mata kami kompak mengangguk dan berteriak memanggil guru kami.
“PAK BUDHI!!!!”
Teriakan kami yang gegap gempita hanya dibalas dengan santai. Jauh dari harapan kami.
“Iya?”
“Pak, kok hurufnya kok gedhe terus?” Ningrum melontarkan pertanyaan lebih dulu.
“Iya, pak cara ngecilin lagi gimana?” Aku nambahi.
“Tekan shift!!!” lagi. Jawaban yang singkat padat dan tepat sasaran.
 Tekan shift dan mulai mengetik lagi. Tapi kok tetep gedhe hurufnya?
“Pak, hurufnya masih gedhe” aku protes “gimana Pak?”
“Shiftnya ditekan terus” jawab Pak Budhi lagi.

Ok, kami mengikuti petunjuknya. Ngetik Cuma pake dua jari yang satu buat tombol shift dan yang satunya lagi buat tombol-tombol yang lain. Huft! Susah. Akhirnya yang tugas ngebacain, dalam hal ini Ningrum merangkap tugas sebagai penekan Shift permanen. Jadi selama aku mengetik, dia juga bakal ngebacain sekaligus menekan tombol shift. Kalau pengen huruf gedhe lagi ya, shiftnya dilepas lalu tekan lagi. Begitu seterusnya sampai les computer berakhir. Melihat tingkah kami berdua, Pak Budhi hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala.
Belakangan aku abaru ternyata aku dikerjain sama Pak Budhi. Betapa bodohnya aku. Masak iya sih untuk mengetik shift harus di pegangin sama temen? Hahaha, nggak habis pikir kalau metode itu aku pertahanin sampai dengan sekarang. Ckckckck…. Harusnya kan tinggal matiin capslocknya aja kan?
Masih pengen ketawa aja kalau inget kejadian itu. Betapa polosnya diriku. Hingga sekarang aku masih inget dengan jelas kejadian itu dan menjadi kenangan terindah sekaligus dan terjayus bersama Pak Budhi.
In Memoriam
Dan….
Kemarin, tanggal 2 Februari 2015 beliau Pak Pratomo Budhi Wahono telah berpulang ke Rahmatullah. Innalillahi wainna illahirajiun. Aku tahu kabar ini dari seorang teman yang memposting di grup fb alumni SMP. Seketika itu langsung deh teringat kejadian yang udah aku tulis di atas. Hummmm, memang tidak banyak sih kenanganku bersama beliau. Namun yang satu itu cukup mengena bagi saya. Bahkan hingga saat ini pun, ketika berhadapan dengan PC dan melihat tombol shift dan capslock langsung deh ingatanku melayang ke beliau. Terimakasih Pak, dan selamat jalan.

Minggu, 08 Februari 2015

Keributan yang Sama di Tahun Depan

Sekali lagi hari ini aku membuktikan betapa luar biasanya Raditya Dika. Seorang penulis cerdas berwajah rupawan yang kalau ngeliat pasti bawaannya pengen makan aja. Hehehehe, Rupawan (rupa-rupa bakwan) lhoh!!

Radit dan Adik-adiknya
Seperti yang kamu tahu kan, Bang Radit mempunyai fans militant yang jumlahnya berjuta-juta. Ini terlihat dari jumlah followers Twitternya yang hingga saat ini mencapai 9.37 M. Ya…. Meskipun masih di bawah Agnes Monica sih, beda 1 jutaan gitu. Tapi menurutku lebih luar biasa Bang Radit, kenapa? "Karena" kata Bang Radit "8.5 juta followersnya adalah saudara sendiri dan sisanya adalah saudara dari saudaranya itu". Waow!!! Keluarganya banyak banget, nggak kebayang kalau mereka pengen bikin pohon keluarga pasti butuh dinding selebar lapangan sepak bola. Ckckckck….

