Fokus pada satu titik. Kamu. Ketika tawa lepas terlontar ikhlas, saat itu rasa lega menyeruak di dada. Hemmmm, kamu baik-baik saja.
Di
tengah sebuah pusat perbelanjaan. Tejadi hiruk pikuk beberapa orang berseragam
sama, sepertinya itu panitianya. Iya betul mereka adalah panitia sebuah event
bulanan di Mal itu. Kali ini yang akan diselenggarakan adalah Pameran Buku
Nasional. Stand-stand buku dari berbagai penerbit sudah siap. Beberapa
pengunjung juga sudah ada yang iseng melihat-lihat koleksi buku yang dipajang,
meskipun belum dibuka acaranya.
Di sudut
yang lain, ada sebuah panggung kecil sederhana bertuliskan nama evennya. Di depan
panggung itu seduah siap deretan kursi yang sebagian sudah terisi oleh
anak-anak berbaju adat nusantara. Mereka adalah model cilik yang siap
menunjukkan kebolehannya setelah acara pembukaan nanti.
Dari
lantai dua ini aku memperhatikan semuanya. Ekspresi-ekspresi mereka, baik itu
panitia, penjaga stand, pengunjung, lebih-lebih peserta fashion show cilik itu,
mereka semua lucu-lucu. Iya aku memang hobi memperhatikan ekspresi orang lain.
Ada satu keunikan tersendiri di balik ekspresi mereka yang kemudian akan
membuatku tersenyum-senyum sendiri.
“krrrriiiiiinnnnngggg!!!!
Kriiiingggggg!!!!”
“Halo?”
“Kenapa
nggak turun?”
Seseorang
yang aku kenal melambaikan tangannya sambil tersenyum ke arahku, ternyata dia
sudah menyadari keberadaanku. Aku membalasnya dengan hal yang sama, bedanya senyumku
lebih manis.
“Ayo
turun!! Ngapain di situ?”
“Merhatiin
kamu”
“Hahaha,
ayo sini udah aku siapin kursi spesial buat kamu” dia melanjutkan “Aku pengen
kamu nyaksiin pembukaan event aku yang pertama”
“Emmmm,
dari sini aja”
“Nggak
boleh, kamu harus duduk di kursi yang udah aku siapin. Ini sebagai wujud
terimakasih aku ke kamu. Aku bisa seperti ini kan karena kamu”
“Iya,
deh aku turun”
Telpon
diakhiri, aku beranjak turun menuju depan panggung tempat temanku tadi berdiri.
Senyum hangat dan basa-basi khas sahabat karib mengawali pertemuan kami. Dia mengajakku
duduk di sebuah kursi yang katanya dipersiapkan untukku. Tidak bisa lama dia
menemaniku, aku ditinggal karena ada sesuatu hal yang harus dikerjakannnya,
selain itu karena memang acara mau dimulai. Sekelilingku juga semakin ramai,
anak-anak itu sepertinya sudah tidak sabar menunggu lomba fashionshow.
Kursi
di depan panggung sudah penuh, bahkan ada beberapa yang berdiri di belakang. Tamu
juga sudah hadir semua, mereka duduk di tempat VIP sofa empuk depan panggung
persis. Entah mereka siapa, aku tak tahu yang jelas mereka adalah orang
penting. Acara dimulai. Roni nama sahabatku itu, berdiri di atas panggung
dengan gagahnya. Mewakili teman-temannya dia memberikan sambutan. Pandangannku tak
lepas darinya, hemmmm baru aku sadari ternyata dia cakep juga.
“....Selain
itu saya juga ingin menyampaikan terimakasih kepada seseorang yang mengajarkan
saya untuk selalu berusaha sungguh-sungguh tanpa takut akan kegagalan...”
Kalimat
yang membuatku tersadar dari lamunanku. Dia menyampaikannya sambil memandang ke
arahku dan melemparkan senyum yang kemudian aku balas dengan senyum juga. Sekarang
dia sudah menjadi sosok yang menawan, nggak seperti dulu yang pemalu dan nggak
pedean. Entah kenapa sepanjang acara yang aku perhatikan adalah Roni. Seakan ada
magnet yang menuntunku untuk selalu mengikuti geraknya di depan.
