Kamis, 10 April 2014

Titik Fokus

Fokus pada satu titik. Kamu. Ketika tawa lepas terlontar ikhlas, saat itu rasa lega menyeruak di dada. Hemmmm, kamu baik-baik saja.
Di tengah sebuah pusat perbelanjaan. Tejadi hiruk pikuk beberapa orang berseragam sama, sepertinya itu panitianya. Iya betul mereka adalah panitia sebuah event bulanan di Mal itu. Kali ini yang akan diselenggarakan adalah Pameran Buku Nasional. Stand-stand buku dari berbagai penerbit sudah siap. Beberapa pengunjung juga sudah ada yang iseng melihat-lihat koleksi buku yang dipajang, meskipun belum dibuka acaranya.
Di sudut yang lain, ada sebuah panggung kecil sederhana bertuliskan nama evennya. Di depan panggung itu seduah siap deretan kursi yang sebagian sudah terisi oleh anak-anak berbaju adat nusantara. Mereka adalah model cilik yang siap menunjukkan kebolehannya setelah acara pembukaan nanti.
Dari lantai dua ini aku memperhatikan semuanya. Ekspresi-ekspresi mereka, baik itu panitia, penjaga stand, pengunjung, lebih-lebih peserta fashion show cilik itu, mereka semua lucu-lucu. Iya aku memang hobi memperhatikan ekspresi orang lain. Ada satu keunikan tersendiri di balik ekspresi mereka yang kemudian akan membuatku tersenyum-senyum sendiri.
“krrrriiiiiinnnnngggg!!!! Kriiiingggggg!!!!”
“Halo?”
“Kenapa nggak turun?”
Seseorang yang aku kenal melambaikan tangannya sambil tersenyum ke arahku, ternyata dia sudah menyadari keberadaanku. Aku membalasnya dengan hal yang sama, bedanya senyumku lebih manis.
“Ayo turun!! Ngapain di situ?”
“Merhatiin kamu”
“Hahaha, ayo sini udah aku siapin kursi spesial buat kamu” dia melanjutkan “Aku pengen kamu nyaksiin pembukaan event aku yang pertama”
“Emmmm, dari sini aja”
“Nggak boleh, kamu harus duduk di kursi yang udah aku siapin. Ini sebagai wujud terimakasih aku ke kamu. Aku bisa seperti ini kan karena kamu”
“Iya, deh aku turun”
Telpon diakhiri, aku beranjak turun menuju depan panggung tempat temanku tadi berdiri. Senyum hangat dan basa-basi khas sahabat karib mengawali pertemuan kami. Dia mengajakku duduk di sebuah kursi yang katanya dipersiapkan untukku. Tidak bisa lama dia menemaniku, aku ditinggal karena ada sesuatu hal yang harus dikerjakannnya, selain itu karena memang acara mau dimulai. Sekelilingku juga semakin ramai, anak-anak itu sepertinya sudah tidak sabar menunggu lomba fashionshow.
Kursi di depan panggung sudah penuh, bahkan ada beberapa yang berdiri di belakang. Tamu juga sudah hadir semua, mereka duduk di tempat VIP sofa empuk depan panggung persis. Entah mereka siapa, aku tak tahu yang jelas mereka adalah orang penting. Acara dimulai. Roni nama sahabatku itu, berdiri di atas panggung dengan gagahnya. Mewakili teman-temannya dia memberikan sambutan. Pandangannku tak lepas darinya, hemmmm baru aku sadari ternyata dia cakep juga.
“....Selain itu saya juga ingin menyampaikan terimakasih kepada seseorang yang mengajarkan saya untuk selalu berusaha sungguh-sungguh tanpa takut akan kegagalan...”
Kalimat yang membuatku tersadar dari lamunanku. Dia menyampaikannya sambil memandang ke arahku dan melemparkan senyum yang kemudian aku balas dengan senyum juga. Sekarang dia sudah menjadi sosok yang menawan, nggak seperti dulu yang pemalu dan nggak pedean. Entah kenapa sepanjang acara yang aku perhatikan adalah Roni. Seakan ada magnet yang menuntunku untuk selalu mengikuti geraknya di depan.