Kemudian,
Ini masih berhubungan dengan Twitternya. Setiap Bang Radit ngetwit, apapun itu dalam sekejap yang nge-retwit beribu-ribu orang. Padahal twit-twitnya juga biasa aja, tapi entah mengapa memiliki kekuatan retwit yang sangat luar biasa. Aku curiga, jangan-jangan Bang Radit udah ngasih mantra-mantra tertentu sehingga semua twitnya mengandung daya magis yang menarik semua followersnya untuk meng-retwit. Atau memang semua followersnya pengangguran jadi ya kerjaannya meng-retwit doang.
Lihat jumlah followers nya :D
Lagi,
Bukunya yang terbaru tau dong. Koala Kumal. Terbit 17 Januari 2015. Aku udah punya lho :D tapi belum ditandatangani hiks…hiks….hiks… meskipun terbit di tanggal itu, tapi jauh-jauh hari sudah bisa dibeli dengan cara preorder. Kamu pasti udah tau lah, itu lho yang dapat bonus kaos Koala Kumal dan bertanda tangan. Sekali lagi yang ini aku nggak kebagian. Awalnya jumlah buku dan kaos yang disiapkan untuk preorder itu ada 1200 buah (kalo nggak salah inget yeee) lalu ditambah lagi menjadi 2200 buah (sekali lagi kalo nggak salah inget ya). Pembukaan preorder dimulai dari pukul 00.00 WIB,nah kebetulan aku baru bisa buka web site-nya itu jam 5 pagi. Kamu tahu apa yang terjadi? Semuanya sudah habis. Huft!!! Padahal supaya tercatat sebagai pembeli preorder bukan berdasarkan pesanan, melainkan pelunasan. Siapa cepat dia dapat. Yang transfernya cepet ya dia dapet, yang nggak bisa transfer ya harus sabar sampai bukunya terbit tahun depan. Dan aku adalah salah satunya yang harus nunggu.
Preorder yang bikin ATM rame tengah malem
Kali ini,
Masih ada hubungannya dengan Koala Kumal. Hari ini 8 Februari 2015 adalah jadwal acara book signing Raditya Dika di Gramedia Pandanaran Semarang. Aku udah nunggu banget nih acara. Berharap bisa ditandatangani bukunya dan bisa foto bareng. Pas preorder kemarinkan udah nggak kebagian, jadi kesempatan satu ini nggak boleh terlewatkan. 

Bersama sahabatku sebut saja Yenni, nama sebenarnya aku mendatangi Gramedia Pandanaran. Karena suatu hal kami baru sampai di TKP jam 15.30. Pikirku masih sempet lah ya, wong acaranya sampai jam 5 sore kok. Berbeda dari biasanya toko buku itu ramai luar biasa. Pasti ini kerjaannya Radit nih. Parkiran penuh, petugas parkir kebingungan nyariin space yang masih kosong sedangkan pengunjung udah mau cepet-cepet naroh motornya terus lari ke dalem nubruk-nubruk orang kalo perlu biar langsung bisa ketemu sama Raditya Dika. Hahaha, itu yang ada dalam pikiranku, lagian yang antre kebanyakan abg-abg labil kurang gizi gitu jadi nggak susah lah kalo nubruk badan mereka yang kurus. Sama-sama kurus saling tubruk boleh lah boleh lah. 
dari kiri ke kanan Nikken (nama sebenarnya) dan Yenni (nama sebenarnya juga)
Baru aja bersiap nubruk satu kerumunan, ehhh udah dihadang sama seorang satpam keturunan Arab yang hidungnya mancung. Badannya tinggi, gedhe, mancung pula. Pengen aku tubruk juga sih biar ngasih jalan, tapi mengingat badannya jauh lebih berdaging daripada aku yang hanya tulang belulang dengan sedikit gumpalan lemak di pipi, kayaknya lebih aman satu langkah ke belakang dan tersenyum basa-basi menyelamatkan diri. Seolah udah tahu maksudku Bapak Satpam langsung bilang “Antrenya mulai sebelah sana mbak” sambil nunjuk ke deretan antran yang tak berujung.

