Rabu, 23 November 2011

Ke Ambarawa bareng Septi



Baru terasa pagi ini, badan pegel-pegel semua. Setelah kemarin bersama temanku Septi menempuh perjalanan panjang nan menantang. Dalam rangka memenuhi tugas kuliah, kami harus menuju ke sebuah sekolah yang tempatnya tak pernah terbayangkan sebelumnya. Kami hanya tahu daerah Banyu Biru Ambarawa.
Perjalanan berawal dari jam 11 siang. Belajar dari kesalahan kemarin saat observasi di Demak, kali ini kami berpakaian khas mahasiswa PPL. Berdua kami berboncengan di atas motor Mio. Langit memang tak begitu cerah, dan apa yang kami khawatirkan terjadi. Hujan. Terpaksa kami berteduh di depan Alfa Mart. Setengah jam kemudian hujan mereda, meninggalkan setitik gerimis nan indah. Kami memutuskan melanjutkan perjalanan. Berlomba dengan mobil-mobil dan truk-truk besar di pantura kami menerobos gerimis. Baru 5 menit kami berjalan titik air gerimis menjadi besar dan semakin besar. Hujan lagi. Di depan sebuah toko kelontong kuning kami berteduh. Hemmmm, derita karena tak membawa jas hujan.
Setelah dipastikan benar-benar  reda, kami melanjutkan perjalanan. Di beri petunjuk oleh Mas Jito -orang yang ingin kami temui- melewati jalan alternative yang sebetulnya sedikit membuat kami bingung. Bertanya di setiap jalan memastikan kami tidak kesasar.
Awalnya jalan yang kami lalui jalan raya biasa yang masih ramai dengan pemukiman dan orang lalu lalang. Sampai pada akhirnya kami masuk sebuah desa Wanakrama –kalo tidak salah namanya itu- jalan menanjak dan rusak itulah yang kami lalui. Permulaannya memang masih banyak rumah-rumah warga namun semakin ke atas semakin jarang rumah dan sepi dari lalu lalang warga. Ditambah dengan hujan dan kabut yang turun secara perlahan membatasi jangkauanpandangan kami.
Sampai dipersimpangan, tanpa orang dan jauh dari pemukiman, kami bingung harus ke kiri atau ke kakan. Untungnya ada orang yang tujuannya hamper sama yang menunjukkan jalan menuju SMP 3 Wonokromo. Kami kira sudah dekat, ternyata masih lumayan jauh. Jalan berliku, menanjak dan rusak embuat Septi hampir menangis. Aku yang di belakangnya hanya bisa memberi semangat. “Ayo Septi, kamu bisa!!!”
Pukul 13.00 kami sampai tujuan, tangis haru meluber dari mata Septi. Tak kuasa membendung perasaan bahagia sampai juga di tujuan. Horeee!!!!!! Sampai juga….
Alhamudlillah…

0 komentar:

Posting Komentar