Calon Penulis dan Penulis

“….nanti pulang dari sini kalo Nikken nulis pasti tulisannya jelek, gue jamin itu. Lalu kapan tulisannya bakal bagus? Kalau dia mau memperbaiki yang kurang bagus, mengedit yang kurang sesuai sehingga menjadi tulisan yang bagus….-RD”

Semangat Berani

"Lebih baik salah dari pada selamanya tidak tahu salah atau benar" -Jomblo

My Inpiration

"Imagine all the wonderful things that will never happen if you do not do them" -Up

Nikken Derek Saputri dan Derek Samtidar

"Akhir sebuah perjalanan merupakan awal dari perjalanan baru" -Wisuda Unnes Periode II tahun 2013

Bersama berbagi tawa canda

"Sahabat adalah keluarga yang kita pilih sendiri"

Minggu, 28 Desember 2014

Sherina Munaf dan Mimpiku

Artis muda berbakat yang aku kagumi sedari dulu. Suara bagus, acting keren, otak encer, cantik pula. Dialah Sherina Munaf. Pertama kali tahu tentangnya adalah ketika film “Petualangan Sherina” mulai dirilis. Aku nggak nonton di bioskop sih? Nonton lewat dvd yang dipinjem dari persewaan dvd. 

Aku melihat Sherina adalah orang yang sangat beruntung. Dengan usia yang terbilang masih muda banget tapi dia sudah bisa terkenal seperti itu. Dan yang bikin aku iri banget adalah dia bisa duet sama westlife, boyband asal Irlandia yang juga lagi buming-bumingnya dikala itu. Saat anak-anak seusianya (termasuk aku) hanya bisa mengagumi melalui layar TV dan mengumpulkan poster, Sherina udah bisa bertemu bahkan duet dalam lagu “I Have a Dream”. Selalu aku bergumam aku bisa nggak ya seperti itu? 

Itulah mimpiku saat itu. Hingga saat ini….ummmm sepertinya masih dalam proses perwujudannya. Kalau patokan yang digunakan adalah Sherina sepertinya terlalu tinggi deh. Bukanya minder sih, cuman ya banyak perbedaan diantara kami. Yang palinh mencolok sih dia bisa nyanyi sedangkan aku baru bisa nembang Jawa dengan suara yang tidak istimewa. Setidaknya itu yang dikatakan dosenku dulu. 

Meskipun demikian aku tetap kok berkeinginan untuk menjadi seseorang yang dikenal seperti Sherina dengan bakat yang berbeda tentunya. Karena untuk dijalur yang sama sepertinya sulit.
Kalau dipikir-pikir, aku itu orangnya pemalu, pemalu banget. Sejak aku kecil. Tapi entah kenapa keinginan untuk menjadi sosok yang dikenal orang banyak itu selalu muncul. Dengan kata lain banci tampil, kalau di luar keluarga. Acara sekolah sejak SMP hingga jadi gurunya anak SMP (sekarang ini) seneng banget kalau tampil di depan. Entah jadi MC, pemateri, karaoke (meski modal suara parau), atau hanya sekadar mengisi kekosongan. Tapi kalau udah ngumpul keluarga besar, 180 derajat berubahnya. Aku jadi sosok yang diem, kalem, dan nggak macem-macem. Entah, padahalkan keluarga orang-orang terdekat harusnya bisa lebih PD tampil dihadapan mereka. Kenyataan berkata lain.

Ok, balik ke Sherina lagi. Selain dia tadi disebutkan bersuara emas, dia juga menjadi sosok siswa yang cerdas panutan seluruh siswa se-Indonesia mungkin. Kemampuan berbahasa Inggrisnya waktu itu bikin aku ngiri. Sampai sekarang aja aku belum begitu mahir bahasa Inggrisnya. Nah, Sherina sejak 5 tahun udah belajar “Hoe are you? What’s Youre name? and bla, bla, bla,,,,,,” keren deh orang itu.
Bisa nggak sih aku menyamainya? Dengan bakat yang berbeda tentunya. Satu-satunya bakat yang sedang aku asah saat ini adalah menulis (sebenernya sih ngetik) terinspirasi juga sih dari Raditya Dika. Pengen terkenal juga seperti dia. Yahhhh, masih dalam proses perwujudan. Eh, eh, eh sebentar Sherina dan Radit kan dulu pernah pacaran ya? Ini bukan berarti lantaran mereka dulu punya hubungan kemudian aku mengidolakan mereka semua lho ya… jauh sebelum aku tahu bakal ada penulis gokil seperti Radit, aku udah kenal sama Sherina. 

Apapun itu, yang jelas mimpiku masih sama. Ingin menjadi seseorang yang dikenal oleh orang banyak dengan bakatku tentunya. Menulis. Mohon doanya ya, semoga di 2015 semuanya bisa terwujud. Amiin.