Antrean ini bagai tak berujung muter-muter menelusuri deretan orang-orang kok nggak nemu-nemu buntutnya. Sampai pada akhirnya aku temukan barisan terakhir ada di tangga. Barisan yang luar biasa, mengular dari belakang hingga seisi toko di lantai satu. Baru berniat ikut mengantre, tapi ada satu orang yang aku nggak tau namanya tapi berasa sudah pernah lihat saat talkshow Radit di Undip Desember tahun kemarin. Kayaknya sih menejernya, atau siapalah nggak tahu. Orang itu ngomong ke orang-orang yang mau ngantre gini “Udah ya mas, mbak, ini antrean terakhir mohon maaf banget ini udah kebanyakan kasihan Raditya…bla…bla…bla….” Terusannya aku nggak tahu soalnya udah keburu ilfill nggak boleh ngantre. 

Ngantre udah nggak bisa, mau pake jurus nubruk-nubruk membabi buta juga nggak mungkin satpamnya serem sih. Jadi satu-satunya hal yang aku bisa adalah ngefotoin Radit dari pinggiran. Huft!!! Berjalan gontai aku ke belakang lagi. Berjubal dengan abg-abg lain aku berusaha mengambil gambar. Kecil banget hasilnya, wong Cuma pake kamera hp itupun aku pake hp temenku yang lebih bagus kualitas kameranya. 
Bang Radit keliatan kecil banget :P
Di saat itulah, si Yenni sahabat yang setia nganter aku ngubeg-ngubeg Gramedia sore itu berkata “Tenang Nikken” dia mengepalkan tangan dan menatapku tajam “suatu hari nanti kamu yang akan dikerumuni orang seperti itu”
“Emang kalau aku jadi penulis bakal kaya gini juga, Yen?”
“Pasti!!!” mukanya yakin banget “dan aku adalah orang pertama yang akan ngantre”
Yenni tersenyum. Aku tersenyum. Kami berdua tersenyum dan akhirnya kami jadian. Bukkaaaaaaannn!!! Kami hanya berangkulan dan berjalan menjauh dari kerumunan. Hahaha, tahun depan langsung setenar itu? Mungkin nggak sih? Radit aja perjalanannya bertahun-tahun hingga seperti ini. Nah, bisa-bisanya aku nargetin tahun depan?

Tapi, bukankah nggak ada yang nggak mungkin ketika kita mau berusaha. Iya kan? Ayo Nikken semangat!!! Selesaikan tulisanmu, ajukan ke penerbit, dan penuhi janji ini setahun yang akan datang. 

Bikin keributan yang sama seperti keributan yang Raditya Dika bikin hari ini!!!

Sabtu, 31 Januari 2015

Biasanya Aku

Beberapa minggu ini memang belum ada sesuatu yang baru di blogku. Yah, itu karena lagi konsen aja sama pekerjaan. Tahu sendiri lah sekarang tuntutan pekerjaan gimana sih? Itu alasannya. Alasan sebenernya adalah memang lagi nggak ada ide aja. Ups!


Bahkan hingga aku menulis postingan satu ini belum ad aide terbelsit dalam benak, yang ada hanyalah “Batagor, mana batagor”. Laper. Huft! 


Jadi daripada blogku keburu ditumbuhi sarang laba-laba, dan ditinggali makhluk-makhluk yang tidak diinginkan aku lanjutin artikel ini. Oke deh, kali ini aku bakal nyeritain rutinitasku sehari-hari. Aku yakin kamu juga nggak bakal tertarik, karena sehari-hari yang aku lakuin sama aja kayak orang pada umumnya. Bisa dibilang sih terlalu biasa. Biasa banget malahan. Nah, biar kamu nggak penasaran seberapa biasanya sih keseharianku? Silakan lanjutin membacanya. 


