Kebetulan
selama perjalanan ke rumah Yenni aku diboncengin oleh adik tingkatku namanya
Broto. Broto ini tipikal orang yang banyak bicara dan sering melucu, lumayanlah
selama perjalanan jadi nggak bosen. Sebelumnya memang sudah sering sih, aku
diboncengin sama dia soalnya kami membina pramuka di tempat yang sama jadi
kalau pas ada kegiatan dia yang ngeboncengin aku.
Banyak
yang kami ceritakan selama perjalanan, dari mengomentari anggota rombongan
lain, sampai kebiasaan-kebiasaan nakal saat berkendara secara masal. Semuanya
kami ulas sedemikian rupa hingga bisa tertawa terpingkal-pingkal.
Usut
punya usut ternyata ada beberapa fakta mengenai Broto. Pertama, ternyata dia
belum punya SIM alias Surat Izin Mengemudi. Mungkin belum sempat atau dia nggak
lulus-lulus ujian SIM kali sehinga sampai sekarang belum punya surat anti
tilang itu. Makanya sering kali dia nggak pede ketika disuruh ngeboncengin
orang. Fakta kedua, ternyata dibalik kecerdasaan dan selera humor yang tinggi
Broto adalah seorang yang mudah sekali tersesat. Jangankan di kota orang, di
Pemalang saja yang merupakan kota kelahirannya sendiri dia bisa nyasar sampai
Tegal. Itu nggak terjadi sekali atau dua kali, tapi berulang kali. Hemmm....
Dalam
posisi inilah aku baru merasa kalau keselamatanku terancam. Hehehehe, maksudnya
keselamatan dalam arti sampainya aku di kos lagi bakal mundur dari jadwal yang
telah diperkirakan. Sebetulnya, nggak jauh beda sama Broto, aku juga salah
seorang yang hobinya kesasar. Bahkan di Demak sendiri dan merupakan bukan ide
bagus kalau dua orang yang mempunyai kendala mengingat yang sama lemahnya untuk
dipasangkan dalam sebuah kendaraan.
Sayangnya kami baru menyadari itu ketika kami sudah kesasar jauh.
Awalnya
kami hanya, ketinggalan dari rombongan. Okelah, kami manfaatkan momen tersebut
untuk sekadar main-main di alun-alun Purwodadi. Niatnya sih nyari bakso atau
mie ayam namun tiga kali kami mengitari alun-alun itu tak satupun warung yang
menjual apa yang kami cari. Oh, penonton kecewa. Ya sudah, lanjut perjalanan
aja wis.
Kebingungan
mulai melanda ketika dihadapakan oleh persimpangan jalan. Entah itu pertigaan,
perempatan atau apapun yang mengharuskan kami memilih harus lewat mana. Uncul
deh, prinsip kunoku “Malu bertanya, kita jalan-jalan” hahahaha, sayangnya sudah
malam, kalau dipaksakan jalan-jalan rasanya kok tidak memungkinkan apalagi
posisi masih di kota orang. Bertanya aja deh biar jelas dan cepet sampai
Semarang.
Perjalanan
selanjutnya begitu lancar, apalagi dibantu dengan beberapa penunjuk jalan
semakin mempermudah perjalanan kami. Lalu terjadilah, kami salah jalan.
Harusnya kami ambil jalan yang ke kiri seperti pas berangkat namun kami
mengambil yang kanan dan parahnya kami baru sadar kalau kami salah jalur ketika
perjalanan sudah jauh. Kalau diterusin jauh, tapi kalau puter balik semakin
jauh. Ya, sudah makan mie ayam dulu sana. Hehehhehe.. di depan SMA N 1 Dempet
kami beristirahat dan mengisi perut dengan mie ayam.
Sedikit
ragu untuk melanjutkan perjalanan sebenarnya, karena si Broto sudah kelelahan
padahal Semarang masih jauh. Hemmmm,. Mau mampir rumah, bingung ngejelasinnya
ntar sama ibu. Udah ke Grobogan nggak pamit, pulang malem-malem, bawa cowok
pula. Wah, tidak tidak!!! Rencana itu aku urungkan. Apa tak inapkan ke temanku
aja ya yang rumahnya deket situ? Tapi besok aku ppl harus sampai sekolahan
pagi. Jadi keputusannya adalah tetap kembali ke Semarang dengan posisi aku yang
nggantiin dia duduk di belakang kemudi. Hehehehe....
Jalan
Semarang-Demak ini nggak asing lagi buat aku. Bahkan lubang-lubang kecil di
jalanan sudah hafal dimana saja. Nggak lama sih sekitar lima belas menitan
gerbang Selamat Jalan Kota Wai sudah terlewati. Itu artinya sudah sampai kota
Semarang. Tapi perjuangan belum berakhir, si Jupe harus tetap dipacu supaya
lekas sampai Gunungpati.
Kami
tergoda untuk berhenti sejenak ketika melewati kota lama. Eksotisnya
gedung-gedung peninggalan kolonial membuat kami sayang kalau tidak berfoto di
sana. Hahahay... foto-foto deh... yah, itung-itung untuk mengobati hati yang
baru saja tersesat. Beberapa lokasi yang kami singgahi sementara adalah kawasan
setelah gereja blenduk, paragon dan depan balai kota. Kalau saja batrai kamera
nggak low pasti sesi foto-foto masih berlanjut di tugumuda. Namun berhubung
batrai sudah habis, maka kami harus naik ke atas. Sampai di kos pas tengah
malam. Hahahaha, capek banget. Udah ah, istirahat besok kan berangkat pagi.








0 komentar:
Posting Komentar