Seperti sore kemarin, hujan mengguyur seantero Unnes. Termasuk juga kos-kosanku. Berbeda dengan kemarin kos memang sepi tidak ada orang, karena ada konser Ungu. Jadi maklum aja kalo jemuran basah tidak ada yang ngangkatin, yak arena posisinya tidak ada orang di kos. Namun sore ini, hal yang sedikit menusuk ulu hati. Sepele memang tapi ya radak menyakitkan. Masalah jemuran yang nggak diangkatin padahal ada beberapa orang dikos. Memang aku tidak berpesan kepada mereka melainkan kepada anggota kos yang lain, tapi setidaknya karena mereka yang berada dikos mbok iya ngangkatin jemuranku.
Di sini aku tidak mempermasalahkan soal jemuran yang kehujanan. Kalau sudah terlanjur ya sudah mau diapain lagi. Iya kan? Yang aku pertanyakan itu kepekaan antar penghuni kos. Dulu waaktu kami bertiga memutuskan mengintrak salah satu alasannya supaya timbul rasa kekeluargaan yang biasanya tidak ditemukan di kos pada umumnya yang cenderung individualis. Urusanku ya urusanku, urusanmu ya urus sendiri. Kurang lebih seperti itu. Tapi di sini berbeda, sengaja memilih rumah yang settingnya mirip dengan rumah pada umumnya supaya rasa kekeluargaan ada. Perihal makan dan urusan pribadi memang tanggungan masing-masing, namun yang lainnya kita bersama, layaknya sebuah keluarga.
Memang sulit enciptakan suasana kekeluargaan dari beberapa orang yang berasal dari latar belakang keluarga yang berbeda. Berbagai macam watak manusia tinggal di bawah atap yang sama. Jangankan jemuran kadang piring kotorpun yang sudah menjamur berminggu-minggu karena mungkin yang menggunakan itu lupa sedangkan yang lain karena mera itu bukan dia yang menggunakan jadi ya sudah dibiarkan saja. Hemmmmm……
Ini yang terjadi di kontrakan yang setnya keluarga terus bagaimana di kos umum yang individualisme tinggi? Apakah kalau ada pakaian dalam di tengah pintu utama barangkali akan dibiarkan saja, karena merasa itu bukan miliknnya? Atau memang budaya peka itu memang sudah nggak ada? Atau yang lebih parahnya mereka merasa ngekos sendirian jadi bisa seenaknya berpolah tingkah di kos, termasuk membiarkan hujan turun membasahi baju temannya?
Sudahlah, terlalu berlebihan jika aku teruskan cerita ini. Toh ini hanya perihal jemuran yang kehujanan. Tunggu sehari lagi pasti sudah kering kembali.
H-20 pelajaran yang bisa diambil adalah belajar peka, sabar dan menahan emosi.
Rabu, 16 November 2011
@kontrakan
3:15 p.m








0 komentar:
Posting Komentar