Aktivitas dimulai ketika aku mendengar teriakan sayang dari ibuku. Kamu tahulah, gimana? Yang masih tinggal dengan orang tua mestinya paham. Aku membuka mata, hal yang pertama kali aku lakukan sama seperti orang-orang lain lakukan yaitu ngecek handphone. Ngecek apakah ada balesan BBM yang sejak semalaman aku tungguin. Ternyata hanya di "R". Agghhhttt!!!! Kalau sudah begitu biasanya aku tidur kembali sampai teriakan sayang dari ibu terdengar lagi. Saat itulah aku sudah benar-benar bangun. tapi tetep nyawanya belum terkumpul seutuhnya.


Dari kamar, beranjak ke kamar mandi. Perlu usaha ekstra tentusaja untuk menemukan handuk dan alat-alat mandi lainnya karena pada kondisi ini mataku masih rabun. Untuk sampai ke kamar mandi pun harus melalui peristiwa kejedod lemari dan kesandung panci terlebih dahulu. Hummmm, begitu malangnya nasibku.


Keluar dari kamar mandi, biasanya udah dalam keadaan batrey full. Selama ini kamar mandi seperti tempat recharging. Sebelum masuk loyonya nggak ketulungan, ketika sudah keluar segar, bugar, dan penuh semangat. Meskipun nggak bisa dibohongin mata masih sayu karena sisa kantuk kadang lupa aku sabun. Loh! 


Membuka lemari melihat koleksi baju, yang sebenarnya masih itu-itu aja sih, kemudian sok-sokan melihat ke atas membayangkan paduan warna baju apa yang pas untuk hari ini ya? Hemmmm… tapi karena biasanya hal ini memakan waktu lama langsung aja deh ambil sedapatnya. Jadi ya untung-untungan gitu. Syukur kalau pas, kalau enggak ya asal pede aja insyaAllah tetep enak dilihat.


Setelah semua beres dan sudah sarapan tentunya, waktunya mengeluarkan Vera Si Matic cantik walau kadang terlihat belepotan. Dia lah, teman setia yang selalu aku curhati sepanjang perjalanan menuju sekolah. Curhatnya bisa tentang apa aja, bisa beban kerjaan, hari ini mau ngapain aja, bahkan sampai ke hal-hal pribadi seperti gebetan yang hanya nge-R pesan BBM. Kami sangat dekat, karena udah lama akhirnya kami memutuskan untuk jadian. Lhoh! Lhoh! Lhoh!


Sampai di sekolah, markirin motor lalu berjalan menuju bangkuku. Menunggu sebentar sambil sesekali bercengkrama dengan teman. Biasanya tidak lama setelah itu bel berbunyi. Oke, saatnya mengajar. Lho? Kok mengajar? Iya mengajar, aku kan guru. Nggak usah bingung ya? Kok bisa-bisanya seorang guru bisa punya blog aneh kaya gini. Kapan-kapan aku bahas lebih lengkap dalam sebuah postingan tersendiri. Hingar bingar kehidupan di sekolah berakhir ketika pukul 13.00 WIB saat itulah semua anak berusa secepat mungkin meninggalkan sekolah. Kalau dilihat dari atas mungkin seperti kerumunan burung yang kaget mendengar suara tembakan. Sekejap sekolah sepi, saat inilah waktu yang tepat untuk pulang. Bersama Si Vera lagi menyusuri jalanan Kota Semarang menuju Demak. Kurang lebih membutuhkan waktu sejam sampai di rumah. Sepanjang perjalanan nggak banyak yang aku lakuin selain ngegas, ngerem, nglakson dan sesekali marah-marah ke pengendara lain yang ngerem mendadak atau mobil yang seenaknya aja nyalip nggak aturan. 