Sabtu, 27 Desember 2014

Tentang Eskrim

ilustrasi
Pun akhirnya air itu tumpah juga dari langit. Memandanginya dari balik jendela dengan sebuah eskrim di tangan merupakan sebuah cara tepat (menurutku) untuk menikmati keindahan yang disuguhkan oleh Yang Maha Kuasa siang ini.

Lalu mengapa eskrim? Bukankah teh hangat atau kopi lebih pas disruput dalam kondisi hujan seperti ini? Bagi sebagian orang mungkin iya, namun bagiku tetap eskrim yang nomor satu. Hahaha, bukan berarti aku mempromokan sebuah produk eskrim lho ya. Hanya sekadar mengagumi cita rasa dan sensasi dalam sebuah eskrim.

Apa nggak malah tambah dingin? Iya sih, di luar udaranya dingin. Tapi pernah nggak sih kamu mendengar tentang orang kutub yang tinggal di iglo (sebuah rumah yang terbuat dari tumpukan balok es) dan mereka bisa bertahan hidup. Biarpun di luar udaranya dingin tapi jika berada di dalam ruangan biarpun ruangan itu terbuat dari balok es, akan terasa lebih hangat. Aku tahu nggak ada hubungannya sih teori orang kutub dan iglonya tadi dengan pilihanku kepada eskrim untuk menikmati hujan. Intinya aku menikmati keduanya.

Eskrim bisa menengkan (sekali lagi ini menurutku), tak bisa tertampikkan hal itu. Bahkan dalam situasi hujan seperti ini. Mungkin lantaran ada kandungan susu dan coklat di dalamnya sehingga merangsang diproduksinya semacam hormon-hormon (yang aku nggak tahu namanya apa) yang dapat mendatangkan sensasi tenang dan tentram. Teori ngacoku barusan memang belum teruji klinis dari manapun, jadi jangan begitu saja dipercaya ya.  

Sekalipun eskrim dapat menengakan dan menjadikan hati tentram (walau sesaat) namun, eskrim tak bisa begitu saja menyelesaikan masalah. Es krim hanya pengalih perhatian sesaat dari beban masalah yang dihadapi oleh seseorang. Semanis apapun eskrim itu, senikmat apapun eskrim itu lambat laun akan habis juga. Kecuali kalau kamu punya persediaan yang begitu banyak. Lagi pula kalau kamu kebanyakan mengkonsumsinya malah kesehatan mu yang akan terganggu.

Iya, hanya pengalih perhatian. Dengan cita rasanya yang legit dan sensasi dinginnya, setidaknya dalam 10 menit beban masalah kita sedikit terlupakan. Memang setelah semuanya habis, setelah manisnya tak terasa lagi, atau setelah dinginnya tak terkecap lagi, kita akan kembali dihadapkan dengan masalah tadi. Tapi percadeh disaat itu akan muncul sudut pandang yang berbeda dalam memandang masalah tadi, karena kita sudah sedikit ditenangkan oleh eskrim.

