Kamis, 02 Agustus 2012

Cerita Lain Perjalanan Grobogan-Semarang




Kebetulan selama perjalanan ke rumah Yenni aku diboncengin oleh adik tingkatku namanya Broto. Broto ini tipikal orang yang banyak bicara dan sering melucu, lumayanlah selama perjalanan jadi nggak bosen. Sebelumnya memang sudah sering sih, aku diboncengin sama dia soalnya kami membina pramuka di tempat yang sama jadi kalau pas ada kegiatan dia yang ngeboncengin aku.

Banyak yang kami ceritakan selama perjalanan, dari mengomentari anggota rombongan lain, sampai kebiasaan-kebiasaan nakal saat berkendara secara masal. Semuanya kami ulas sedemikian rupa hingga bisa tertawa terpingkal-pingkal.

Usut punya usut ternyata ada beberapa fakta mengenai Broto. Pertama, ternyata dia belum punya SIM alias Surat Izin Mengemudi. Mungkin belum sempat atau dia nggak lulus-lulus ujian SIM kali sehinga sampai sekarang belum punya surat anti tilang itu. Makanya sering kali dia nggak pede ketika disuruh ngeboncengin orang. Fakta kedua, ternyata dibalik kecerdasaan dan selera humor yang tinggi Broto adalah seorang yang mudah sekali tersesat. Jangankan di kota orang, di Pemalang saja yang merupakan kota kelahirannya sendiri dia bisa nyasar sampai Tegal. Itu nggak terjadi sekali atau dua kali, tapi berulang kali. Hemmm....


Dalam posisi inilah aku baru merasa kalau keselamatanku terancam. Hehehehe, maksudnya keselamatan dalam arti sampainya aku di kos lagi bakal mundur dari jadwal yang telah diperkirakan. Sebetulnya, nggak jauh beda sama Broto, aku juga salah seorang yang hobinya kesasar. Bahkan di Demak sendiri dan merupakan bukan ide bagus kalau dua orang yang mempunyai kendala mengingat yang sama lemahnya untuk dipasangkan dalam sebuah kendaraan.  Sayangnya kami baru menyadari itu ketika kami sudah kesasar jauh.

Awalnya kami hanya, ketinggalan dari rombongan. Okelah, kami manfaatkan momen tersebut untuk sekadar main-main di alun-alun Purwodadi. Niatnya sih nyari bakso atau mie ayam namun tiga kali kami mengitari alun-alun itu tak satupun warung yang menjual apa yang kami cari. Oh, penonton kecewa. Ya sudah, lanjut perjalanan aja wis.

Kebingungan mulai melanda ketika dihadapakan oleh persimpangan jalan. Entah itu pertigaan, perempatan atau apapun yang mengharuskan kami memilih harus lewat mana. Uncul deh, prinsip kunoku “Malu bertanya, kita jalan-jalan” hahahaha, sayangnya sudah malam, kalau dipaksakan jalan-jalan rasanya kok tidak memungkinkan apalagi posisi masih di kota orang. Bertanya aja deh biar jelas dan cepet sampai Semarang.

Perjalanan selanjutnya begitu lancar, apalagi dibantu dengan beberapa penunjuk jalan semakin mempermudah perjalanan kami. Lalu terjadilah, kami salah jalan. Harusnya kami ambil jalan yang ke kiri seperti pas berangkat namun kami mengambil yang kanan dan parahnya kami baru sadar kalau kami salah jalur ketika perjalanan sudah jauh. Kalau diterusin jauh, tapi kalau puter balik semakin jauh. Ya, sudah makan mie ayam dulu sana. Hehehhehe.. di depan SMA N 1 Dempet kami beristirahat dan mengisi perut dengan mie ayam.

Sedikit ragu untuk melanjutkan perjalanan sebenarnya, karena si Broto sudah kelelahan padahal Semarang masih jauh. Hemmmm,. Mau mampir rumah, bingung ngejelasinnya ntar sama ibu. Udah ke Grobogan nggak pamit, pulang malem-malem, bawa cowok pula. Wah, tidak tidak!!! Rencana itu aku urungkan. Apa tak inapkan ke temanku aja ya yang rumahnya deket situ? Tapi besok aku ppl harus sampai sekolahan pagi. Jadi keputusannya adalah tetap kembali ke Semarang dengan posisi aku yang nggantiin dia duduk di belakang kemudi. Hehehehe....

Jalan Semarang-Demak ini nggak asing lagi buat aku. Bahkan lubang-lubang kecil di jalanan sudah hafal dimana saja. Nggak lama sih sekitar lima belas menitan gerbang Selamat Jalan Kota Wai sudah terlewati. Itu artinya sudah sampai kota Semarang. Tapi perjuangan belum berakhir, si Jupe harus tetap dipacu supaya lekas sampai Gunungpati.

Kami tergoda untuk berhenti sejenak ketika melewati kota lama. Eksotisnya gedung-gedung peninggalan kolonial membuat kami sayang kalau tidak berfoto di sana. Hahahay... foto-foto deh... yah, itung-itung untuk mengobati hati yang baru saja tersesat. Beberapa lokasi yang kami singgahi sementara adalah kawasan setelah gereja blenduk, paragon dan depan balai kota. Kalau saja batrai kamera nggak low pasti sesi foto-foto masih berlanjut di tugumuda. Namun berhubung batrai sudah habis, maka kami harus naik ke atas. Sampai di kos pas tengah malam. Hahahaha, capek banget. Udah ah, istirahat besok kan berangkat pagi.


0 komentar:

Posting Komentar