Di rumah, biasanya sampai jam 3 lebih. Sore hari aku habisin dengan tidur (kalo sempet). Istirahatlah ya, setelah perjalanan yang lumayan jauh. Setelah magrib biasanya akan datang segerombolan anak SD pecandu sinetron ke rumah, tujuannya adalah belajar. Teorinya seperti itu. Praktiknya, iya betul memang mereka belajar, tapi belajar menjadi manusia harimau, manusia srigala, vampire dan jadi Wak Wao, Haaaaa???? Mereka akan semakin sulit diatur ketika salah seorang dari mereka ada yang kesurupan Harimau sehingga dia akan mengaum, kemudian dibalas dengan lolongan Srigala dari anak yang kesurupan srigala, trus Si Vampir yang berduet dengan Wak Wow bernyanyi “Darah Suci, darah suci, di mana….. di mana????” saat itulah aku mengucap salam, ‘Wassalamualaikum!!!’ tiga detik kemudian mereka menghilang. Ajaib!


Rumah kembali kondusif saatnya menyiapkan materi untuk besok. Buka laptop, tancap modem browsing. Biasanya sih nggak lama, yang lama itu kalo udah keasikan chatting, keasikan mention-mentionan, dan keasikan stalking profil mantan. Ehh!!!


Capek berselancar di dunia maya saatnya kembali ke dunia nyata dan beristirahat. Beristirahat untuk mempersiapkan tubuh supaya siap menghadapi tantangan diesok hari.


Ya, begitulah keseharianku. Biasa banget kan? by the way terimakasih buat kamu yang udah baca postinganku kali ini sampai selesai. Aku yakin kamu sekuat tenaga menahan mual dan mohon maaf jika ternyata menimbulkan amnesia dan penurunan tingkat kecerdasan. Hahaha, aku becanda becanda. Oke lah terimakasih dan sampai jumpa di postingan berikutnya. Semoga nggak terlalu lama.

Jumat, 09 Januari 2015

Dari Sekolah Hingga Dapur

Pengalaman-pengalaman yang aku alami tiap harinya pada dasarnya sama seperti dengan orang kebanyakan. Diawali dengan bangun pagi, mandi, siap-siap kekantor, kerja, pulang, istirahat, nonton TV sampai akhirnya tidur. Begitu tiap harinya.

Nah, kan sama. Terus ngapain kamu masih baca blog ini?

PLAAAKKK!!!

Aduhhhh!!! Iya iya, becanda aku Cuma becanda. Makasih banget ya yang udah baca. Yuk lanjut…
Emang sih hal-hal yang aku alami kurang lebih sama seperti yang dialami orang kebanyakan. Tapi bedanya aku tuangkan semua itu pada blog. Hal yang nggak semua orang lakuin. Kamu pengen tahu seberapa biasanya hari-hariku. Let’s check it out!!!

Foto aja masih Alay, mau jadi Wakil Kepala Sekolah
To day….(sok-sokan pake bahasa Inggris) aku awali dengan bangun tidur, mandi, sarapan, terus ke kantor deh. Kantorku adalah sekolahan, jadi sedikit informasi nih bagi kamu yang belum tahu profesiku, aku adalah guru Bahasa Jawa di salah satu SMP dekat dengan rumah. Selain itu aku juga dipercaya untuk menjadi wali kelas. Iya wali kelas. Entah dasarnya apa sehingga ibu kepala memasrahkan 16 siswa tak berdosa kepadaku, yang notabene belum punya pengalaman apa-apa. Secara, ini adalah tahun pertama aku mengajar. Tapi tenang, nggak sampai kok kalo aku menjerumuskan mereka ke jurang. Soalnya nggak ada jurang di sekitar sekolahan.