Senin, 08 Desember 2014

Unforgettable

Calon Penulis dan Penulis
Hari ulang tahun adalah hari yang membahagiakan –Kalau pada inget. Begitu juga dengan 7 Desember 2014 kemarin. Seneng sih dapet kado dari murid sehari sebelum hari H, alasannya karena tanggal 7 itu hari minggu jadi bakalan nggak sempet ngasih. Trus pas hari H, pagi-pagi di sodorin sekardus es krim Magnum mini sama ponakanku. Huhuhuhu, gendut-gendut deh. Tapi nggak apa-apa seneng kok.
Selain seneng karena orang-orang disekitarku pada inget hari ulang tahunku, ada satu kenyataan yang sebetulnya agak berat tapi mau nggak mau ya harus diterima. Apa itu? Umurku sekarang 24 tahun. Wihhhh, udah 24 aja nih tuh angka.
Waktu masih anak-anak atau pas abg hari ulang tahun adalah hari yang sangat ditunggu. Hari merasakan ge-er sepanjang hari. Bakal disurpresin nggak ya? Bakal disurpresin nggak ya? Hehehehe dan pastinya juga ingin dirayain. Namun, akan tiba masanya di mana kita tak lagi ingin merayakan uang tahun. Nah, kayaknya aku udah mulai nih masuk ke masa itu. Sengaja sehari sebelum ultahku, tanggal kelahiran di fb aku sembunyiin. Tujuannya simpel sih biar nggak ngrepotin orang buat nulis ucapan di kronologiku. Atau biar nggak pada malak PU (Pajak Ultah). Hahaha, biarlah yang benar-benar tahu aja yang ngucapin.
Sebuah kado terindah adalah di hari itu aku bisa mengikuti seminar talk show bersama idolaku. Raditya Dika. Sebuah pengalaman tak terlupakan aku bisa melihat Bang Radit secara nyata dengan mata kepalaku sendiri. Satu fakta yang aku yakini saat itu, Bang Radit beneran pendek. Ups!!! Aku kira itu Cuma mitos tapi ternyata beneran. Tingginya sama kaya aku 160 cm. Tapi bukan itu intinya, melainkan ilmu yang berbalut keceriaan yang beliau bagi hari itu sungguh mengesankan.
Apalagi ketika aku bisa berinteraksi dengannya, wawwww sungguh momen yang tak terlupakan bagiku. Kalau bagi Bang Radit mah, selesai acara pasti juga udah lupa. Bayangin aja, aku adalah 1 dari 8 juta lebih followernya di Twitter. Sesering apapun mention aku, seaneh apapun mention aku, bahkan secepat apapun mention aku belum pernah dibalas sama sekali. Jadi mikir jangan-jangan ada kriteria khusus supaya mentionnya dibales. Tapi saat itu aku berkesempatan bertanya kepadanya pertanyaanku seperti ini “Bang bagaimana sih supaya kita dapat menemukan gaya kita sendiri dalam menulis? Maksudnya biar nggak mirip dengan penulis idola kita” bersyukur Bang Radit bersedia menjawab pertanyaanku dengan gambling tentunya dengan diselipi humor-humor segar yang nggak bikin ngantuk. Keren deh pokoknya. Dia bilang begini “Tulisan adalah perjalanan panjang dari pembaca, intinya kamu harus lebih banyak membaca buku dari penulis-penulis yang berbeda sehingga kamu bisa mengolah gaya-gaya mereka menjadi satu yang akhirnya itulah gaya tulisan kamu”
Nggak cuman Tanya jawab doang lho, aku sempet kok ngecengin Bang Radit. Waktu aku nyebutin nama Bang Radit langsung motong “Nikken ya? Nikken itu kaya nama gebetan gue waktu SMP, kalau cantiknya jauh lah” semua orang ketawa denger itu, nggak usah nunggu lama langsung aja aku bales “Pas itu Bang Radit SMP ya, wah berarti saya baru masuk SD itu Bang” ketawa peserta seminar semakin keras, di tambah lagi Bang Radit bilang “Oh, makasih ya udah ngingetin umur gue” Hahahahahaha pengalaman tak terlupakan deh, idola yang hanya bisa aku lihat di TV (itu pun jarang sebetulnya), yang hanya bisa aku baca bukunya, atau yang hanya bisa di tonton di You tube, hari itu aku bisa becandaan sama dia waaawwww… amazing.
Merasa bangga juga saat itu aku disebutnya “Calon Penulis” di depan ratusan peserta seminar.
“….nanti pulang dari sini kalo Nikken nulis pasti tulisannya jelek, gue jamin itu. Lalu kapan tulisannya bakal bagus? Kalau dia mau memperbaiki yang kurang bagus, mengedit yang kurang sesuai sehingga menjadi tulisan yang bagus….”
“….ini juga berlaku ya untuk Nikken sebagai calon penulis. Jadi materi stand up atau tulisan kamu harus berasal dari kegelisahan-kegelisahan kamu yang orang lain juga sebetulnya ngerasain juga tapi kamu bawakan dengan fersi kamu….”
Itu beberapa kutipannya, sebenere ada lagi sih, tapi redaksionalnya aku lupa. Intinya sangat membangun dan menjadikanku ingin terus terus dan terus menulis. Hingga suatu hari nanti Bang Radit menyebutku sebagi Penulis.
Sehabis talk show-nya selesai ada sesi foto bareng. Aku termasuk yang berkesempatan berfoto bersama sekaligus minta tanda tangan. Seneng banget dweeeehhhhh…. Sambil nunggu antrian aku perhatiin Bang Radit, kayane dia lagi capek deh senyumnya dari tadi kaya gitu mulu trus beberapa kali dia memijat pangkal hidungnya, pasti lagi pusing. Hemmm, biarpun lagi nggak fit gitu tetep bisa ngehibur orang dan berbagi ilmu. Orang keren. Selesai berfoto kami berjabat tangan. Dalam jabat tangan Bang Radit hanya menyodorkan tangannya saja tanpa mencoba menggenggam tanganku. Ummm, mungkin karena dia lagi pusing kali ya, jadi sebenere pengen segera cepet-cepet selesai. Tap tak apalah, kelak 2 tahun lagi justru Bang Radit lah yang akan menggenggam tanganku dengan mantap karena saat itu kami ada dalam sebuah kerja sama, apapun itu. InsyaAllah.
Tunggu gue Bang 2 tahun lagi.

