Nggak tahu aku suka dengan Pramuka sejak kapan, SD barangkali atau bisa
jadi sebelum aku sekolah aku sudah suka dengan Pramuka. Ha? Kok bisa?
Kenalin, aku Nikken Derek Saputri. Sampai saat ini masih tercatat sebagai
anggota Pramuka di Kabupaten Demak. Jika ditanya sejak kapan suka atau tertarik
dengan Pramuka, aku nggak bisa jawab memberi jawaban pasti. Tepatnya aku nggak
tahu, namun sejak kecil saat aku belum sekolah aku sering memperhatikan
tetanggaku, anak-anak sekolah dan yang terdekat adalah Om-ku sendiri yang tiap
hari Jum’at selalu berpakaian coklat-coklat membawa tongkat dan berangkat ke sekolah.
Pada waktu itu aku nggak tahu untuk apa? kemudian cerita-cerita mereka tentang
kegiatan berkemah membuatku penasaran. Kemudian aku berpikir, kapan giliranku?
Kiprahku dalam dunia kepramukaan dimulai sejak kelas 4 SD. Aku terpilih
untuk menadi salah satu peserta Jambore Ranting mewakili sekolah. Begitu bangganya
diriku saat itu dan tentunya sangat senang sekali. Bagaimana tidak, hal yang
aku impikan sejak dulu akan terwujud. Berkemah.
Begitu senangnya berkemah, mengikuti berbagai lomba di sana meskipun harus
makan seadanya, kepanasan, jarang mandi namun itulah pengalaman yang sangat
berharga dan tidak semua orang dapat merasakannya. Dari situlah awal
kecintaanku akan dunia Pramuka menemui jalan terang.
Berlanjut ke SMP. Aku baru tahu kalau ternyata ekstra Pramuka diwajibkan
untuk siswa kelas 1. Bagi sebagian siswa mungkin suatu hal yang berat dan menjengkelkan
harus mengikuti kegiatan Pramuka karena diwajibkan. Tapi bagiku nggak. Dengan suka
rela aku tak pernah absen (kecuali pas sakit) berangkat Pramuka. Karena aku
yakin pasti ada suatu alasan yang tujuan baik tentunya sehingga Pramuka wajib
diikuti oleh siswa sekolah.
Kenaikan kelas mungkin dianggap kebebasan dari keharusan mengikuti Pramuka
bagi sebagian siswa. Ketika yang lain bebas, justru aku ingin menceburkan diri
kedalamnya. Ya, aku bergabung dalam jajaran Pemimpin Pasukan (Pimpas). Berbagai
pengalaman aku dapatkan. Ilmu tentang kepramukaan seperti air yang mengalir
tanpa henti membuatku semakin bangga dan cinta terhadap Pramuka.
Mungkin karena aku terlalu rajin, akhirnya untuk kedua kalinya aku terpilih
mewakili sekolah untuk mengikuti Jambore Ranting. Sedikit berbeda dengan di SD,
untuk kali ini aku mendapat kepercayaan untuk menjadi Pemimpin Regu. Suatu
kebanggaan yang luar biasa. Aku masih ingat saat itu nama reguku adalah
Teratai.
Bekal pengalaman dari dunia penggalang aku jadikan bekal untuk masuk ke
dunia penegak. Ya, aku lanjutkan lagi karir kepramukaanku ke SMA. Dunia Penegak
aku anggap sebagai jendela dimana aku bisa melihat Pramuka secara lebih luas.
Pengalaman berkemah, teknik kepramukaan, mengadakan kegiatan, mengikuti syarat
kecapakan, mengikuti berbagai macam lomba. Dan waow!!!! Semuanya itu belum
tentu aku temukan di organisasi lain. Apalagi ketika aku berhasil dilantik
menjadi Pramuka Penegak Laksana, itu adalah hal yang paling luar biasa.
Lulus SMA dan masuk Perguruan Tinggi bukan berarti aku tinggalkan seragam
coklatku. Malah aku semakin sering mengenakannya. Aku bergabung di Racana. Kalau
tadi aku sebutkan Pramuka di SMA seperti jendela, kini aku sebut Pramuka di
Perguruan Tinggi adalah pintu yang dapat membawaku ke pengalaman-pengalaman
yang lebih luas lagi. aku bingung harus cerita apalagi, karena terlalu banyak
hal yang sudah aku dapatkan dari Pramuka.
Satu dampak aku mengikuti Pramuka yang sampai saat ini aku rasakan adalah,
kepercayaan diri. Boleh bertanya kepada teman-temanku, aku adalah seorang yang
pendiam, penyendiri, tak berani berpendapat, dan jarang mempunyai rasa percaya
diri, temanpun Cuma sedikit. Sampai pada suatu ketika Ayahku berkata kalau aku
tetap seperti ini, aku tak akan bisa hidup bermasyarakat. Aku camkan baik-baik
pesan ayahku itu dan aku putuskan. Ya, Pramuka adalah media untuk perubahanku.
Dan sekarang, setelah sekian tahun berkecimpung dalam dunia Pramuka sudah
tak ada lagi yang namanya Nikken yang pendiam, penyendiri, tak bersemangat dan
kurang percaya diri. Semua itu berganti dengan Nikken yang periang, selalu
bersemangat, suka berkumpul dengan teman dan always percaya diri. Memang, tak
dipungkiri kadang namanya juga manusia ada kalanya down, satu kalimat yang akan
membuatku kembali seperti semula:
“Aku Pramuka, Aku Berbeda!!!”
Seketika itu aku kembali seperti semula.
Pramuka juga mengantarkanku untuk bertemu dengan tokoh-tokoh di Indonesia.
Sebut saja, Andi Malarangeng yang saat itu masih menjabat sebagai Menteri Pemuda
dan Olahraga, Dede Yusuf (Wakil Guberneur Jawa Barat sekaligus Ketua kwartir
Jawa Barat), Sri Sultan Hamengkubowono XI, Bibit Waluyo, bahkan sampai RI-2
Budiyono.
Jika ada kata yang melibihi dari “Luar biasa” aku akan menngunakan untuk
menyatakan betapa bermanfaatnya Pramuka. Ya, Pramuka telah mengubahku. Mengubahku
menjadi sosok yang berbeda dan insyaAllah lebih baik.








0 komentar:
Posting Komentar