Sampai
acara pembukaan selesai , beberapa orang menyalaminya mengucapkan selamat
kepadanya karena memang konsep yang dia buat sangat luar biasa dan belum pernah
ada. Aku berdiri dari posisiku duduk supaya tetap bisa memperhatikannya,
sekarang dia menemani orang-orang penting tadi berkeliling tempat pameran.
Dari
banyak titik itu, aku hanya fokus pada satu titik. Kamu. Ketika tawa lepas
terlontar ikhlas, saat itu rasa lega menyeruak di dada. Hemmmm, kamu baik-baik
saja. Roni kamu sudah menjadi sosok yang lebih dewasa. Kamu berhasil. Selamat ya...
Sebuah
ucapan selamat yang hanya bisa aku sampaikan lewat pesan BBM. Dalam kondisi
seperti ini, pasti dia belum menyadari pesanku. Okelah tak apa. Namun satu hal
yang aku sadari sekarang, kepalaku sakit bumi seakan berputar. Ya Allah jangan
sekarang, jangan saat sahabatku berbahagia aku tak ingin merusak
kebahagiaannya. Kuatkan aku ya Allah.
Dengan
sisa tenaga aku bergerak menjauh. Iya aku sakit, sejak lahir aku memiliki
kelainan jantung, banyak yang bilang aku jantung lemah makanya gampang pingsan
kalau kecapekan. Aku berharap kali ini tidak sampai pingsan. Hanya butuh
istirahat sebentar dan minum obat. Tapi........ Gelap.
***
Bau
ini, bau yang tak asing. Suara alat itu juga tak asing, suara Elektro Kardio
Graf. Tidak salah lagi pasti tadi aku pingsan dan ada yang membawaku ke rumah
sakit. Siapa orang itu, ingin sekali aku berterimakasih kepadanya. Mata ini
masih berat tapi aku tetap coba untuk membukanya, cahaya sedikit demi sedikit
memasuki celah kornea, yang tadinya samar sekarang semakin jelas. Jelas kalau
ternyata ada Roni di sampingku. Dia tersenyum. Aku coba duduk tapi dia
melarang.
“Udah
istirahat aja, tadi kamu pingsan aku yang bawa kamu ke sini” dia menjelaskan
tanpa ku minta. “Event kamu?” suaraku masih terdengar lemah.
“Nggak
usah dipikirin, ada temen-temen aku yang handle kok”
“Tapi
kan....”
“Sssssttt....”Roni
memotong “Sudah, yang jelas aku di sini ingin njaga kamu. Kamu adalah titik
fokusku selama ini, sumber motivasiku, sumber keceriaanku dan sumber semangatku.
Aku menyesal harusnya aku tidak minta kamu datang”
Sekali
lagi aku mencoba duduk, kali ini Roni membantuku sampai akhirnya aku bisa
duduk. Roni pun sekarang juga duduk di ranjang , kami saling berpandangan.
“Maaf,
aku kurang jeli memperhatikanmu. Harusnya aku tahu kalau kamu lagi nggak enak
badan”
“Aku
datang karena aku ingin”
“Ingin
apa?”
“Ingin
melihatmu yang telah menjadi sosok yang berbeda, sosok yang lebih baik, sosok
yang lebih berani dan sosok yang selama ini aku sayangi” Entah kekuatan dari
mana aku memeluknya “Aku sayang sama kamu Roni”
Sejenak
ruang menjadi hening, suara Kardio Graf semakin jelas. Tapi lebih jelas
kata-kata yang dibisikkan Roni ke telingaku. “Aku juga sayang sama kamu, sejak
pertama kali bertemu. Aku ingin kamu menjadi titik fokusku selamanya”









apakabar mb niken.....?
BalasHapusini pk eko perangkat desa kebondalem
mau tanya mb niken
dalem pak eko... kados pundi? badhe nyuwun pirsa menapa bapak?
BalasHapus