Minggu ini adalah awal semester baru. Setelah kemarin liburan saatlah kini kembali ke kehidupan nyata (emang kemarin nggak nyata) maksudnya kerutinitas sehari-hari. Awal masuk banyak yang berbeda dari siswa-siswiku. Muka merah cerah dan sumringah. Mungkin karena sudah terlalu kangen dengan wali kelasnya kali ya, jadi pengen ngejorokin dari lantai dua. Haha, enggak… ya, namanya juga habis liburan ya mereka senenglah, kecuali yang nggak pulang dari pondok. Selama dua minggu tetap di pondok, setor hapalan, belajar agama dan paling ya main comberan. Yang terakhir hanya fiktif.

Pertama kali pelajaran, bakal nggak bijak kalau langsung menyampaikan materi. Cukup dengan cerita-cerita pengalaman pas liburan aja. Ada yang cerita main ke pantai nonton konser. Keren nie anak, biasanya ngaji mulu pas liburan nontonnya konser, music metal pula. TOPlah. Saking antusiasnya konser mulai jam 8 malam dia udah stanbay di pinggir panggung jam 2 siang. Heh tong! Elu mau ngapain? Buka lapak asesoris? Hahahaha, salah satu pengalaman liburan yang fantastis.

Ada lagi nih, menghabiskan masa libur dengan menjelajah alam liar (baca:kali belakang rumah). Bersama teman-temannya Tomi (muridku bukan nama sebenarnya) memustuskan untuk mengadakan kegiatan susur sungai. Tujuannya untuk mencari tantangan sekaligus mencari ikan. Mata dipasang mode awas dengan tingkat kesensitivan tinggi atas pergerakan. Ada pergerakan sedikit dia langsung tahu, apakah itu ikan atau yang lainnya. Beberapa menit mengamati, ternyata sensor menangkap ada sebuah pergerakan. Agak lambat sih, nggak seperti ikan pada umumnya. Bentuknya agak besar. Wah, ini pasti ikan lele yang kekenyangan. Pelan-pelan dia mendekati. Pelaaaannnnn sekali, sampai ketika sudah dekat Haaap!!!! Tertangkaplah sebuah “Celana Dalam Bekas” entah milik siapa.

Aku curiga sensor yang ada di mata mereka sedang rusak. Membedakan ikan dan segumpal celana dalam aja nggak bisa. Hemmmmmm.

Waktu berlalu dan jam pelajaran usai. Ok I have finish.

Lanjut Rapat Dewan Guru. Sementara siswanya ditinggal dulu ya, biarlah mereka berfantasi dengan khayalannya lagi. Sebagai Guru yang masih belia, di dalam rapat tidak banyak yang aku lakukan. Mendengarkan kalau ada yang bicara, ikut tertawa kalau semua pada tertawa, menjawab “Siap” jika ditugaskan sesuatu. Termasuk ketika ditugaskan menjadi Wakil Kepala Sekolah urusan Kurikulum.

Hah!!! Waka Kurikulum? Bentar-bentar nggak seharusnya nih aku bilang siap. Selama enam bulan terakhir menjadi wali kelas saja anak-anak banyak yang terlantar, nggak karuan kena cacar, busung lapar, ada yang congekan daaaannnnnnn yang paling parah nyemplung comberan. Lalu sekarang harus bertanggung jawab dengan system pendidikan mereka. Oh, Tuhan demi apapun aku nggak mau menjerumuskan mereka lebih dalam.

Yang nggak habis pikir, kok ya bisa-bisanya ibu Kepala Sekolah memasrahkan posisi yang begitu pentingnya kepada aku. Jelas pilihan yang salah sih. Mudeng kurikulum aja belum, tahu cara bikin jadwal aja nggak, bahkan untuk ngajar biar keliatan keren di depan murid, semalaman aku latihan. Kalau gini pengen langsung terjun ke lantai satu dan ngibrit ke rumah, masuk kamar, selimutan dan bobok siang.

PLAAAKKK!!!

Nggak ding, Cuma menghela nafas dan meyakinkan diri aku pasti bisa mengemban tugas penting ini. Demi mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut serta membangun masyarakat, menepati Dasa Darma. Lhoh!