Sampai acara pembukaan selesai , beberapa orang menyalaminya mengucapkan selamat kepadanya karena memang konsep yang dia buat sangat luar biasa dan belum pernah ada. Aku berdiri dari posisiku duduk supaya tetap bisa memperhatikannya, sekarang dia menemani orang-orang penting tadi berkeliling tempat pameran.
Dari banyak titik itu, aku hanya fokus pada satu titik. Kamu. Ketika tawa lepas terlontar ikhlas, saat itu rasa lega menyeruak di dada. Hemmmm, kamu baik-baik saja. Roni kamu sudah menjadi sosok yang lebih dewasa. Kamu berhasil. Selamat ya...
Sebuah ucapan selamat yang hanya bisa aku sampaikan lewat pesan BBM. Dalam kondisi seperti ini, pasti dia belum menyadari pesanku. Okelah tak apa. Namun satu hal yang aku sadari sekarang, kepalaku sakit bumi seakan berputar. Ya Allah jangan sekarang, jangan saat sahabatku berbahagia aku tak ingin merusak kebahagiaannya. Kuatkan aku ya Allah.
Dengan sisa tenaga aku bergerak menjauh. Iya aku sakit, sejak lahir aku memiliki kelainan jantung, banyak yang bilang aku jantung lemah makanya gampang pingsan kalau kecapekan. Aku berharap kali ini tidak sampai pingsan. Hanya butuh istirahat sebentar dan minum obat. Tapi........ Gelap.
***
Bau ini, bau yang tak asing. Suara alat itu juga tak asing, suara Elektro Kardio Graf. Tidak salah lagi pasti tadi aku pingsan dan ada yang membawaku ke rumah sakit. Siapa orang itu, ingin sekali aku berterimakasih kepadanya. Mata ini masih berat tapi aku tetap coba untuk membukanya, cahaya sedikit demi sedikit memasuki celah kornea, yang tadinya samar sekarang semakin jelas. Jelas kalau ternyata ada Roni di sampingku. Dia tersenyum. Aku coba duduk tapi dia melarang.
“Udah istirahat aja, tadi kamu pingsan aku yang bawa kamu ke sini” dia menjelaskan tanpa ku minta. “Event kamu?” suaraku masih terdengar lemah.
“Nggak usah dipikirin, ada temen-temen aku yang handle kok”
“Tapi kan....”
“Sssssttt....”Roni memotong “Sudah, yang jelas aku di sini ingin njaga kamu. Kamu adalah titik fokusku selama ini, sumber motivasiku, sumber keceriaanku dan sumber semangatku. Aku menyesal harusnya aku tidak minta kamu datang”
Sekali lagi aku mencoba duduk, kali ini Roni membantuku sampai akhirnya aku bisa duduk. Roni pun sekarang juga duduk di ranjang , kami saling berpandangan.
“Maaf, aku kurang jeli memperhatikanmu. Harusnya aku tahu kalau kamu lagi nggak enak badan”
“Aku datang karena aku ingin”
“Ingin apa?”
“Ingin melihatmu yang telah menjadi sosok yang berbeda, sosok yang lebih baik, sosok yang lebih berani dan sosok yang selama ini aku sayangi” Entah kekuatan dari mana aku memeluknya “Aku sayang sama kamu Roni”
Sejenak ruang menjadi hening, suara Kardio Graf semakin jelas. Tapi lebih jelas kata-kata yang dibisikkan Roni ke telingaku. “Aku juga sayang sama kamu, sejak pertama kali bertemu. Aku ingin kamu menjadi titik fokusku selamanya”


2 komentar:

  1. apakabar mb niken.....?
    ini pk eko perangkat desa kebondalem
    mau tanya mb niken

    BalasHapus
  2. dalem pak eko... kados pundi? badhe nyuwun pirsa menapa bapak?

    BalasHapus