Jumat, 14 November 2014

Rindu Siaga


“Bunda Nikken!!!”
Seruan dari beberapa anak Pramuka Siaga, sesaat setelah mereka menyadari kehadiranku disekolah mereka. Sudah lama sekali aku meninggalkan mereka tapi masih saja ingat denganku, bahagianya.
Dulu, sebelum aku disibukkan dengan tanggung jawab di tempat lain, setiap hari Jumat sore selalu aku mengunjungi mereka, iya berpramuka bersama. Saat itu juga, seruan yang sama selalu aku dengarkan setiap sepeda montorku mulai memasuki lapangan mereka. Belum juga sarung tangan dan helm aku lepas mereka sudah bergrombol saja mereka berebut ingin bersalaman.  Hal ini juga lah, yang sering membuatku rindu dengan anak-anak Siaga ini.

Sore ini pun begitu. Kebetulan ada waktu, ah coba mampir. Sempat aku ragu apakah mereka masih ingat dengan Bundanya yang dulu sering  nitip jajan, Bundanya yang kadang uring-uringan kalau nggak bisa nangani anak-anaknya, dan Bundanya yang paling suka nyuruh mereka untuk main dan jajan. Hahahaha, bunda yang aneh.

Jumat, 10 Oktober 2014

Just a Friend

Menunggu
“Hallooo!!! Mel? Kamu di mana?”
“Di rumah, ada apa Jun?”
“Temenin aku pergi ya, ini aku udah di jalan lima menit lagi sampai rumah kamu, kamu siap-siap!!!”
“Tapi…bentar dulu Jun…..”
“Tuuuuuut, tuuutttt, tuuuuutttt…”
Kebiasan deh ini anak, semaunya sendiri. Nggak tahu apa kalau sore ini aku udah ada rencana. Huh!!
Itu tadi Arjuna, sahabatku sejak SMP. Orangnya baik, care sama temen, humoris, gampang bergaul, lumayan cakep juga sih hehehehe, yaaa pokoknya baiklah. Beruntung aku bisa jadi sahabatnya, tapi satu yang sering bikin aku sebel. Ya seperti itu tadi, suka seenaknya. Minta tolong tapi nggak lihat-lihat kondisi orang yang mau dimintai tolong. Cuman, entah mengapa aku selalu nggak bisa nolak apapun ajakan dari dia.
Nah, itu dia sudah nyampe. Jangan ditanya aku tahu dari mana? Aku udah belasan tahun sahabat sama dia, jadi udah hapal banget deh bau-baunya biarpun jaraknya sekilometer jauhnya. Hahahahaha, ngarang!
“Mellaaaa!!!!!” Juna berteriak. Ini adalah kebiasaan setiap kali kita bertemu. Biarpun berisik dan malu-maluin kalo dilihat orang, kadang aku juga kangen dengan teriakan ini.
“Ada apa?”
“Ayo Mel, temenin aku yuk, ada hal penting nih, dan sepertinya Cuma kamu yang bisa nolongin aku” Kebiasaan deh, ini anak kalau ngerayu sambil ngedip-ngedipin mata sok manis. Kalau udah kaya gini apapun yang aku katakan untuk menolak nggak bakal mempan.
“Iya deh, iya… bentar aku ambil tas dulu”
“Yeee, makasih Mela. Kamu memang sahabat aku yang paling baik”
Biarpun kadang seperti anak-anak tapi sejatinya dia dewasa banget. Kalau aku ada masalah apapun itu, dia adalah orang pertama yang pasang badan buat aku dan selalu ngasih solusi-solusi yang bijak, dan terbukti kok solusi dari dia selalu tepat. Sahabatku satu ini memang the best banget, makanya aku sayang banget sama dia.
---
Sekarang aku udah di atas motor, dibonceng Juna. Aku belum tahu bakal bawa kemana dan belum tahu juga bakal dimintai tolong apa sama Juna di sana. Selama perjalanan nggak ada hentinya deh ini orang cerita, dan selalu ceritanya berhasil membuatku tertawa. Apapun ceritanya kalau yang cerita si Juna pasti jadinya lucu. Dia memang paling bisa ngilangin bosenku.
“Jadi mau kemana kita trus mau ngapain?” tanyaku sedikit penasaran.
“Ehmmmm, jadi gini Mel, 3 hari lagi kan Selly ultah” Selly adalah pacarnya Juna. Udah setahun ini mereka pacaran.
Aneh rasanya mendengar nama itu tiba-tiba rasanya beda. Ada sesuatu yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Yahhh, pokoknya gitu deh, senyumpun akhirnya agak berat. Misalnya di transliterasi jadinya paling gini $%$#@(*&*^%jhftdfstyf(*&*&567vfdr......dst ehhehehehe begitulah.