Nah, itu kan di sekolah. Udah deh sejenak kita lupakan persoalan di sekolah. Sekarang di rumah.
Entah dari mana inspirasinya aku pengen banget masak sesuatu. Pilihan masakan jatuh pada Fuyunghai sebuah makanan China (katanya) yang bentuk aslinya saja aku belum pernah merasakan. Terus untuk tahu itu rasanya udah bener atau nggak dari mana coba?  What ever lah itu dipikirkan nanti lagi.

Dengan semangat coba-coba yang sangat tinggi aku lancarkan rencana untuk memasak Fuyunghai. Resep aku cari di internet. Ada banyak versi di sana, aku pilih yang paling simpiel dan bahan yang paling mudah aku dapat. Fiks dengan resepnya mulai mengumpulkan bahan-bahan. Mulai dari telur, tepung, kol, daging kornet, saus, kecoa, nyamuk, dan…. Hahaha itu bukan termasuk.

Langkah demi langkah aku ikuti. Ternyata nggak terlalu rumit. Aku rasa ini bakalan menjadi masakan paling enak sepanjang bulu hidung yang baru dicukur. Prose mask masih berlangsung, perlu perjuangan sangat keras karena ternyata minyak nggakbelum baikan sama air, jadi pas lagi menggoreng adonan cipratan-cipratannya luar biasa seperti kembang api yang salah meledak. Heboh banget. Semakin yakin kalo masakan ini rasanya tak akan mengecewakan.

Setelah setengah jam, aktivitas menggoreng dan membuat saus selesai. Aku menata hasil gorengan di atas piring lalu aku siram dengan sausnya. Jadilah Fuyunghai alakadarnya. Hemmmmm, sepertinya enak. Sekali lagi masih sepertinya. Jadi belum dipastikan nih beneran enak atau hanya sebatas mitos saja.

Fuyunghai bikin fuyeng nih
Saatnya yang paling menegangkan. Mencicipi. Suapan pertama ada yang aneh, tapi aku tetap menguyah dan berhasil menelannya. Suapan kedua, tetap berasa aneh aku nggak menghiraukan masih mengunyah dengan anggunnya. Kunyah, kunyah, kunyah sampai pada akhirnya…. 

Hooooeeeekkkk!!!! Hoooooeeekkkk!!! Aku muntah.

Sepertinya nggak usah diperpanjang lagi kamu paling udah tau. Iya masakannku nggak enak. Sama sekali nggak enak. Jadi mual bahkan sampai muntah. Apa tadi yang aku masukin ke bahan-bahannya sampai seperti ini?

Satu hal yang membuat aku semakin yakin bahwa masakanku itu nggak enak adalah, saat kucing ikut-ikutan nggak mau makan. Oh, Tuhan!!! Seberapa nggak enaknya sih masakanku sampai kucing aja nggak doyan. Aku shock, depresi, nggak kuat dannnnn mau bobok aja.

Udah ah, dari pada sebel-sebel aku bobok aja…. Selamat malam ^_^

Minggu, 04 Januari 2015

Mantra Patronus Versiku

Harry dan Dementor (sumber radityadika.com)
Kalau kamu penggemar buku atau film “Harry Potter” pasti kenal dengan Dementor. Yups, Dementor adalah makhluk penghisap kebahagiaan yang membuat korban mereka berpikir tidak bisa bahagia lagi. Untuk mengusirnya satu-satunya cara adalah, Harry Potter harus mengeluarkan mantra yang bernama Patronus. Nah, untuk mengeluarkan mantra tersebut dengan baik, Harry harus mengingat tentang hal-hal yang ngebuat dia bahagia sambil mengarahkan tongkat sihirnya ke Dementor.

Kamu pasti mikir, kok tiba-tiba aku jadi tahu tentang Harry Potter, malah sok-sokan ngejelasin Dementor dan mantra pemusnahnya. Iya, iya aku memang bukan penggemar Harry Potter. Hanya penikmat pasif filmnya saja. Sebatas menonton nggak lebih dari itu. Kalau aku dites tentang siapa nama sahabat-sahabatnya Harry aku juga nggak hapal.

Jadi, aku baru aja baca arsip lama di radityadika.com. Salah satu artikelnya itu tentang Dementor dan mantraPatronus. Di situ Bang Radit cerita kalau akhir-akhir ini banyak Dementor disekelilingnya yang membuatnya jadi malas dan ogah-ogahan ngelakuin apa aja. Lalu dilist deh hal-hal yang bisa membuatnya bahagia sebagai mantara Patronusnya untuk mengusir Dementornya tadi.

Saat ini aku merasakan hal yang sama. Aku merasa ada banyak Dementor disekelilingku. Mereka dengan lahap menghisap kebahagiaanku. Sumpah jahat banget. So, aku jadi sering nangis hari ini sampe-sampe mataku sembab. Kebanyakan nangis jadi pusing, akhirnya males buat ngapa-ngapain. Seperti bang Radit, rasanya aku perlu deh membuat daftar hal-hal yang menyenangkan untuk memperkuat mantra Patronusku. Biar Dementornya segera lenyap.

Nah, yang dibawah ini adalah mantra Patronus versiku:

  1. Kumpul bareng temen SMA, ngobrolin hal-hal yang nggak penting, dan saling ledek satu sama lain.
  2. Dibeliin es krim, apapun itu terutama Walls
  3. Minum susu coklat
  4. Latihan bareng anak-anak Siaga, yang selalu menyambutku dengan penuh gegap gempita dengan sapaan “Bunda!!!”
  5. Rapat dengan anak-anak DKC Demak, walau kadang juga sering adu argumen
  6. Menjadi pengisi ice breaking dalam suatu kegiatan
  7. Ada yang mengenaliku di tempat-tempat yang aku nggak nyangka bakal ada yang kenal
  8. Berbalas komen dengan orang yang aku suka, entah di FB, Twitter atau media social lainnya
  9. Di kamar sendirian sambil dengerin musik baca novel baru
  10. Tersesat di Gramedia keluar-keluar udah borong buku baru
  11. Bisa selfie sama adik sendiri
  12. Bersama kedua sahabatku, Yenni dan Hida entah apapun yang kami kerjakan
  13. Berangkat sekolah dan bertemu dengan murid-murid yang lucu
  14. Nonton film di youtube dengan memanfaatkan wifi sekolah
  15. Datang di talkshow Raditya Dika dan berkesempatan foto bareng
  16. Terbayang situasi di mana harus dorong motor yang mogok gara-gara banjir, pengalaman sedih sekaligus lucu
  17. Ngomentarin tema di radio lewat twitter, padahal nggak lagi dengerin pas ada kesempatan di On-Airin bingung mau ngomong apa
  18. Dan masih banyak lagi….

Ternyata banyak juga hal-hal yang dapat membuat aku bahagia. Ada yang bilang kehidupan manusia itu seperti roda, kadang di atas kadang juga di bawah. Yang penting bukan soal di mana posisi kita saat ini, tapi bagaimana kita menyikapinya.

Aku yakin, nggak selamanya aku terjebak di posisi seperti ini. Nggak selamanya juga akan terselimuti dengan kesedihan dan nasib buruk. Dengan tetap memikirkan kesedihan-kesedihan yang dialami malah akan semakin menenggelamkan lebih dalam lagi.

Secepat mungkin harus segera “mentas” dari situasi seperti ini. Bukan dengan mengayunkan tongkat sihir dan mengucapkan mantra Patronus, tapi cukup dengan mengingat hal-hal yang dapat membuat kita bahagia. Kemudian coba tersenyum kepada diri sendiri dan ucapkan “Saya bahagia”